Wakil Tetap RI untuk PBB Duta Besar Umar Hadi. Foto: PTRI New York
Melalui PBB, RI Pimpin Pernyataan Mengutuk Keras Serangan Terhadap Pasukan UNIFIL
Fajar Nugraha • 10 April 2026 15:18
New York: Wakil Tetap Republik Indonesia di Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) Duta Besar Umar Hadi membacakan Pernyataan Bersama tentang Keselamatan dan Keamanan Pasukan Penjaga Perdamaian.
Pernyataan itu disuarakan atas nama Aljazair, Armenia, Australia, Austria, Bahrain, Bangladesh, Belgia, Brasil, Brunei Darussalam, Kamboja, Republik Rakyat Tiongkok, Kolombia, Kroasia, Siprus, Republik Demokratik Kongo, Denmark, Mesir, El Salvador, Estonia, Finlandia, Prancis, Jerman, Ghana, Yunani, Guatemala, Hongaria, Indonesia, Irlandia, Italia, Yordania, Latvia, Liberia, Luksemburg, Malaysia, Malta, Moldova, Mongolia, Maroko, Nepal, Belanda, Makedonia Utara, Pakistan, Panama, Filipina, Polandia, Portugal, Qatar, Republik Korea, Rumania, Federasi Rusia, Sierra Leone, Slovakia, Slovenia, Spanyol, Sri Lanka, Swedia, Tanzania, Thailand, Timor Leste, Turki, Inggris Raya, Uruguay, Zambia, dan Uni Eropa.
Sementara tambahan pendukung pernyataan bersama ini antara lain: Bulgaria, Kanada, Islandia, Jepang, Selandia Baru, Norwegia, Negara Palestina, Swiss, Vietnam.
Menurut Perwakilan Tetap Republik Indonesia (PTRI) New York menyebutkan ini adalah daftar hingga saat sekarang. PTRI mendapat indikasi bahwa lebih banyak negara akan bergabung dalam pernyataan tersebut.
“Kami, negara-negara penyumbang pasukan untuk Pasukan Sementara PBB di Lebanon (UNIFIL), bersama dengan beberapa Negara Anggota lainnya dan Uni Eropa, menyatakan keprihatinan mendalam atas peningkatan ketegangan di Lebanon sejak 2 Maret 2026 dan dampaknya terhadap keselamatan dan keamanan pasukan penjaga perdamaian,” ujar Dubes Umar Hadi, dikutip dari pernyataan PTRI New York, Jumat 10 April 2026.
“Kami mengutuk keras serangan terus-menerus terhadap UNIFIL, termasuk serangan serius terbaru yang menelan korban jiwa tiga pasukan penjaga perdamaian Indonesia dan melukai beberapa pasukan penjaga perdamaian lainnya dari Prancis, Ghana, Indonesia, Nepal, dan Polandia,” tegas Dubes Umar Hadi.
“Kami juga mengutuk keras perilaku agresif yang tidak dapat diterima terhadap personel dan pimpinan UNIFIL yang baru-baru ini kami saksikan,” kata Dubes Umar Hadi.
Dubes Umar mengingatkan bahwa pasukan penjaga perdamaian tidak boleh menjadi sasaran serangan dan bahwa serangan terhadap mereka dilarang selama mereka menikmati perlindungan berdasarkan hukum internasional dan resolusi Dewan Keamanan PBB yang relevan, dan dapat merupakan kejahatan perang. Keselamatan dan keamanan pasukan penjaga perdamaian PBB tidak dapat ditawar, dan mendesak PBB dan Dewan Keamanan untuk menggunakan semua alat yang tersedia untuk memperkuat perlindungan pasukan penjaga perdamaian PBB dalam lingkungan yang semakin berbahaya.
Pernyataan juga menegaskan kembali dukungan penuh kami untuk UNIFIL dan mandatnya, sebagaimana tercantum dalam resolusi Dewan Keamanan yang relevan, dan mendesak semua pihak, dalam keadaan apa pun, untuk mengambil semua tindakan guna memastikan keselamatan dan keamanan personel dan tempat pasukan penjaga perdamaian, sesuai dengan hukum internasional.
Menyerukan juga kepada PBB untuk terus menyelidiki semua serangan terhadap pasukan penjaga perdamaian dengan cara yang cepat, transparan, dan komprehensif, dan terus menginformasikan negara penyumbang pasukan terkait tentang kemajuan penyelidikan, sesuai dengan resolusi Dewan Keamanan 2518 (2020) dan 2589 (2021).
“Mereka yang bertanggung jawab atas serangan-serangan ini harus dimintai pertanggungjawaban,” tegas pernyataan yang dibacakan Dubes Umar.
Selain itu, negara-negara juga menyampaikan keprihatinan mendalam atas situasi kemanusiaan di Lebanon, terutama banyaknya korban sipil, kerusakan infrastruktur sipil yang luas, dan pengungsian massal lebih dari satu juta orang.
Tidak hanya itu, pernyataan juga menyerukan kepada para pihak untuk segera kembali pada kesepakatan penghentian permusuhan tahun 2024 dan menghormati Resolusi Dewan Keamanan PBB 1701 (2006).
Penghentian permusuhan di Lebanon, deeskalasi ketegangan, dan agar semua pihak kembali ke meja perundingan turut menjadi perhatian. PBB menegaskan kembali komitmen kuat kami terhadap kedaulatan, kemerdekaan, integritas wilayah, dan persatuan Lebanon.
“Kami memberikan penghormatan kepada dedikasi dan pengabdian semua pasukan penjaga perdamaian PBB yang mempertaruhkan nyawa mereka demi perdamaian dan keamanan internasional, dan menyampaikan apresiasi mendalam kami kepada semua negara penyumbang pasukan,” pungkas pernyataan tersebut.