The Power of Mama Jawab Keresahan Ibu-Ibu Atas Karhutla

Anggota The Power of Mama, Eli. Foto: tangkapan layar Youtube Metro TV

The Power of Mama Jawab Keresahan Ibu-Ibu Atas Karhutla

Muhamad Marup • 28 August 2026 22:22

Jakarta: Penanganan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) butuh kolaborasi dari semua pihak termasuk masyarakat. Di Ketapang, Kalimantan Barat, terdapat praktik baik yaitu para perempuan yang tergabung dalam komunitas The Power of Mama terjun langsung menangani karhutla.

Anggota The Power of Mama, Eli, mengatakan komunitas tersebut pertama kali terbentuk pada 8 Juni 2022. Pembentukan komunitas berawal dari keresahan para mama terhadap karhutla yang terjadi pada 2019.

"Komunitas ini dimulai dari keresahan para mama atas karhutla 2019 silam. Yang di mana di situ lebih dari 150 ribu hektare habis dalam setahun akibat kebakaran," ujar Eli, dalam Program Meet Nite Live di Metro TV, Jumat, 28 Agustus 2026, pukul 21.05 WIB.

Ia menerangkan, sejak terbentuk hingga 2026, The Power of Mama telah memiliki lebih dari 140 anggota. Para perempuan tersebut tersebar di 10 desa.

"Dari terbentuknya itu sudah lebih dari 140 perempuan yang tersebar di 10 desa di 3 kecamatan," jelasnya.


The Power of Mama dari Kalimantan Barat, Gerakan Perempuan Tangani Karhutla

Anggota The Power of Mama, Eli. Foto: tangkapan layar Youtube Metro TV


Eli menjelaskan, kondisi karhutla turut berdampak terhadap aktivitas pendidikan dan kesehatan masyarakat. Saat karhutla terjadi, sejumlah anak tidak dapat bersekolah karena sekolah terpaksa ditutup.

Selain itu, lanjutnya, penyakit ISPA juga mengalami peningkatan akibat kabut asap yang ditimbulkan kebakaran. Keresahan tersebut kemudian mempertemukan para mama dengan bantuan dari Yayasan Inisiasi Alam Rehabilitasi Indonesia (YIARI).

"Dalam pertemuan tersebut, kami meminta kesediaan pendampingan dari YIARI untuk cover dari mama-mama bisa menyuarakan keresahan mereka di masyarakat," katanya. Eli mengatakan tantangan terbesar yang dihadapi para mama ketika turun ke lapangan adalah medan menuju lokasi kebakaran. Ia memastikan para anggota selalu menggunakan alat pelindung diri (APD) secara lengkap ketika berada di lokasi karhutla.

"Kami juga harus memperhatikan dari keselamatan kerja, yaitu K3 kami," tuturnya.

(Muhamad Marup)