Ilustrasi Pexels
Mengenal Varian Baru Covid-19 Cicada, Berpotensi Menyebar di Indonesia
Muhamad Marup • 1 April 2026 16:34
Jakarta: Covid-19 BA.3.2 atau Cicada merupakan Covid-19 varian baru yang telah ditemukan di lebih dari 23 negara. Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) mulai melacak Covid-19 Cicada ini di dunia sejak Desember 2025 dan sekarang sudah masuk dalam kategori Variant Under Monitoring (VUM).
Epidemiolog dan Ahli Kesehatan Lingkungan, Dicky Budiman, mengatakan, Covid-19 berpotensi menyebar di Indonesia. Menurutnya, bukan tidak mungkin varian tersebut sudah menyebar saat ini.
"Indonesia surveillance genomic-nya masih terbatas, ya tentu kita tidak bisa berbicara data spesifiknya, ya. Tapi kalau masuk ke Indonesia sudah sangat mungkin BA 3.2 ini atau bahkan menyebar sebetulnya," ujar Dicky kepada Metrotvnews.com, Rabu, 1 April 2026.
Dia menjelaskan, potensi penyebaran dilihat dari mobilitas internasional yang tinggi. Selain itu, momen lebaran juga membuat mobilitas masyarakat sangat tinggi.
"Saya kira saya sudah bisa prediksi beberapa kasus infeksi seluruh nafas saat ini dengan ditandai dengan demam, nyeri tenggorokan atau ada batuk pilek itu, kemungkinan juga Covid-nya generasi terbaru," jelasnya.
Karakter Covid-19 Cicada
Dicky menjelaskan, meski belum berstatus Variant of Concern, Covid-19 Cicada tetap punya potensi epidemiologis yang signifikan. Varian tersebut memiliki sekitar 75 mutasi spike protein dengan karakter yang khas dan bisa menghindari antibodi dari infeksi atau vaksin sebelumnya.
Selain itu, lanjut dia, ada potensi peningkatan transmissibility. Perubahan pada furin cleavage site juga meningkatkan kemampuan virus masuk tubuh.
"Jadi, yang perlu disadari ya ini bukan lebih mematikan, tapi ya lebih kayak belut lah, licin gitu ya, secara imunologis gitu," katanya.
.jpeg)
Ilustrasi Swab Test. Foto Pexels
Gejala Covid-19 Cicada
Dicky menilai, gejala Covid-19 Cicada tidak jauh berbeda dengan Covid-19 sebelumnya seperti tenggorokan berat, demam, batuk kering, dan lain sebagainya. Menurutnya, belum ada bukti peningkatan pneumonia berat maupun peningkatan kasus fatality rate-nya atau kematian.
Dia menambahkan, risiko kesehatan untuk varian tersebut tidak berpotensi menjadi lonjakan kasus besar dan dampaknya bisa pulih sendiri dalam 3-5 hari. Menurutnya, minimnya gejala yang timbul karena saat ini masyarakat sudah memiliki kekebalan.
"Kita sudah punya (kekebalan), walaupun ini bisa tetap berdampak, tapi ya tidak akan selalu parah, karena punya imunitas saat ini," ucapnya.