Ilustrasi Pexels
DBD Ancam Warga Perkotaan, Simak Daftar Kelompok Paling Rentan
Muhamad Marup • 6 June 2026 16:44
Jakarta: Demam Berdarah Dengue (DBD) masih menjadi ancaman serius bagi kesehatan masyarakat di Indonesia, terutama di wilayah perkotaan. Periset Pusat Kesehatan Masyarakat dan Gizi BRIN, Mara Ipa, menjelaskan, tingginya kasus DBD di wilayah perkotaan dipengaruhi oleh kepadatan penduduk, mobilitas masyarakat, serta kondisi lingkungan yang mendukung perkembangan nyamuk Aedes aegypti.
"Rumah dengan kepadatan penghuni tinggi, sumber air yang berada di dalam rumah, serta kebiasaan tidak rutin membersihkan tempat penampungan air menjadi faktor yang meningkatkan risiko infeksi di wilayah urban," ujar Mara, dalam keterangan tertulisnya, Sabtu, 6 Juni 2026.
Berdasarkan Survei Kesehatan Indonesia (SKI) 2023 yang melibatkan 877.531 responden dari 38 provinsi menemukan bahwa angka kejadian infeksi DBD yang dilaporkan masyarakat lebih tinggi di wilayah perkotaan dibandingkan pedesaan. Proporsi kasus di daerah perkotaan tercatat sebesar 0,73%, sedangkan di wilayah pedesaan sebesar 0,52%.
Kelompok rentan terpapar
BRIN juga mengungkapkan bahwa risiko serta faktor penyebab infeksi dengue di wilayah perkotaan dan pedesaan memiliki karakteristik yang berbeda. Hasil penelitian tersebut telah dipublikasikan dalam jurnal berjudul Urban-rural disparities in self-reported dengue infection: A comprehensive analysis of the 2023 Indonesian health survey.Anak usia sekolah di wilayah perkotaan menjadi kelompok yang paling rentan terhadap infeksi dengue. Tingginya aktivitas di luar rumah serta lingkungan padat penduduk diduga menjadi faktor yang meningkatkan paparan gigitan nyamuk Aedes aegypti.
"Kondisi lingkungan rumah juga berpengaruh besar terhadap penularan dengue," jelas Mara.
Sementara itu, Periset Pusat Kesehatan Masyarakat dan Gizi BRIN, Muhammad Choirul Hidajat, menilai bahwa kelompok ekonomi tinggi di perkotaan lebih banyak dilaporkan terdiagnosis dengue. Kondisi ini kemungkinan dipengaruhi oleh akses terhadap layanan kesehatan dan pemeriksaan laboratorium yang lebih baik.
"Hal ini diduga karena kelompok tersebut lebih mudah mengakses layanan kesehatan dan pemeriksaan laboratorium sehingga kasus lebih banyak terdeteksi," kata Choirul.
Penelitian ini juga menyoroti masyarakat perkotaan yang tidak rutin membersihkan wadah penyimpanan air memiliki risiko lebih tinggi mengalami infeksi dengue. Air yang menggenang menjadi tempat ideal bagi nyamuk berkembang biak dan meningkatkan potensi penyebaran penyakit.
"Penelitian menemukan adanya asosiasi antara jenis sumber air rumah tangga dan risiko dengue, yang kemungkinan mencerminkan kondisi pengelolaan lingkungan serta praktik penyimpanan air di wilayah urban," ungkapnya.
Warga Komplek Pendidikan Rangkasbitung Kabupaten Lebak tengah melakukan pemberantasan sarang nyamuk (PSN) untuk pencegahan penularan kasus demam berdarah dengue (DBD), Jumat,5 Juni 2026. ANTARA/Mansur
DBD di Pedesaan
Di sisi lain, masyarakat pedesaan yang rutin melakukan tindakan pencegahan gigitan nyamuk terbukti memiliki risiko lebih rendah terkena dengue. Namun, keterbatasan akses layanan kesehatan dan fasilitas pencegahan masih menjadi tantangan di wilayah rural."Pekerja sektor informal di pedesaan cenderung lebih jarang melaporkan infeksi dengue, yang kemungkinan dipengaruhi keterbatasan akses layanan kesehatan dan pemeriksaan medis," ucapnya.
Berdasarkan temuan tersebut, peneliti BRIN menegaskan bahwa dengue tidak hanya dipengaruhi faktor biologis, tetapi juga determinan sosial seperti kondisi perumahan, akses layanan kesehatan, perilaku pencegahan, dan pengelolaan lingkungan rumah tangga. Selain itu, penanganan demam berdarah harus disesuaikan dengan karakteristik masing-masing wilayah.
"Daerah pedesaan membutuhkan peningkatan akses layanan kesehatan dan edukasi pencegahan, sedangkan wilayah perkotaan perlu memperkuat pengendalian lingkungan dan konsistensi perilaku hidup bersih," tuturnya.