Angin Kencang Picu Karhutla Kembali Muncul di Perbukitan Probolinggo

Arsip - Tim gabungan BPBD Muara Enim memadamkan karhutla di Desa Suka Maju, Kecamatan Sungai Rotan. ANTARA/HO/BPBD Muara Enim

Angin Kencang Picu Karhutla Kembali Muncul di Perbukitan Probolinggo

Silvana Febiari • 28 July 2026 20:10

Probolinggo: Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) memastikan penanganan dilakukan setelah menerima laporan titik api kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di kawasan perbukitan Kabupaten Probolinggo, Jawa Timur, kembali muncul. Api kembali terlihat menyala akibat hembusan angin kencang.

Kepala Pusat Data, Informasi, dan Komunikasi Kebencanaan BNPB Abdul Muhari mengatakan dinamika cuaca dan kondisi vegetasi kering menjadi pemicu utama kembali munculnya kobaran api di lokasi tersebut.

"Hembusan angin membawa bara api yang dengan cepat menyulut daun, rumput, dan serasah kering di sekitar area perbukitan," kata Abdul, dilansir dari Antara, Selasa, 28 Juli 2026. 
 


Peristiwa karhutla tersebut awalnya melanda kawasan hutan Perum Perhutani seluas empat hektare di Desa Sapikerep, Kecamatan Sukapura, sejak Sabtu dini hari, 25 Juli 2026.

Direktorat Pengendalian Operasi BNPB menyebut lokasi lahan terdampak berada di Dusun III Ngelosari RT 18/04. Kawasan tersebut merupakan wilayah perbukitan dengan kondisi topografi yang terjal.

"Dilaporkan tim gabungan dari BPBD Kabupaten Probolinggo dan BPBD Provinsi Jawa Timur disiapkan ke lokasi untuk memadamkan api melalui jalur darat," ungkap dia.


Ilustrasi-Pemadaman kebakaran semak belukar dan limbah kain di kawasan Gunung Paseban, Kabupaten Bandung, Jawa Barat (istimewa).


Menurut Abdul, tantangan utama petugas dalam proses pemadaman adalah akses menuju lokasi kebakaran. Titik api berada di kawasan perbukitan yang jauh, dengan medan terjal sehingga sulit dijangkau kendaraan.

BNPB memastikan akan terus berkoordinasi dengan petugas daerah untuk mengoptimalkan proses lokalisasi dan pemadaman api di Sukapura, Probolinggo. Langkah ini dilakukan agar kebakaran tidak meluas ke wilayah lain.

(Silvana Febiari)