Perdana Menteri Pakistan Shehbaz Sharif. (Anadolu Agency)
Pakistan Minta AS-Iran Jaga Gencatan Senjata Meski Perundingan Berakhir Buntu
Dimas Chairullah • 12 April 2026 14:32
Islamabad: Pemerintah Pakistan menegaskan komitmennya untuk terus memfasilitasi dialog antara Amerika Serikat (AS) dan Iran, meski perundingan terbaru di Islamabad berakhir tanpa kesepakatan.
Islamabad juga meminta agar Washington dan Teheran tetap menjaga gencatan senjata yang disepakati pada 8 April lalu.
Wakil Perdana Menteri sekaligus Menteri Luar Negeri Pakistan, Ishaq Dar, mengatakan Islamabad telah berupaya maksimal dalam menengahi negosiasi intensif yang berlangsung selama sekitar 24 jam.
“Saya bersama Kepala Angkatan Darat membantu menengahi beberapa putaran negosiasi yang intens dan konstruktif antara kedua pihak yang berakhir pagi ini,” ujar Dar, dikutip dari The Telegraph Online, Minggu, 12 April 2026.
Ia menekankan pentingnya bagi kedua negara untuk tetap menjaga komitmen terhadap gencatan senjata dan melanjutkan dialog demi stabilitas kawasan.
“Sangat penting bagi semua pihak untuk menjunjung tinggi komitmen gencatan senjata. Pakistan akan terus memainkan perannya dalam memfasilitasi keterlibatan antara Iran dan AS,” tegasnya.
Dar juga mengapresiasi kesediaan kedua negara menerima usulan Perdana Menteri Shehbaz Sharif terkait gencatan senjata dua pekan serta pengakuan terhadap peran mediasi Pakistan.
Di sisi lain, AS dan Iran saling menyalahkan atas kegagalan perundingan. Media pemerintah Iran menyebut tuntutan Washington sebagai “tidak masuk akal” dan menjadi penyebab utama kebuntuan.
Sebaliknya, Wakil Presiden AS JD Vance menyatakan delegasi AS telah bersikap fleksibel dan datang dengan itikad baik, namun tidak berhasil mencapai kemajuan. Ia menyebut pembicaraan berakhir setelah AS mengajukan draf kesepakatan yang diklaim sebagai tawaran terbaik.
Perundingan di Islamabad ini menjadi sorotan global karena merupakan pertemuan tatap muka tingkat tinggi pertama antara AS dan Iran sejak Revolusi Islam 1979.
Delegasi Iran dipimpin Ketua Parlemen Mohammad Baqir Ghalibaf bersama Menteri Luar Negeri Abbas Araghchi. Sementara itu, delegasi AS dipimpin JD Vance, didampingi Jared Kushner dan utusan Timur Tengah Steve Witkoff.
Konflik terbaru di kawasan dipicu oleh serangan AS dan Israel terhadap Iran pada 28 Februari, yang berdampak luas pada stabilitas regional, termasuk gangguan terhadap pasar energi global.
Dalam perundingan tersebut, Iran dilaporkan mengajukan rencana 10 poin, termasuk penarikan pasukan AS dari kawasan, pencabutan sanksi, serta tuntutan terkait kendali atas Selat Hormuz.
Baca juga: Perundingan dengan Iran Berakhir Buntu, Delegasi AS Tinggalkan Pakistan