Dampak Karhutla, Kabut Asap Ganggu Aktivitas Penerbangan di Sampit

ARSIP - Suasana landasan pacu di Bandara Haji Asan Sampit. (ANTARA/Devita Maulina)

Dampak Karhutla, Kabut Asap Ganggu Aktivitas Penerbangan di Sampit

Silvana Febiari • 14 October 2026 13:47

Kotawaringin Timur: Pemerintah Kabupaten Kotawaringin Timur, Kalimantan Tengah, terus memantau perkembangan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) serta dampak kabut asap. Pemantauan dilakukan untuk mengantisipasi dampaknya terhadap operasional penerbangan di Bandara Haji Asan Sampit.

“Untuk aktivitas penerbangannya ditutup sementara yakni sampai kondisi cuaca maupun jarak pandang memungkinkan. Namun, operasional bandara tetap berjalan seperti biasa,” kata Kepala Dinas Perhubungan (Dishub) Kabupaten Kotawaringin Timur Raihansyah, dilansir dari Antara, Rabu, 14 Oktober 2026.

Raihansyah menjelaskan penutupan sementara diketahui berdasarkan koordinasi dengan pengelola bandara. Keputusan tersebut diambil karena kondisi cuaca dan jarak pandang belum memungkinkan pesawat melakukan penerbangan secara aman.


Berdasarkan data BMKG Kotawaringin Timur, jarak pandang dalam beberapa pekan terakhir berada di bawah 1.000 meter. Sedangkan standar aman keselamatan penerbangan adalah 2.000 meter.

Meskipun kebakaran lahan di wilayah perkotaan dan sekitarnya mulai berkurang, kabut asap masih menyelimuti Sampit. Asap yang berasal dari lokasi kebakaran di wilayah lain diduga terbawa angin hingga mengganggu jarak pandang di kawasan bandara.

Dampak kabut asap terhadap penerbangan juga terjadi di Bandara Iskandar Pangkalan Bun, Kabupaten Kotawaringin Barat. Sehingga, gangguan penerbangan tidak hanya dialami Sampit, tetapi juga sejumlah wilayah lain.


Kondisi Jalan Jaksa Agung R Soeprapto sementara ini tanpa adanya PJU, Sampit, Kamis, 8 Oktober 2026. (ANTARA/Dokumentasi Pribadi)


Terpisah, District Manager NAM Air Sampit Harli Rahman mengatakan maskapai tersebut membatalkan penerbangan dari dan menuju Bandara Haji Asan Sampit hingga 15 Oktober 2026 akibat kabut asap.

Harli mengatakan penerbangan terakhir NAM Air yang berhasil beroperasi dari Sampit berlangsung pada 22 September 2026 dengan rute Semarang. Setelah itu, kondisi jarak pandang setiap hari belum memenuhi persyaratan penerbangan.

“Penerbangan kita kemarin itu terakhir kita bisa terbang tanggal 22 September. Setelah itu kondisi bandara di Sampit ini setiap harinya jarak pandang tidak mencapai angka minimum,” ungkapnya.

Pembatalan jadwal penerbangan dilakukan lebih awal agar calon penumpang memperoleh kepastian dan tidak telanjur datang ke bandara, tetapi gagal berangkat akibat kondisi cuaca.

NAM Air juga terus memantau perkembangan cuaca berdasarkan koordinasi dan informasi dari BMKG. Kabut asap diperkirakan masih berpotensi bertahan hingga hujan dengan intensitas tinggi terjadi di wilayah Sampit.

(Silvana Febiari)