Malang: Penutupan empat pintu masuk kawasan wisata Gunung Bromo sejak Sabtu, 8 Agustus 2026, mulai berdampak terhadap aktivitas ekonomi pelaku wisata. Sejumlah pedagang dan pengelola penginapan mengaku mengalami penurunan pendapatan akibat berkurangnya jumlah wisatawan.
Penutupan tersebut dilakukan setelah kebakaran hebat melanda kawasan savana Bromo pada Sabtu malam. Kobaran api semakin meluas hingga menjalar ke kawasan Jalur Lingkar Kaldera Tengger (JLKT) dan Lembah Watangan.
Balai Besar Taman Nasional Bromo Tengger Semeru (TNBTS) kemudian menutup seluruh akses masuk wisata Gunung Bromo untuk sementara. Kebijakan tersebut diambil demi keselamatan wisatawan sekaligus memberikan ruang bagi petugas gabungan untuk melakukan pemadaman dan penanganan kebakaran.
Dua hari setelah penutupan, dampaknya mulai dirasakan langsung oleh pelaku usaha di sekitar kawasan wisata Bromo. Salah satunya terlihat di pintu masuk Cemoro Lawang, Kabupaten Probolinggo. Jika biasanya kawasan tersebut dipadati wisatawan, kini suasananya relatif sepi. Hanya terlihat beberapa wisatawan di sekitar lokasi.
Kondisi tersebut membuat pedagang makanan dan minuman ringan kehilangan pembeli. Widya, salah seorang pedagang yang biasa berjualan di sekitar pintu masuk Cemoro Lawang, mengaku omzetnya turun drastis sejak akses wisata ditutup.
"Omzet saya turun sekitar 70 persen. Biasanya ramai, sekarang sepi sekali," ujar Widya, Senin, 10 Agustus 2026.
Karena kondisi tersebut, Widya berencana menghentikan sementara aktivitas berjualan selama kawasan wisata ditutup. Ia memilih menghabiskan waktunya dengan bekerja di ladang dan menanam sayuran.
Dampak serupa juga dirasakan pelaku usaha penginapan. Supoyo, pemilik salah satu homestay di kawasan Bromo, mengatakan tingkat hunian kamar mengalami penurunan sejak penutupan akses wisata.

Menteri Kehutanan (Menhut) Raja Juli Antoni (kanan). Foto: Dok. Kemenhut.
Dari total 20 kamar yang tersedia, saat ini hanya sekitar 10 kamar yang masih terisi. Sementara 10 kamar lainnya dibatalkan oleh wisatawan yang sebelumnya telah melakukan pemesanan.
"Banyak yang batal datang. Kami berharap api segera padam agar wisata bisa kembali normal," ungkap Supoyo.
Kondisi ini membuat pelaku wisata berharap kebakaran di kawasan Savana Bromo segera berhasil dipadamkan. Dengan demikian, akses wisata dapat kembali dibuka dan aktivitas ekonomi masyarakat sekitar kembali berjalan normal.