Perundingan AS–Iran Buntu, Analis Soroti Risiko Disrupsi Energi dan Pangan Global

Perang antara Iran melawan AS dan Israel meletus pada 28 Februari 2026. (EPA-EFE)

Perundingan AS–Iran Buntu, Analis Soroti Risiko Disrupsi Energi dan Pangan Global

Dimas Chairullah • 12 April 2026 18:38

Jakarta: Kegagalan perundingan antara Amerika Serikat (AS) dan Iran yang dimediasi oleh Pakistan diprediksi membawa dampak sistemik terhadap stabilitas kawasan dan rantai pasok global. 

Kebuntuan diplomatik ini tidak hanya memicu kekhawatiran meluasnya disrupsi energi, tetapi juga ancaman serius terhadap ketahanan pangan dunia.

Analis Senior Indo-Pacific Strategic Intelligence, Dr. Fauzia G. Cempaka Timur, membeberkan setidaknya tiga dampak krusial dari gagalnya perundingan tersebut bagi kawasan dan global.

Pertama, negara-negara Teluk menanggung beban terberat sejak eskalasi serangan pertama AS dan Israel ke Iran pada 28 Februari lalu. 

"Negara-negara teluk ini sudah menanggung beban yang berat terkait dengan infrastruktur dan ekonomi. Kita lihat bagaimana upaya produksi minyak di negara teluk saat ini sudah terhambat hingga 83 persen," ungkap Dr. Fauzia kepada Metrotvnews.com, Minggu, 12 April 2026

Dampak kedua bersinggungan langsung dengan jalur vital perdagangan dunia, yakni Selat Hormuz. Menyusul langkah AS yang lebih dulu keluar (pull out) dari meja perundingan dan tidak adanya kesepakatan perpanjangan gencatan senjata, Selat Hormuz berpotensi besar untuk kembali ditutup penuh atau semi-tertutup seperti kondisi pada 1 Maret lalu.

Dr. Fauzia menekankan bahwa Selat Hormuz adalah daya tawar (leverage) terbesar yang dimiliki Iran. Eskalasi ini telah menyebabkan sekitar 2.000 kapal komersial masih tertahan di kawasan perairan tersebut.

"Kebuntuan negosiasi ini akan memberikan ketidakpastian minyak, gas, dan energi yang berkepanjangan. Tidak hanya energi, dampak terhadap pangan tentu akan meningkat karena banyak sekali turunan kimia dari minyak yang dibutuhkan dunia, seperti pupuk dan plastik," jelasnya memaparkan dampak ketiga.

Perang Narasi Demi Konsumsi Domestik

Terkait sikap AS dan Iran yang saling tuding mengenai penyebab kebuntuan diplomasi, Dr. Fauzia menilainya sebagai bentuk "perang narasi" dan perang informasi yang sengaja dimainkan untuk kepentingan politik dalam negeri masing-masing.

Klaim Iran yang menyebut tuntutan AS tidak masuk akal, yang kemudian dibalas oleh klaim AS bahwa mereka telah bersikap akomodatif, dinilai sebagai strategi untuk mengamankan dukungan publik. Terlebih, AS harus menanggung biaya operasi militer yang sangat fantastis per harinya.

"Ini sebenarnya pasar untuk domestiknya Iran dan Amerika Serikat. Jangan lupa bahwa ketika Amerika Serikat melakukan perang ini, jumlah angkanya tidak main-main. Tentu saja ada konstituen yang harus dimenangkan di dalam negeri sehingga muncullah narasi-narasi ini," papar Dr. Fauzia.

Lebih lanjut, ia menganalisis bahwa dalam kerangka perundingan yang sempat bergulir, kedua belah pihak berlomba-lomba melakukan framing diri sebagai pemenang untuk memenangkan dukungan audiens domestik dan global, di tengah retorika eskalasi yang masih terus dilontarkan oleh para pemimpin politik.

Baca juga:  Iran Sebut Gagalnya Perundingan dengan AS di Pakistan Hal Wajar

Jangan lupa ikuti update berita lainnya dan follow  akun
Google News Metrotvnews.com
(Willy Haryono)