Rerie Moerdijat: Butuh Kesadaran Kolektif Wujudkan Ruang Aman dan Nyaman Anak

Wakil Ketua MPR RI Lestari Moerdijat. Foto: Istimewa.

Rerie Moerdijat: Butuh Kesadaran Kolektif Wujudkan Ruang Aman dan Nyaman Anak

Gabriella Thesa Widiari • 23 July 2026 15:40

Jakarta: Wakil Ketua MPR RI Lestari Moerdijat mengatakan, keberhasilan Gerakan Nasional Ruang Aman dan Nyaman untuk Anak (Gernas RANA) membutuhkan komitmen kuat dan kolaborasi nyata semua pihak untuk mewujudkannya. Hal itu disampaikan dalam rangka Hari Anak Nasional.

"Mewujudkan ruang aman dan nyaman bagi anak bukan lah program jangka pendek, melainkan sebuah perubahan budaya yang membutuhkan kerja keras dan kesadaran kolektif yang berkelanjutan," ujar Rerie, sapaan akrab Lestari Moerdijat, melalui keterangan tertulis, Kamis, 23 Juli 2026.

Rerie mengatakan, Hari Anak Nasional tahun ini mengusung tema utama Sayang Anak, Lindungi dan Bangun Masa Depan. 

Dia mengungkapkan, Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) mencatat pada rentang waktu 2023-2025 terdapat 6.900 aduan masuk terkait pelanggaran hak anak atau rata-rata lebih dari 2.000 aduan kasus per tahun. Kasus kekerasan fisik, psikis, dan seksual masih mendominasi

Selain itu, Pusat Informasi Kriminal Nasional (Pusiknas) Bareskrim Polri mencatat dalam kurun waktu 1-15 Januari 2026 saja, terdapat 247 laporan kasus kekerasan pada anak. Mayoritas korban adalah pelajar, sebanyak 79,9 persen.

Rerie mengatakan, berdasarkan data-data tersebut, kasus kekerasan pada anak justru terjadi di lingkungan yang seharusnya menjadi benteng teraman, yaitu keluarga dan satuan pendidikan.


Salah satu kegiatan dalam peringatan Hari Anak Nasional (HAN) ke-42 Tingkat Provinsi DKI Jakarta Tahun 2026 di Balai Kota Jakarta. Foto: ANTARA/HO-Pemprov DKI Jakarta.

Oleh karena itu, dia mengatakan, keberhasilan gerakan seperti Gernas RANA tidak bisa hanya bertumpu pada regulasi dan program pemerintah. Menurut anggota Komisi X DPR RI itu,  dibutuhkan komitmen kuat dan kolaborasi nyata dari semua pihak, mulai dari keluarga, sekolah, hingga masyarakat.

"Perlindungan anak bukan sekadar kebijakan. Ini keharusan. Negara hadir, semua pihak juga harus ikut bertanggung jawab," tegas Rerie. 

Berdasarkan data yang ada, anggota Majelis Tinggi Partai NasDem itu, berpendapat bahwa visi 'No One Left Behind' dan 'Globally Competitive' untuk mewujudkan SDM unggul masih menghadapi kesenjangan yang signifikan. Terutama dalam hal perlindungan anak. 

"Penguatan sosialisasi, penegakan aturan, dan peningkatan literasi adalah langkah-langkah krusial untuk menjembatani terwujudnya Indonesia Emas 2045," pungkas Rerie. 

(Gabriella Thesa Widiari)