Korban migran gelap yang tenggelam dibawa relawan IOM. Foto: International Organization for Migration
Korban Tewas dari Kapal Migran yang Terbalik di Djibouti Bertambah jadi 139 Orang
Fajar Nugraha • 12 October 2026 10:05
Jenewa: Setidaknya 139 orang, termasuk anak-anak, tewas setelah sebuah kapal yang mengangkut lebih dari 300 migran terbalik di lepas pantai Djibouti, Afrika Timur.
Organisasi Internasional untuk Migrasi (IOM) pada Minggu 11 Oktober 2026 mengatakan, angka tersebut hanya mencakup mereka yang dimakamkan oleh pihak berwenang di Djibouti.
“Ada pula korban yang dimakamkan oleh sesama migran, namun mereka tidak akan dimasukkan dalam hitungan resmi sampai pihak berwenang dapat memverifikasi jenazah-jenazah tersebut,” ujar Alexandre Coissac, Kepala Misi IOM di Djibouti, kepada AP melalui telepon.
"Yang mengerikan adalah mereka dimakamkan tanpa nama, di kuburan massal, layaknya dalam situasi perang," kata Coissac.
"Mereka semua memiliki ibu dan ayah, dan kita mungkin tidak akan pernah tahu apa yang sebenarnya terjadi,” imbuh Coissac.
Coissac mengatakan para migran menaiki kapal tersebut pada malam hari 8 Oktober dan kapal itu tenggelam tak lama kemudian, tak jauh dari pantai, "terutama karena kelebihan muatan."
"Pihak berwenang setempat telah berupaya semaksimal mungkin," ujar Coissac, namun mereka kewalahan menghadapi banyaknya jenazah yang terus terbawa arus menuju pantai secara bersamaan.
Ia mengatakan pihak berwenang membawa para migran yang selamat ke pusat penyelamatan IOM di Obock; di sana, mereka menerima bantuan medis ,setelah sempat menelan air laut, serta dukungan psikologis.
"Mereka semua dalam keadaan syok," kata Coissac, yang mengunjungi lokasi kecelakaan kapal tersebut pada hari Sabtu.
"Saya mencoba berbicara dengan beberapa dari mereka, namun hal itu sangat sulit dilakukan,” imbuhnya.
Beberapa migran di pusat IOM tersebut sudah mengetahui bahwa anggota keluarga mereka tewas dalam kecelakaan kapal itu. Sementara itu, migran lainnya diberi akses telepon untuk menghubungi orang-orang terkasih di kampung halaman guna mengabarkan bahwa mereka selamat.
Setidaknya 84 orang masih dinyatakan hilang dalam salah satu kecelakaan kapal paling mematikan di jalur penyeberangan yang populer namun berbahaya dari Tanduk Afrika menuju Semenanjung Arab, tempat banyak migran mencari pekerjaan di negara-negara Teluk yang kaya.
Menurut IOM, kapal tersebut sedang dalam perjalanan dari Djibouti menuju Yaman ketika terbalik pada Kamis malam atau Jumat pagi. Disebutkan bahwa lebih dari 80 orang selamat, yang semuanya merupakan warga negara Ethiopia.
Badan migrasi PBB yang berbasis di Jenewa menyatakan bahwa kapal tersebut mengangkut 305 orang dan memperingatkan bahwa jumlah korban tewas masih bisa bertambah.
Barang-barang pribadi yang diduga milik para migran, termasuk sepatu, terlihat di sebuah pantai dalam video yang dibagikan oleh IOM. Upaya penyelamatan terus berlanjut di tengah kekhawatiran akan nasib mereka yang hilang.
Puluhan ribu migran dari Tanduk Afrika setiap tahunnya melakukan perjalanan melalui Djibouti dan melintasi Selat Bab el-Mandeb menuju negara-negara Teluk demi mencari keselamatan dan peluang ekonomi, demikian pernyataan IOM.
Pergerakan tersebut terus berlangsung meskipun terjadi peningkatan eskalasi pertempuran di Yaman, yang terletak di sisi lain selat tersebut.
"Ini adalah hilangnya nyawa yang sangat memilukan. Tragedi ini menjadi pengingat nyata akan bahaya yang dihadapi para migran di sepanjang jalur migrasi ini saat mereka mencari peluang ekonomi,” ujar Coissac.
Dalam beberapa minggu terakhir, setidaknya 2.000 warga Yaman telah menerima bantuan di Djibouti seiring meningkatnya pertempuran di Yaman antara pemerintah yang diakui secara internasional (didukung Arab Saudi) dan pemberontak Houthi (didukung Iran).
Arah perjalanan ini berlawanan dengan pergerakan para migran yang tewas dalam kecelakaan kapal tersebut maupun pola migrasi umum dalam beberapa tahun terakhir: puluhan ribu orang yang menyeberang dari Afrika timur menuju Yaman setiap tahunnya biasanya mencari pekerjaan di tempat-tempat seperti Arab Saudi.
Menurut proyek Missing Migrants milik IOM, lebih dari 900 migran tewas atau hilang di sepanjang rute tersebut pada tahun lalu.
"Tidak ada orang yang mau menaiki kapal seperti itu kecuali mereka yakin tidak ada jalan lain yang aman," kata Direktur Jenderal IOM, Amy Pope.
"Kita tidak boleh terus menganggap kematian-kematian ini sebagai hal yang lumrah. Jalur yang aman dan legal dapat menyelamatkan nyawa. Saya meminta pemerintah dan para donor untuk bertindak sebelum kapal berikutnya tenggelam,” pungkas Pope.