BMKG Deteksi Potensi Awan Cumulonimbus 10-16 September, Cek Daftar Wilayahnya

Ilustrasi. Dok Metrotvnews.com

BMKG Deteksi Potensi Awan Cumulonimbus 10-16 September, Cek Daftar Wilayahnya

9 September 2026 15:20

Jakarta: Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memprakirakan potensi pertumbuhan awan Cumulonimbus di sejumlah wilayah Indonesia pada periode 10-16 September 2026. Awan tersebut dapat muncul dengan cakupan wilayah yang berbeda, mulai kurang dari 50 persen hingga lebih 75 persen.

Dalam prakiraan tersebut, Samudra Hindia di sebelah barat Aceh masuk dalam kategori  berpotensi pertumbuhan awan Cumulonimbus paling tinggi. Sementara itu, sejumlah wilayah lain di Sumatra, Jawa, Kalimantan, Sulawesi, hingga Papua berada dalam kategori Occasional atau memiliki cakupan 50-75 persen.

Informasi potensi pertumbuhan awan Cumulonimbus ini merupakan bagian dari produk prakiraan cuaca penerbangan. Data tersebut digunakan untuk memberikan gambaran mengenai sebaran pertumbuhan awan Cumulonimbus di wilayah Indonesia hingga tujuh hari ke depan.

BMKG membagi potensi pertumbuhan awan Cumulonimbus menjadi tiga kategori berdasarkan persentase cakupan wilayah. Berikut jadwal dan wilayah yang diprakirakan memiliki potensi pertumbuhan awan Cumulonimbus pada periode tersebut.

Jadwal Potensi Awan Cumulonimbus 10-16 September 2026

Berdasarkan data prakiraan, kategori FRQ atau Frequent diperkirakan terjadi di Samudra Hindia barat Aceh. Kategori ini menunjukkan cakupan spasial awan Cumulonimbus lebih dari 75 persen.

FRQ/Frequent (>75 persen)

Awan Cumulonimbus dengan cakupan spasial lebih dari 75 persen diprakirakan berada di:
  • Samudra Hindia barat Aceh

OCNL/Occasional (50-75 persen)

Sementara itu, kategori OCNL atau Occasional diprakirakan muncul di sejumlah wilayah dengan cakupan spasial maksimum 50-75 persen. Wilayah tersebut tersebar dari bagian barat Indonesia hingga kawasan Papua dan perairan di sekitarnya.

Potensi pertumbuhan awan Cumulonimbus dengan cakupan spasial 50-75 persen diprakirakan terjadi di:
  1. Aceh
  2. Bengkulu
  3. Jambi
  4. Jawa Barat
  5. Kalimantan Barat
  6. Kalimantan Tengah
  7. Kalimantan Timur
  8. Kalimantan Utara
  9. Laut Natuna Utara
  10. Laut Sulawesi bagian timur
  11. Papua
  12. Papua Pegunungan
  13. Papua Tengah
  14. Riau
  15. Samudra Hindia barat Aceh
  16. Samudra Hindia barat Kepulauan Mentawai
  17. Samudra Hindia barat Kepulauan Nias
  18. Samudra Pasifik utara Papua
  19. Samudra Pasifik utara Papua Barat Daya
  20. Selat Malaka bagian tengah
  21. Selat Malaka bagian utara
  22. Sulawesi Barat
  23. Sumatera Barat
  24. Sumatera Selatan
  25. Sumatera Utara

Ilustrasi. Dok Antara.

Kategori Potensi Pertumbuhan Awan Cumulonimbus

Produk prakiraan ini dihasilkan melalui model cuaca numerik untuk memperkirakan sebaran pertumbuhan awan Cumulonimbus di wilayah Indonesia. Informasi tersebut berlaku untuk periode tujuh hari ke depan dan dapat digunakan sebagai salah satu informasi pendukung dalam prakiraan cuaca penerbangan.

BMKG menampilkan tiga kategori berdasarkan persentase cakupan spasial maksimum. Masing-masing kategori menggambarkan seberapa luas wilayah yang berpotensi tertutup awan Cumulonimbus.

1. ISOL CB (Isolated Cumulonimbus)

Kategori ISOL CB menunjukkan adanya awan Cumulonimbus dengan cakupan area kurang dari 50 persen. Artinya, pertumbuhan awan tersebut diprakirakan hanya terjadi pada sebagian kecil wilayah.

2. OCNL CB (Occasional Cumulonimbus)

Kategori OCNL CB menunjukkan potensi awan Cumulonimbus dengan cakupan area sekitar 50-75 persen. Dalam prakiraan ini, kategori tersebut mencakup 25 wilayah daratan dan perairan yang tersebar di Indonesia.

3. FRQ CB (Frequent Cumulonimbus)

Kategori FRQ CB merupakan tingkat dengan cakupan spasial paling luas karena mencapai lebih dari 75 persen. Pada periode prakiraan ini, wilayah yang masuk kategori tersebut adalah Samudra Hindia barat Aceh.

(Angel Rinella)

(Arga Sumantri)