Petugas gabungan saat melakukan penertiban tunawisma di Jalan Asia Afrika, Kota Bandung. (Dok/istimewa)
Jelang Libur Panjang, Pemkot Bandung Gercarkan Razia Tunawisma
Roni Kurniawan • 15 January 2026 17:21
Bandung: Dinas Sosial Kota Bandung akan mengintensifkan penanganan terhadap tunawisma, gelandangan, dan pengemis untuk menjaga ketertiban, kenyamanan, dan citra kota, terutama menjelang libur panjang. Hal ini penting mengingat pada libur Natal dan Tahun Baru sebelumnya, Bandung banyak diserbu tunawisma, khususnya di pusat kota.
Kepala Dinas Sosial Kota Bandung, Yorisa Sativa, mengatakan bahwa jumlah tunawisma di Kota Bandung menunjukkan peningkatan pada 2025 dibandingkan tahun sebelumnya. "Secara umum, tunawisma terbagi dalam tiga kategori, yakni gelandangan, pengemis, dan pemulung. Ketiganya mengalami kenaikan," kata Yorisa di Bandung, Kamis, 15 Januari 2026.
Berdasarkan data Dinsos Kota Bandung, jumlah gelandangan pada 2025 mencapai 156 jiwa, meningkat dari 113 jiwa pada 2024. Dari jumlah tersebut, sebanyak 129 jiwa telah dijangkau melalui Unit Social Response (USR), sementara 27 jiwa belum terjangkau.
Adapun jumlah pengemis tercatat sebanyak 223 jiwa, naik dari 188 jiwa pada tahun sebelumnya. Dari total tersebut, 184 jiwa telah mendapatkan penanganan. Sedangkan, pemulung tercatat sebanyak 57 jiwa, meningkat dari 41 jiwa pada 2024.
Yorisa menjelaskan, sebagian besar tunawisma di Kota Bandung berasal dari luar daerah. Untuk kategori gelandangan, sekitar 125 orang berasal dari luar Kota Bandung, sementara 31 orang lainnya merupakan warga setempat.
Daerah asal terbanyak antara lain Kabupaten Bandung, Garut, dan Bandung Barat. Pada 2025 tercatat sekitar 10 tunawisma bahkan berasal dari luar Pulau Jawa.
"Sebaran mereka berada di sekitar 16 sampai hampir 20 titik rawan, terutama di kawasan strategis dan pusat aktivitas kota," beber Yorisa.
Beberapa lokasi yang kerap menjadi titik keberadaan tunawisma antara lain Jalan Ir. H. Juanda, Jalan Merdeka, Taman Vanda, Jalan Riau–Lombok, Jalan Naripan–Tamblong, Taman Saparua, Taman Lalu Lintas, Simpang Lima–Asia Afrika, hingga kawasan Braga dan Cihampelas.
Menurut Yorisa, keberadaan tunawisma menimbulkan sejumlah persoalan. Mulai dari risiko kesehatan, gangguan ketertiban, keamanan, hingga menurunnya estetika kota. Selain itu, praktik mengemis secara memaksa juga kerap dikeluhkan masyarakat.
"Penertiban akan dilakukan mulai Jumat dini hari hingga Minggu, dilanjutkan patroli siang dan sore. Sasarannya gelandangan, pengemis, hingga manusia gerobak yang beraktivitas di ruang publik," kata Yorisa.

Petugas gabungan saat melakukan penertiban tunawisma di Jalan Asia Afrika, Kota Bandung. (Dok/istimewa)
Yorisa menegaskan, penanganan tidak berhenti pada penertiban. Tunawisma yang terjaring akan dibawa ke rumah singgah untuk menjalani rehabilitasi sosial dan bimbingan mental-spiritual selama tujuh hari.
"Setelah itu dilakukan asesmen lanjutan, apakah reunifikasi dengan keluarga, pemulangan ke daerah asal, atau dirujuk ke lembaga sosial sesuai kebutuhan," jelas Yorisa.
Khusus bagi tunawisma dari luar daerah, Dinsos akan berkoordinasi dengan dinas sosial kabupaten/kota maupun provinsi asal. Sebab, sebagian tunawisma kerap kembali ke jalan meski telah dibina, terutama karena faktor ekonomi.
"Kami akan menggencarkan sosialisasi bersama Diskominfo, ATCS, dan Satpol PP. Memberi di jalan justru memperpanjang persoalan," ungkap Yorisa.
Ia menambahkan, langkah beautifikasi ini juga ditujukan untuk mendukung sektor pariwisata, seiring meningkatnya kunjungan wisatawan pada momen libur panjang. “Kota Bandung harus tetap bersih, tertib, dan berkesan. Ini tanggung jawab bersama,” tutup Yorisa.