Dolar AS Tertekan di Tengah Ancaman Tambahan Tarif Trump Negara Eropa

Dolar AS dan Euro. Foto: Xinhua/Zheng Huansong.

Dolar AS Tertekan di Tengah Ancaman Tambahan Tarif Trump Negara Eropa

Husen Miftahudin • 19 January 2026 08:11

Singapura: Dolar Amerika Serikat (AS) melemah pada perdagangan Senin di tengah kekhawatiran investor terhadap ancaman tambahan tarif Presiden AS Donald Trump terhadap Eropa terkait Greenland.

Ancaman tambahan tarif itu memunculkan ketidakpastian, sehingga para pelaku pasar keuangan berbondong-bondong membeli yen dan franc Swiss yang dianggap sebagai aset aman, dalam pergerakan luas yang menghindari risiko di seluruh pasar.

Mengutip Investing.com, Senin, 19 Januari 2026, indeks dolar sedikit turun di angka 99,17. Euro dan pound sterling awalnya runtuh sebelum akhirnya pulih saat hari perdagangan dimulai, karena investor menilai implikasi jangka panjang dari langkah terbaru Trump terhadap posisi dolar AS.

Hal itu membantu euro membalikkan kerugiannya dengan naik 0,17 persen menjadi USD1,1618. Sementara poundsterling Inggris juga pulih 0,1 persen menjadi USD1,3387.

Tren serupa juga terjadi ketika dolar AS merosot 0,24 persen terhadap franc Swiss yang dianggap sebagai aset aman menjadi 0,7989. Mata uang Negeri Paman Sam itu juga turun terhadap yen sebesar 0,31 persen menjadi 157,63 yen.

Di tempat lain, dolar Australia yang sensitif terhadap risiko, turun 0,12 persen menjadi USD0,6683, dengan penurunan tersebut dibatasi oleh pelemahan dolar secara luas. Dolar Selandia Baru naik 0,06 persen menjadi USD0,5755.
 

Baca juga: Dolar AS Masih Kinclong


(Dolar AS. Foto: Freepik)
 

Tarif impor tambahan untuk 8 negara Eropa


Trump mengatakan ia akan memberlakukan tarif impor tambahan sebesar 10 persen mulai 1 Februari untuk barang-barang dari Denmark, Norwegia, Swedia, Prancis, Jerman, Belanda, Finlandia, dan Inggris. Ancaman ini berlaku hingga AS diizinkan untuk membeli Greenland.

Negara-negara besar Uni Eropa langsung mengecam ancaman tarif terkait Greenland sebagai pemerasan. Prancis bahkan mengusulkan untuk menanggapi dengan serangkaian tindakan balasan ekonomi yang belum pernah diuji sebelumnya.

Para investor telah membuang dolar setelah pengumuman 'Hari Pembebasan' pada April 2025 lalu ketika Trump meluncurkan tarif besar-besaran terhadap dunia, yang memicu krisis kepercayaan pada aset AS.

"Meskipun Anda mungkin berpendapat tarif tersebut mengancam Eropa, pada kenyataannya, dolar-lah yang menanggung dampak terberatnya, karena saya pikir pasar memperhitungkan peningkatan premi risiko politik pada dolar AS," ungkap Kepala Riset Asia di ANZ Khoon Goh.

Jangan lupa ikuti update berita lainnya dan follow  akun
Google News Metrotvnews.com
(Husen Miftahudin)