Kolaborasi dan Inovasi Lokal Dorong UMKM Naik Kelas

Ilustrasi pekerja. Foto: Unsplash.com/Christin Hume.

Kolaborasi dan Inovasi Lokal Dorong UMKM Naik Kelas

Fachri Audhia Hafiez • 23 October 2026 20:51

Bogor: Kolaborasi dan inovasi bagi para pelaku Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) dinilai penting. Langkah ini dimaksudkan agar para pengusaha lokal mampu meningkatkan daya saing serta memperluas skala bisnis mereka secara mandiri.

“Yang kita kejar adalah dampak sosial dan pertumbuhan bersama. Pelaku UMKM perlu terus belajar, berinovasi, memanfaatkan potensi lokal, serta membangun jejaring dan kolaborasi,” ujar pendiri Yayasan Indonesia Setara (YIS), Sandiaga Salahuddin Uno, dalam keterangan tertulis, Jumat, 23 Oktober 2026.
 


Sandiaga menyampaikan bahwa penguatan sektor UMKM tidak sekadar berfokus pada peningkatkan omzet. Lebih dari itu, pelaku usaha juga dituntut memiliki kemampuan beradaptasi, memanfaatkan kemajuan teknologi, serta memperluas jaringan pemasaran.

Ia menilai kisah inspiratif Ngatiyem, pelaku UMKM asal Ciawi, Kabupaten Bogor, Jawa Barat, yang sukses mengembangkan racikan jamu instan H’Dayah, menjadi bukti nyata pentingnya semangat belajar dan adaptasi.

"Melalui pembelajaran pemasaran digital, pengembangan produk, dan pencatatan keuangan, pelaku UMKM diharapkan memiliki bekal untuk menjaga keberlanjutan usaha dan memperluas jangkauan pasar," kata Sandiaga.

Ngatiyem merintis usaha jamu rumahan tersebut berawal dari kebutuhan keluarga. Racikan kunyit putih dan jahe merah yang awalnya dibuat untuk membantu pemulihan kesehatan suaminya yang mengidap gangguan paru-paru dan liver pada 2017, kini berhasil bertransformasi menjadi produk bernilai ekonomi.

"Suami saya pulih dalam waktu sekitar tiga bulan," kata Ngatiyem.

Guna memperluas pasar, Ngatiyem memutuskan bergabung dalam program Inkubasi Mitra Inkubator GAN dari Ciawi yang mendapatkan pelatihan langsung dari YIS. Melalui program ini, ia mulai memanfaatkan teknologi kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI) untuk merancang materi promosi pemasaran digital yang lebih bervariasi di media sosial.

Tak hanya itu, ia juga mulai membenahi tata kelola keuangan usahanya secara rutin serta memperluas jalur distribusi produk. “Alhamdulillah ada peningkatan omzet selama ikut inkubasi dan Alhamdulillah bertambah reseller,” kata Ngatiyem.


Ngatiyem, pelaku UMKM asal Ciawi, Kabupaten Bogor, yang sukses mengembangkan racikan jamu instan H’Dayah. Foto: Dok. Istimewa.

Berkat ketekunan memanfaatkan teknologi dan membangun jaringan pemasaran, omzet usaha jamu instan H'Dayah milik Ngatiyem kini mampu menembus kisaran Rp1,5 juta per minggu.

"Pelatihan ini memberikan saya banyak pengetahuan baru. Bukan hanya ide untuk mengembangkan produk, tetapi juga belajar memanfaatkan teknologi dalam promosi. Terpenting dalam pelatihan adalah jejaring dan membangun kebiasaan mengelola usaha secara lebih teratur," kata Ngatiyem.

(Fachri Audhia Hafiez)