Kemenkes Perkuat Cek Kesehatan Gratis di Tengah Minimnya Tenaga Kesehatan Jiwa

Direktur Jenderal Kesehatan Primer dan Komunitas Kementerian Kesehatan Maria Endang Sumiwi (kiri). Foto: ANTARA/Mecca Yumna.

Kemenkes Perkuat Cek Kesehatan Gratis di Tengah Minimnya Tenaga Kesehatan Jiwa

Fachri Audhia Hafiez • 12 October 2026 17:25

Jakarta: Kementerian Kesehatan (Kemenkes) memperkuat upaya promotif dan preventif secara terintegrasi guna mengatasi keterbatasan jumlah tenaga kesehatan jiwa di Indonesia. Langkah ini diwujudkan melalui Program Cek Kesehatan Gratis (CKG) serta penguatan layanan kesehatan bagi ibu hamil dan pascapersalinan.

“Untuk menjawab tantangan tersebut, Kemenkes terus memperkuat upaya promotif dan preventif secara terintegrasi melalui Program Cek Kesehatan Gratis (CKG), serta layanan kesehatan bagi ibu hamil dan ibu pascapersalinan,” kata Direktur Jenderal Kesehatan Primer dan Komunitas Kemenkes, Maria Endang Sumiwi, di Jakarta, dilansir Antara, Senin, 12 Oktober 2026.
 


Endang menjelaskan, rasio tenaga kesehatan jiwa di tanah air masih amat terbatas. Per 1 September 2026, Indonesia hanya memiliki 1.495 psikiater atau berasio 1:180.000 penduduk atau jauh dari rekomendasi WHO sebesar 1:30.000. Selain itu, dari 3.513 psikolog klinis terdata, baru 213 orang yang bertugas di puskesmas.

Padahal, beban gangguan kesehatan jiwa dan treatment gap masih cukup tinggi. Hingga kini, skrining kesehatan jiwa Kemenkes telah menjangkau 71,8 juta jiwa, dengan temuan dugaan gejala depresi sebesar 1,2 persen dan gejala kecemasan 0,9 persen.

Sebagai percepatan tindak lanjut di fasilitas pelayanan primer, Kemenkes meluncurkan empat seri buku saku skrining kesehatan jiwa yang diperuntukkan bagi kelompok ibu hamil/pascapersalinan, anak dan remaja, dewasa, serta lansia.

“Buku saku ini disusun bersama para ahli dari organisasi profesi sebagai panduan praktis bagi tenaga kesehatan di puskesmas dalam menindaklanjuti hasil skrining di lapangan,” ujar Endang.


Cek Kesehatan Gratis. Foto: Dok. Metrotvnews.com.

Sementara itu, Wakil Menteri Kesehatan Dante Saksono Harbuwono menegaskan penanganan kesehatan jiwa dan kondisi neurodivergen seperti ADHD dan disleksia harus mengedepankan inklusivitas sejak dari lingkungan keluarga.

“Kesulitan yang dialami anak saat ini tidak menentukan masa depannya. Kita ingin mereka yang mengalami masalah kejiwaan tidak lagi dimarginalisasikan, tetapi kita rangkul,” tegas Dante.

(Fachri Audhia Hafiez)