Dua Kapal LNG Qatar Kembali Melintasi Selat Hormuz, Aktivitas Pelayaran Mulai Pulih

Ilustrasi: Medcom.id

Dua Kapal LNG Qatar Kembali Melintasi Selat Hormuz, Aktivitas Pelayaran Mulai Pulih

Fajar Nugraha • 25 June 2026 23:38

Doha: Dua kapal tanker pengangkut gas alam cair (LNG) milik Qatar kembali melintasi Selat Hormuz pada Kamis, 25 Juni 2026 setelah kekhawatiran keamanan di jalur pelayaran strategis tersebut mereda menyusul pembicaraan damai antara Amerika Serikat (AS) dan Iran.

Kedua kapal, Bu Samra dan Patris, melintasi Selat Hormuz pada Kamis pagi setelah sempat tertahan selama berbulan-bulan di kawasan Teluk akibat konflik di Timur Tengah.

Bu Samra yang berbendera Kepulauan Marshall tercatat berlayar menuju kawasan Timur Jauh. Sementara itu, Patris yang berbendera Liberia belum mencantumkan tujuan pelayarannya.

Mengutip Anadolu, perdagangan LNG melalui Selat Hormuz sebelumnya mengalami penurunan tajam selama perang di Timur Tengah. Kondisi tersebut mengganggu ekspor LNG Qatar sekaligus berdampak terhadap sejumlah fasilitas energi di kawasan.

Aktivitas pelayaran mulai kembali meningkat setelah AS dan Iran pada awal bulan ini menandatangani nota kesepahaman yang bertujuan mengakhiri konflik.

Penyedia data maritim Kpler mencatat terdapat 31 penyeberangan terverifikasi oleh kapal komersial dan kapal yang terkait dengan sektor energi melalui Selat Hormuz pada 23 Juni.

Pulihnya lalu lintas kapal di jalur tersebut menjadi sinyal positif bagi perdagangan energi global mengingat Selat Hormuz merupakan salah satu rute pengiriman minyak dan LNG paling penting di dunia.

Sebelumnya, Bloomberg melaporkan Qatar tengah mempersiapkan peningkatan produksi LNG secara cepat setelah Selat Hormuz kembali aman untuk dilalui.

Menurut laporan tersebut, QatarEnergy telah memberi tahu para pembeli bahwa produksi LNG diperkirakan dapat kembali mencapai sekitar 50 persen dari kapasitas normal dalam satu bulan setelah pelayaran melalui Selat Hormuz benar-benar pulih.

Perusahaan itu juga memperkirakan kapasitas produksi dapat meningkat hingga sekitar 80 persen dalam waktu dua bulan setelah jalur pelayaran kembali beroperasi secara normal.

(Fajar Nugraha)