Arab Saudi Gempur Situs Militer di Hodeidah, Houthi Ancam Balas Serangan

Arab Saudi melancarkan serangan ke Hodeidah yang dikuasai Houthi. (Anadolu Agency)

Arab Saudi Gempur Situs Militer di Hodeidah, Houthi Ancam Balas Serangan

Willy Haryono • 25 July 2026 08:44

Sanaa: Arab Saudi melancarkan serangan udara ke Kota Hodeidah yang dikuasai kelompok pemberontak Houthi di Yaman pada Jumat malam, 24 Juli 2026.

Serangan tersebut menandai eskalasi terbaru konflik Saudi-Houthi di tengah meningkatnya ketegangan kawasan akibat perang antara Amerika Serikat (AS) dan Iran.

Kementerian Luar Negeri Houthi memperingatkan bahwa serangan itu akan dibalas dan menuduh Riyadh telah memilih jalur eskalasi.

"Dengan menargetkan Hodeidah, rezim Saudi telah menjadikan 'eskalasi dibalas eskalasi' sebagai ciri fase berikutnya," ujar pihak kementerian, seperti dikutip dari Al Jazeera.

Media yang berafiliasi dengan Houthi, Al Masirah TV, melaporkan serangan menyasar fasilitas milik otoritas telekomunikasi di Hodeidah serta Pulau Kamaran. Menurut laporan tersebut, sedikitnya satu perempuan mengalami luka-luka akibat serangan di Pulau Kamaran.

Sementara itu, sejumlah saksi yang dikutip Reuters melaporkan terdengar ledakan di kawasan Pelabuhan Hodeidah. Namun, koalisi militer pimpinan Arab Saudi membantah menjadikan pelabuhan tersebut sebagai sasaran.

Peran Vital Hodeidah

Hodeidah merupakan jalur logistik utama bagi wilayah Yaman yang berada di bawah kendali Houthi. Pelabuhan kota itu menangani sebagian besar arus barang komersial dan bantuan kemanusiaan menuju wilayah utara Yaman.

Juru bicara koalisi pimpinan Arab Saudi, Mayor Jenderal Turki al-Maliki, menyalahkan Houthi atas meningkatnya ketegangan. Ia menyebut serangan kelompok tersebut terhadap kapal-kapal di Laut Merah sebagai tindakan "ceroboh dan pengecut."

Menurut al-Maliki, koalisi akan terus mengambil langkah operasional yang diperlukan. Ia juga memperingatkan bahwa setiap aksi permusuhan lanjutan dari Houthi akan dibalas tanpa ragu.

Ketegangan meningkat setelah Houthi pada Rabu mengumumkan telah menyerang sejumlah kapal tanker minyak Arab Saudi di Laut Merah menggunakan drone dan rudal. Kelompok itu mengklaim sedikitnya satu kapal mengalami kerusakan karena melanggar blokade yang diumumkan dua hari sebelumnya.

Blokade tersebut diumumkan Houthi pada 20 Juli sebagai respons atas serangan terhadap Bandara Internasional Sanaa sepekan sebelumnya yang mereka tuduhkan dilakukan Arab Saudi.

Namun, pemerintah Yaman yang diakui secara internasional dan didukung Riyadh menyatakan bertanggung jawab atas serangan ke bandara tersebut. Pemerintah mengatakan serangan dilakukan karena adanya kedatangan pesawat Iran tanpa izin.

Bentrokan Arab Saudi dan Houthi

Juru bicara militer Houthi Yahya Saree saat itu menyatakan serangan terhadap bandara telah mengakhiri fase deeskalasi yang berlangsung sejak gencatan senjata informal mulai berlaku pada 2022.

Meski tidak pernah diformalkan, gencatan senjata itu bertahan selama sekitar empat tahun dan menjadi periode paling tenang sejak koalisi pimpinan Arab Saudi mengintervensi perang Yaman pada 2015.

Di tengah konflik yang meluas di Timur Tengah, bentrokan terbaru antara Arab Saudi dan Houthi memunculkan kekhawatiran baru terhadap keamanan jalur pelayaran internasional di Laut Merah.

Meski Houthi sempat memblokade pelayaran di Laut Merah selama perang Gaza, kelompok tersebut sejauh ini relatif tidak banyak terlibat langsung dalam perang antara AS dan Iran.

Juru bicara Houthi Mohammed Abdul Salam menegaskan kelompoknya tidak memblokade Selat Bab al-Mandeb yang menghubungkan Laut Merah dengan Samudra Hindia.

Menurutnya, blokade yang diumumkan hanya ditujukan terhadap kepentingan Arab Saudi sebagai respons atas pengepungan terhadap Yaman dan penolakan Riyadh terhadap penyelesaian yang dinilai adil bagi rakyat Yaman.

Baca juga:  Houthi Serang Dua Kapal Tanker Arab Saudi di Laut Merah

(Willy Haryono)