Ilustrasi. Foto: Freepik.
Survei: Indonesia Hadapi Kesenjangan Kesiapan Pensiun
Ade Hapsari Lestarini • 14 February 2026 22:24
Jakarta: Survei terbaru Sun Life di Asia mengungkap Indonesia menghadapi kesenjangan kesiapan pensiun. Meski sebagian orang tetap bekerja di usia pensiun karena pilihan pribadi, sebagian lainnya melakukannya akibat tekanan kebutuhan finansial.
Indonesia tengah menghadapi perubahan demografi. Sekitar 30,9 juta penduduk berusia 60 tahun ke atas pada 2023 atau 11,1 persen dari total populasi, dan jumlah tersebut diproyeksikan meningkat menjadi 64,9 juta pada 2050 atau 20,5 persen populasi, berdasarkan data ESCAP 2023.
Survei bertajuk Retirement Reimagined: Asia’s Retirement Divide menunjukkan 77 persen responden memperkirakan akan tetap bekerja setelah mencapai usia pensiun.
Sebagian responden menyebut alasan nonfinansial, seperti rasa memiliki tujuan dan pemenuhan diri (48 persen), menjaga hubungan sosial (48 persen), serta stimulasi mental (36 persen). Namun, 71 persen responden menyatakan membutuhkan penghasilan tambahan untuk mendukung biaya hidup sehari-hari dan keamanan finansial jangka panjang.
Presiden Direktur Sun Life Indonesia Albertus Wiroyo mengatakan terdapat dua realitas berbeda dalam kesiapan pensiun masyarakat.
"Kami melihat dua realitas yang berbeda. Bagi mereka yang siap, bekerja lebih lama bisa menjadi pilihan yang menawarkan fleksibilitas dan kebebasan. Sementara bagi yang lain, bekerja lebih lama mencerminkan tekanan keuangan yang dihadapi. Merencanakan pensiun lebih awal dan secara menyeluruh adalah penentu realitas mana yang akan dijalani," ujar Albertus dalam keterangan tertulis, Sabtu, 14 Februari 2026.
Riset tersebut mengelompokkan responden ke dalam dua kategori, yakni Gold Star Planners yang siap secara finansial dan Stalled Starters yang menunda pensiun karena keterbatasan keuangan.
Sebanyak 48 persen Gold Star Planners menyatakan menantikan masa pensiun karena merasa aman secara finansial. Sebaliknya, 20 persen Stalled Starters mengaku merasa tidak pasti atau pesimistis. Di kelompok ini, 43 persen menunda pensiun untuk menutup biaya pendidikan atau kebutuhan hidup anak.

Ilustrasi. Foto: Freepik
Penggunaan generative AI
Survei juga mencatat perubahan perilaku dalam mencari informasi keuangan. Penggunaan generative AI seperti ChatGPT dan Google Gemini meningkat dari 13 persen menjadi 30 persen. Sementara itu, proporsi responden yang berkonsultasi dengan bank turun dari 40 persen pada 2024 menjadi 31 persen tahun ini, dan konsultasi dengan penasihat keuangan independen turun dari 44 persen menjadi 31 persen.
Albertus menilai AI dapat menjadi titik awal pencarian informasi, namun tidak sepenuhnya menggantikan peran nasihat profesional.
"AI bisa menjadi titik awal pencarian informasi, tetapi seringkali tidak memiliki konteks dan tingkat personalisasi yang dibutuhkan untuk keamanan finansial jangka panjang," kata dia.
Survei juga menunjukkan 24 persen responden tidak membuat rencana pensiun sama sekali, dan 34 persen baru menyusun rencana dalam dua tahun sebelum berhenti bekerja penuh waktu. Hanya 38 persen yang merasa sangat percaya diri terhadap rencana pensiun mereka.
Tekanan finansial juga dialami kelompok yang tergolong sandwich generation, yakni mereka yang menopang orang tua sekaligus anak. Sebanyak 40 persen menurunkan ekspektasi gaya hidup dan 23 persen menunda pensiun karena tanggung jawab keluarga.
Sementara dari sisi kesehatan, 58 persen responden yang semakin optimistis terhadap pensiun menyebut kondisi fisik lebih baik dari perkiraan, sementara 52 persen menyebut kesehatan mental. Namun, 22 persen responden yang berencana pensiun lebih awal menyatakan alasan kesehatan yang menurun.
"Kesehatan adalah bentuk kekayaan di masa pensiun. Perencanaan pensiun yang komprehensif membantu mewujudkan keamanan finansial dan kesejahteraan jangka panjang," ujar Albertus.