Didukung Arus ETF Rp1,36 Triliun, Bitcoin Mulai Menguat Lagi

CEO Indodax William Sutanto. Foto: dok Indodax.

Didukung Arus ETF Rp1,36 Triliun, Bitcoin Mulai Menguat Lagi

Husen Miftahudin • 22 July 2026 16:39

Jakarta: Produk Bitcoin Spot Exchange-Traded Fund (ETF) di Amerika Serikat kembali mencatat arus dana masuk (net inflow) selama dua pekan berturut-turut pada pertengahan Juli 2026.
 
Kondisi ini dinilai menjadi sinyal awal pulihnya minat investor institusi terhadap aset kripto terbesar di dunia tersebut setelah sempat mengalami tekanan dalam beberapa bulan terakhir.
 
Berdasarkan data SoSoValue, ETF Bitcoin membukukan arus dana masuk bersih sebesar USD75,7 juta atau sekitar Rp1,36 triliun sepanjang periode perdagangan 13-17 Juli 2026.
 
Meski sempat mencatat arus keluar sebesar USD424,7 juta pada awal pekan, ETF Bitcoin berhasil membalikkan keadaan dengan membukukan arus dana masuk secara konsisten selama empat hari perdagangan berikutnya. Secara kumulatif, dana yang mengalir masuk mencapai sekitar USD500,4 juta.
 
Perkembangan tersebut menandai perubahan tren setelah sekitar dua bulan ETF Bitcoin lebih banyak mengalami tekanan arus keluar. Sejalan dengan membaiknya sentimen tersebut, harga bitcoin di pasar Indodax pada pekan ketiga Juli 2026 juga bergerak menguat ke kisaran Rp1,18 miliar per BTC.
 
CEO Indodax William Sutanto mengatakan ETF menjadi salah satu instrumen investasi yang banyak dimanfaatkan investor institusi untuk memperoleh eksposur terhadap bitcoin tanpa harus memiliki aset kripto secara langsung.
 
Arus dana ETF bukan hanya mencerminkan minat terhadap bitcoin, tetapi juga menggambarkan bagaimana investor institusi mulai kembali meningkatkan eksposurnya terhadap aset berisiko setelah melalui periode ketidakpastian yang cukup panjang. Namun, hal ini belum dapat diartikan sebagai perubahan tren pasar secara keseluruhan, kata William dalam keterangan tertulis, Rabu, 22 Juli 2026.
 


class=big_center
(Ilustrasi. Foto: dok KBI)
 

ETF bukan satu-satunya acuan investasi

 
Meski menunjukkan perbaikan sentimen, William mengingatkan arus dana ETF tidak seharusnya dijadikan satu-satunya indikator dalam mengambil keputusan investasi.
 
Menurut dia, arah pergerakan pasar kripto masih dipengaruhi berbagai faktor lain, seperti inflasi, kebijakan suku bunga bank sentral, kondisi likuiditas global, hingga perkembangan regulasi aset digital di berbagai negara.
 
ETF memang dapat menjadi indikator awal perubahan sentimen investor institusi. Namun, arah pergerakan pasar tetap dipengaruhi berbagai faktor lain seperti inflasi, kebijakan suku bunga bank sentral, likuiditas global, hingga perkembangan regulasi di berbagai negara. Oleh karena itu, penting untuk melihat berbagai indikator secara menyeluruh sebelum berinvestasi, ucap dia.
 
William menambahkan meningkatnya partisipasi investor institusi melalui ETF menunjukkan aset digital semakin diterima sebagai bagian dari sistem keuangan global.
 
Meski demikian, ia mengimbau investor tetap menerapkan prinsip Do Your Own Research (DYOR) dan menyesuaikan strategi investasi dengan profil risiko serta tujuan keuangan masing-masing.
 
Pendekatan investasi yang disiplin dan berorientasi jangka panjang tetap menjadi langkah penting dalam menghadapi volatilitas pasar aset kripto, tutup William.

(Husen Miftahudin)