Jasa Raharja. (Istimewa)
Tingkatkan Layanan, Harwan Dorong Penguatan Manajemen Risiko Jasa Raharja
Lukman Diah Sari • 19 August 2026 13:11
Jakarta: PT Jasa Raharja terus berupaya mendorong penguatan manajemen risiko sebagai bagian dari transformasi tata kelola perusahaan. Langkah ini diambil guna menghadapi dinamika perubahan dan memberikan pelayanan yang semakin adaptif kepada masyarakat luas.
Komitmen tersebut diwujudkan melalui perhelatan Risk Townhall 2026 di Kantor Pusat Jasa Raharja, Jakarta, pada Selasa, 18 Agustus 2026. Mengusung tema 'Transforming Governance for a Sustainable and Resilient Future – Leveraging AI, GRC, ESG & ERM for Smarter Decisions and Resilience', kegiatan ini menjadi forum komunikasi dan pembelajaran bagi seluruh Insan Jasa Raharja.
Baca Juga :
Digitalisasi Dorong Penetrasi Industri Asuransi
“Data yang dihasilkan setiap hari di seluruh proses bisnis perusahaan memiliki nilai yang jauh lebih besar dibandingkan sekadar laporan operasional. Melalui pendekatan Risk Intelligence, data perlu diolah menjadi informasi dan insight yang dapat menjadi dasar pengambilan keputusan yang lebih cepat, tepat, dan terukur. Karena itu, membangun Risk Intelligence merupakan tanggung jawab seluruh unit kerja, bukan hanya fungsi Manajemen Risiko,” ujar Awaluddin, dalam siaran pers diterima pada Rabu, 19 Agustus 2026, di Jakarta.
Awaluddin menegaskan, penguatan Risk Intelligence pada akhirnya harus menciptakan nilai positif bagi perusahaan dan masyarakat. Sebagai Badan Usaha Milik Negara (BUMN) yang memikul mandat pelayanan publik, tata kelola risiko Jasa Raharja harus mendukung operasional yang adaptif sekaligus menjaga keberlanjutan perusahaan.

Risk Townhall 2026 di Kantor Pusat Jasa Raharja. (Istimewa)
Dalam kesempatan yang sama, Risk Townhall 2026 juga menghadirkan Principal dan Founder CRMS Indonesia, Dr. Antonius Alijoyo. Antonius membedah dua topik krusial, yakni strategi Governance, Risk, and Compliance (GRC) di era kecerdasan buatan (AI), serta integrasi prinsip Environmental, Social, and Governance (ESG) untuk ketahanan organisasi.
Menurut Antonius, GRC harus berevolusi dari sebatas pemenuhan kepatuhan (compliance) menjadi Intelligent GRC yang menghubungkan data, keputusan, dan pembelajaran berkelanjutan. Pemanfaatan analisis data dan AI dapat mempertajam organisasi dalam membaca pola, mengantisipasi risiko, serta mempercepat respons tanggap darurat, dengan tetap menjaga akuntabilitas dan pengawasan manusia.
Di sisi lain, aspek keberlanjutan atau ESG tidak boleh sekadar menjadi laporan kepatuhan. "Aspek keberlanjutan perlu terintegrasi dalam strategi, risk appetite, pengambilan keputusan, operasional, serta pengukuran kinerja," jelas Antonius.
Menuju Trusted Risk Intelligence
Sementara itu, Direktur Kepatuhan dan Manajemen Risiko Jasa Raharja, Harwan Muldidarmawan, turut memaparkan arah kebijakan perusahaan ke depan. Ia menargetkan penguatan manajemen risiko menuju Trusted Risk Intelligence.Fokus penguatan ini dilakukan dengan memastikan validitas data yang akurat, terintegrasi, dan real-time. Selain itu, perusahaan juga akan memperkuat sensitivitas risiko untuk menerjemahkan analisis data menjadi solusi konkret.
“Arah yang ingin kita bangun adalah kemampuan untuk melihat risiko lebih awal, memahami lebih dalam, memutuskan lebih tepat, dan bertindak lebih cepat. Trusted Risk Intelligence bukan sekadar agenda fungsi Manajemen Risiko atau teknologi, tetapi membutuhkan komitmen bersama," tegas Harwan.
Ia berharap, optimalisasi manajemen risiko ini akan bermuara pada peningkatan kualitas hidup masyarakat. "Pada akhirnya, keputusan yang lebih baik harus memberikan outcome yang lebih baik bagi masyarakat melalui mobilitas yang semakin aman, pelayanan yang semakin baik, dan perlindungan yang semakin pasti,” pungkas Harwan.