Ilustrasi: Freepik
Daftar Jurusan Kuliah yang Lulusannya Paling Banyak Menganggur, Antropologi Teratas
Riza Aslam Khaeron • 9 September 2026 22:17
Jakarta: Memilih jurusan kuliah menjadi salah satu keputusan penting bagi mahasiswa karena berkaitan dengan bidang yang akan dipelajari selama masa pendidikan. Pilihan tersebut juga sering dipertimbangkan berdasarkan minat, kemampuan, serta peluang pekerjaan setelah menyelesaikan studi.
Setiap bidang pendidikan memiliki karakteristik dan kebutuhan tenaga kerja yang berbeda. Kondisi pasar kerja juga dapat berubah mengikuti perkembangan industri, kebutuhan perusahaan, serta keterampilan yang banyak dicari.
Oleh karena itu, mahasiswa tidak hanya perlu mempertimbangkan jurusan yang sesuai dengan minat, tetapi juga memahami kondisi dunia kerja. Kemampuan tambahan yang dapat digunakan di berbagai bidang juga bisa menjadi bekal ketika memasuki dunia profesional.
Data Federal Reserve Bank of New York menunjukkan adanya perbedaan tingkat pengangguran berdasarkan jurusan yang ditempuh lulusan. Berikut daftar jurusan dengan tingkat pengangguran tertinggi dan beberapa faktor yang dapat memengaruhi peluang kerja setelah lulus.
Daftar Jurusan dengan Tingkat Pengangguran Tertinggi

Ilustrasi: Freepik
Data Federal Reserve Bank of New York mencatat sejumlah jurusan memiliki persentase pengangguran lulusan yang cukup tinggi. Berikut jurusan dengan tingkat pengangguran tertinggi:
- Antropologi: 7,9 persen
- Teknik komputer: 7,8 persen
- Seni rupa: 7,7 persen
- Seni pertunjukan: 7,0 persen
- Ilmu komputer: 7,0 persen
- Arsitektur: 6,8 persen
Perbedaan angka tersebut memperlihatkan kondisi peluang kerja yang tidak sama pada setiap bidang pendidikan. Meski begitu, tingkat pengangguran juga dapat dipengaruhi oleh kebutuhan industri dan keterampilan yang dimiliki masing-masing lulusan.
Mengapa Ada Jurusan yang Sulit Mendapat Kerja?
Kesulitan lulusan perguruan tinggi dalam mendapatkan pekerjaan dapat dipengaruhi oleh beberapa faktor. Kesesuaian keterampilan, proses perekrutan, pilihan jurusan, dan persaingan menjadi beberapa hal yang perlu diperhatikan.1. Pengalaman dan Keterampilan Kerja yang Dibutuhkan Tidak Sesuai
Kepala analis ThinkWhy dan pencipta LaborIQ, Jay Denton, mengatakan sebagian lulusan menghadapi ketidaksesuaian antara pengalaman dan keterampilan yang dimiliki dengan kebutuhan perusahaan. Kondisi ini membuat perusahaan cenderung mencari kandidat yang sudah memiliki pengalaman di bidang terkait.“Saat ini ada sekitar 9,2 juta pekerjaan terbuka di negara ini dan sayangnya ada ketidakcocokan. Beberapa keterampilan adalah ketidakcocokan pengalaman,” kata Denton.
2. Sistem Perekrutan
Kemudahan melamar pekerjaan secara daring membuat perusahaan menerima banyak lamaran dalam waktu bersamaan. Perekrut harus menyaring ratusan resume dengan cepat sehingga tidak semua pelamar dapat masuk ke tahap berikutnya.Selain itu, perusahaan sering mencari kandidat yang sudah memiliki pengalaman kerja. Kondisi ini membuat lulusan baru harus bersaing dengan pencari kerja yang memiliki pengalaman lebih banyak.
3. Penyesalan terhadap Jurusan
Sebagian lulusan menyadari bahwa jurusan yang dipilih saat kuliah tidak sesuai dengan minat atau kemampuan mereka. Pilihan yang hanya didasarkan pada gaji dan peluang karier juga belum tentu cocok dengan keterampilan yang dimiliki.Ketidaksesuaian tersebut dapat membuat lulusan kesulitan menentukan pekerjaan yang ingin dikejar setelah lulus. Akibatnya, proses mencari pekerjaan bisa menjadi lebih panjang.
4. Persaingan Kerja di Tingkat Pemula
Pekerjaan tingkat pemula kini semakin kompetitif karena perusahaan tidak selalu mencari kandidat tanpa pengalaman. Mahasiswa yang sudah memiliki pengalaman magang atau koneksi sejak kuliah dapat memiliki keunggulan saat mencari pekerjaan pertama.Profesor ekonomi Universitas Auburn, Alan Seals, menilai pengalaman pada awal memasuki dunia kerja dapat memengaruhi perkembangan karier seseorang. Menurutnya, kualitas perusahaan pertama menjadi salah satu hal yang penting untuk menentukan langkah karier berikutnya.
“Waktu terpenting dalam karier Anda adalah tiga tahun pertama. Kualitas perusahaan pertama Anda sangat penting,” kata Seals.
Seals juga melihat pengalaman magang semakin umum di kalangan mahasiswa. Banyak mahasiswa bahkan mulai mencari magang sejak tahun pertama kuliah untuk menambah pengalaman sebelum lulus.
“Magang sekarang adalah level awal. Sebagian besar mahasiswa di perguruan tinggi melakukan atau mencoba melakukan magang, dan sekarang semakin umum untuk melakukan lebih dari satu,” ungkapnya.
Persaingan bagi pekerja baru tidak hanya dipengaruhi pengalaman, tetapi juga perubahan teknologi di dunia kerja. CEO Avenica, Scott Dettman, mengatakan otomatisasi membuat sejumlah pekerjaan yang sebelumnya menjadi posisi awal semakin berkurang.
“Banyak hal yang diklasifikasikan sebagai level pemula 30 tahun lalu telah hilang karena otomatisasi,” ucap Dettman.
Menurut Dettman, perkembangan teknologi memungkinkan perusahaan menyelesaikan lebih banyak pekerjaan dengan jumlah pekerja yang lebih sedikit. Perubahan tersebut membuat kesempatan bagi lulusan baru untuk mendapatkan pekerjaan tingkat pemula menjadi semakin terbatas.
“Ini peningkatan pengoptimalan yang sangat besar. Kami dapat melakukan lebih banyak hal dengan lebih sedikit,” tambahnya.
Kondisi tersebut membuat lulusan baru perlu menghadapi persaingan yang lebih ketat saat mencari pekerjaan pertama. Dettman menyebut 43 persen lulusan perguruan tinggi tidak mendapatkan pekerjaan setingkat pendidikan mereka pada pekerjaan pertama setelah lulus.
“Studi yang sama menunjukkan bahwa sekitar dua pertiga dari orang-orang itu setengah menganggur selama lima tahun ke depan,” tuturnya.
Cara Lulusan Meningkatkan Peluang Kerja
Lulusan dari jurusan dengan tingkat pengangguran tinggi perlu lebih terbuka dalam mencari pekerjaan. Salah satu caranya dengan mengembangkan keterampilan yang dapat digunakan di berbagai posisi dan bidang industri.Editor tren dunia kerja di Indeed, Priya Rathod, mengatakan lulusan perlu memiliki kemampuan yang bisa diterapkan dalam berbagai pekerjaan. Keterampilan tersebut dapat membantu mereka menyesuaikan diri dengan kebutuhan perusahaan.
“Pikirkan kemampuan komunikasi, pemecahan masalah, manajemen proyek, atau layanan pelanggan.”
Kemampuan tersebut dapat menjadi bekal tambahan bagi lulusan baru saat memasuki dunia kerja. Keterampilan yang bersifat umum juga dapat membuka peluang ketika melamar pekerjaan di luar bidang utama yang dipelajari selama kuliah.
(Angel Rinella)