El Nino Datang, Mengapa Masih Hujan? Begini Penjelasan Akademisi

Pengamatan cuaca. Foto: Istimewa

El Nino Datang, Mengapa Masih Hujan? Begini Penjelasan Akademisi

Atalya Puspa • 9 April 2026 09:48

Jakarta: Prediksi kemarau panjang akibat fenomena El Nino yang disampaikan Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mulai menjadi perhatian publik. Namun, hujan yang masih turun di sejumlah wilayah Indonesia memunculkan pertanyaan di tengah isu El Nino kuat atau yang disebut Godzilla. 

Dosen Departemen Geofisika dan Meteorologi IPB University, Sonni Setiawan, menjelaskan bahwa kondisi tersebut merupakan hal yang wajar karena Indonesia masih berada pada masa peralihan musim atau pancaroba.

“Karena ini masih pancaroba, dan awal musim juga tidak seragam di semua wilayah Indonesia,” kata Sonni saat dikonfirmasi, Kamis, 9 April 2026.

Ia menegaskan, hujan yang masih terjadi tidak berarti prediksi El Nino keliru. Indikasi menuju kemarau panjang tetap terlihat dari tren kenaikan suhu muka laut di Samudera Pasifik bagian tengah dan timur.
 


Menurutnya, kondisi tersebut menjadi sinyal berkembangnya El Nino yang berpotensi menurunkan curah hujan di Indonesia. Bahkan, musim kemarau tahun ini diperkirakan berlangsung lebih panjang, dengan durasi sekitar enam bulan.

Selain itu, awal musim kemarau juga diprediksi datang lebih cepat dari biasanya, khususnya di Pulau Jawa yang umumnya memasuki kemarau pada Juli.

“Kenaikan suhu muka laut ini berdampak pada pengurangan pembentukan awan di Indonesia,” jelas Sonni.

Sonni menambahkan, fenomena El Nino dan La Nina merupakan hasil interaksi laut dan atmosfer dalam skala besar yang memicu pergeseran sirkulasi atmosfer tropis atau dikenal sebagai Sirkulasi Walker.

Terkait istilah El Nino Godzilla, ia menyebut istilah tersebut merujuk pada kategori super El Nino dengan intensitas sangat kuat, yakni ketika suhu muka laut di Pasifik meningkat hingga lebih dari 2,5 derajat Celsius di atas kondisi normal.

Fenomena ini pernah terjadi pada 1982, 1997, dan 2015, yang memicu dampak global seperti kekeringan ekstrem hingga kebakaran hutan. Namun, kondisi saat ini dinilai masih berada pada kategori lemah hingga moderat. “Jujur saja, kekuatannya masih lemah ke moderat,” ujar Sonni.


Pengamatan cuaca. Foto: Istimewa

Ia juga mengungkapkan bahwa potensi penguatan El Nino dapat berkaitan dengan aktivitas bintik matahari atau sunspot. Berdasarkan analisis data, El Nino kuat kerap terjadi setelah puncak aktivitas sunspot, yang terakhir diperkirakan terjadi pada 2025.

Meski demikian, ia menekankan bahwa kajian tersebut masih memerlukan data jangka panjang untuk memperkuat kesimpulan ilmiah.

Masyarakat diimbau tetap mengikuti informasi resmi pemerintah dan memahami bahwa kondisi hujan saat ini merupakan bagian dari dinamika transisi musim yang kompleks.

Jangan lupa ikuti update berita lainnya dan follow  akun
Google News Metrotvnews.com
(M Sholahadhin Azhar)