Tanamam mangrove sangat penting untuk lingkungan. Foto: BBC
Indonesia, Raksasa Karbon Dunia dengan Hutan Mangrove dan Gambut Terluas
Fajar Nugraha • 15 June 2026 10:50
Jakarta: Indonesia tidak hanya dikenal sebagai negara kepulauan terbesar di dunia, tetapi juga sebagai salah satu penyimpan karbon alami terbesar di planet ini.
Kekayaan hutan hujan tropis, lahan gambut, dan hutan mangrove menjadikan Indonesia memiliki peran penting dalam upaya global menghadapi perubahan iklim.
Dalam beberapa tahun terakhir, istilah "raksasa karbon dunia" semakin sering dikaitkan dengan Indonesia. Sebutan tersebut merujuk pada kemampuan ekosistem alam Indonesia menyimpan karbon dalam jumlah sangat besar sehingga berfungsi sebagai penyerap emisi karbon alami atau carbon sink.
Posisi ini membuat Indonesia menjadi salah satu negara yang mendapat perhatian internasional dalam berbagai forum iklim. Potensi karbon yang dimiliki Indonesia bahkan dinilai dapat mendukung pengurangan emisi global sekaligus membuka peluang pengembangan ekonomi hijau.
Hutan Mangrove dan Gambut Jadi Kekuatan Utama
Salah satu alasan Indonesia disebut sebagai raksasa karbon dunia adalah luasnya ekosistem mangrove dan lahan gambut. Menurut laporan World Economic Forum (WEF), Indonesia memiliki kawasan mangrove yang sangat luas dan mampu menyerap karbon empat hingga lima kali lebih banyak dibandingkan hutan tropis daratan. Penelitian lain menunjukkan Indonesia menyimpan sekitar seperempat hutan mangrove dunia. Ekosistem ini berfungsi menyerap karbon dari atmosfer dan menyimpannya dalam tanah serta vegetasi selama puluhan hingga ratusan tahun.
Selain mangrove, Indonesia juga memiliki sekitar 14 persen lahan gambut tropis dunia. Menurut laporan Mongabay News, lahan gambut dan mangrove Indonesia secara bersama-sama menyimpan sekitar 31,2 miliar ton karbon dioksida ekuivalen. Angka tersebut menunjukkan besarnya kontribusi Indonesia terhadap stabilitas iklim global.
Peran Strategis dalam Mitigasi Perubahan Iklim
Besarnya cadangan karbon membuat Indonesia memiliki posisi strategis dalam upaya mitigasi perubahan iklim. Pemerintah menargetkan sektor kehutanan dan penggunaan lahan dapat menjadi penyerap karbon bersih atau net carbon sink untuk membantu menurunkan emisi nasional.Indonesia juga mengembangkan perdagangan karbon dan proyek konservasi hutan, rehabilitasi mangrove, serta pemulihan lahan gambut sebagai bagian dari strategi ekonomi hijau. Potensi kredit karbon Indonesia bahkan disebut dapat mencapai miliaran ton karbon dioksida ekuivalen dalam beberapa dekade mendatang.
Namun, para ahli mengingatkan bahwa potensi tersebut harus diimbangi dengan perlindungan hutan dan lahan gambut. Deforestasi, kebakaran lahan, dan alih fungsi kawasan dapat mengurangi kemampuan alam Indonesia dalam menyimpan karbon.
Karena itu, upaya konservasi menjadi faktor penting agar Indonesia tetap mempertahankan statusnya sebagai salah satu penyerap karbon terbesar di dunia.
Indonesia disebut sebagai raksasa karbon dunia karena memiliki cadangan karbon yang sangat besar di hutan mangrove, lahan gambut, dan hutan tropis. Kekayaan alam tersebut menjadikan Indonesia berperan penting dalam upaya global mengurangi dampak perubahan iklim.
Di tengah meningkatnya perhatian dunia terhadap isu lingkungan, keberhasilan menjaga ekosistem mangrove dan gambut akan menentukan peran Indonesia sebagai salah satu pusat penyimpanan karbon terbesar di dunia. Potensi tersebut tidak hanya penting bagi Indonesia, tetapi juga bagi masa depan iklim global.
(Keysa Qanita)