Warga Bandung Harap PJU  Segera Dibenahi dan Memberi Rasa Aman

Wali Kota Bandung M Farhan. Metrotvnews.com/Roni Kurniawan

Warga Bandung Harap PJU Segera Dibenahi dan Memberi Rasa Aman

Silvana Febiari • 23 July 2026 20:00

Bandung: Tingginya angka kriminalitas di suatu daerah berpotensi merusak stabilitas sosial serta menciptakan ketakutan yang menghambat produktivitas harian dan aktivitas ekonomi masyarakat. 

Teranyar, ketakutan ini dialami Penyanyi sekaligus Disk Jockey, Hana Claudia. Menurutnya, Kota Bandung waktu malam hari terasa lebih mencekam apalagi setelah banyaknya rentetan kejadian aksi kriminal jalanan dan begal.

"Itu karena kebetulan lagi nobar juga, karena memang sudah banyak begal juga di Bandung. Terus karena malam itu lagi nobar yang di mana-mana pada lagi fokus nobar sampai jam empat kan, sedangkan saya ada kerjaan juga gitu besoknya," ujar Claudia saat dihubungi, Selasa, 21 Juli 2026. 
 


Claudia mengaku tidak bisa menunggu hingga acara selesai sekitar pukul 04.00 WIB karena harus bekerja keesokan harinya. Ia memilih memesan ojek daring untuk mengantarnya pulang sekaligus memastikan perjalanan tetap aman.

Namun, Claudia tidak hanya memesan satu pengemudi ojek daring. Ia sengaja memesan tiga pengemudi agar perjalanan lebih aman dan tidak ada satu pun pengemudi yang harus menghadapi risiko sendirian.

"Iya, soalnya kalau misalkan pesan satu kan saya enggak mau numbalin ojolnya juga kan. Makanya pesan tiga gitu supaya saling aman lah gitu," katanya.

Dia juga pernah merasa diikuti seseorang hingga kawasan Cikutra. Kemudian, ia memilih langsung menuju kompleks rumahnya yang memiliki banyak kamera pengawas (CCTV). 

"Tapi kayaknya mah itu bukan begal, lebih ke orang jahil, cowok-cowok jahil gitu kayaknya mah," tuturnya.

Pengamat Kebijakan Publik Universitas Katolik Parahyangan (Unpar) Kristian Widya Wicaksono mengatakan, meningkatnya aksi begal dipengaruhi oleh banyak faktor. Mulai dari kondisi ekonomi, lemahnya pengawasan, hingga keberadaan kelompok pelaku yang terorganisasi. 

Kristian menjelaskan, kondisi jalan yang minim penerangan dapat meningkatkan risiko terjadinya tindak kriminal. Berdasarkan pendekatan Crime Prevention Through Environmental Design (CPTED), pencahayaan yang baik dapat memperkecil peluang kejahatan karena meningkatkan jarak pandang, pengawasan alami, serta rasa aman masyarakat.

"Karena itu, pemasangan PJU seharusnya menjadi bagian dari strategi yang sudah direncanakan sebelumnya, bukan semata respons terhadap meningkatnya perhatian publik,” ujarnya.

Menurutnya, peningkatan PJU hanya salah satu strategi yang efektif untuk mencegah tindak kejahatan. Namun, pemasangan PJU tidak dapat dijadikan satu-satunya solusi dalam mengatasi maraknya kasus begal.

Apabila pemasangan PJU baru dipercepat setelah kasus begal menjadi sorotan publik, maka hal tersebut perlu dievaluasi sebagai bagian dari proses pengambilan kebijakan.

”Jika pelaksanaan baru dipercepat setelah kasus begal mencuat, maka hal tersebut perlu dievaluasi sebagai bagian dari proses pengambilan kebijakan. Pemerintah idealnya menggunakan data kriminalitas, pemetaan wilayah rawan (crime mapping), serta analisis risiko sebagai dasar penentuan prioritas pembangunan, sehingga kebijakan bersifat preventif, bukan reaktif,” tegasnya.


Ilustrasi begal. Foto: Medcom.id


Data Badan Pusat Statistik (BPS) mengungkapkan Kota Bandung sebagai wilayah dengan tingkat risiko kejahatan tertinggi di Jawa Barat. Pada 2025, tercatat 192 risiko tindak pidana per 100.000 penduduk. 

Pada periode tersebut, polisi menerima 2.675 laporan kejahatan. Jika dihitung, tindak pidana di Kota Bandung terjadi rata-rata setiap 2,2 jam.

Sebelumnya, Wali Kota Bandung Muhammad Farhan menyebut sejumlah titik di Kota Bandung memiliki pencahayaan kurang memadai. Menurutnya, kondisi tersebut menjadi perhatian serius Pemerintah Kota Bandung karena berkaitan langsung dengan rasa aman masyarakat.

”Kalau soal jalan yang gelap, saya akui kita memang sedang mengolah anggaran sedemikian rupa agar bisa segera terang benderang kembali,” kata Farhan, Senin, 20 Juli 2026. 

Farhan menargetkan seluruh lampu penerangan di sepanjang Jalan Soekarno-Hatta sudah berfungsi pada triwulan IV 2026. Jalan tersebut menjadi salah satu prioritas karena dinilai sebagai kawasan yang rawan tindak kriminal.

”Saya juga setiap malam sangat khawatir terutama di Jalan Soekarno-Hatta, termasuk kawasan flyover dan sekitarnya. Itu salah satu titik yang rawan, demikian juga kawasan Kiaracondong. Bahkan, saya sendiri pernah ikut mengamankan kelompok pelaku begal di wilayah tersebut,” ujar Farhan.

(Silvana Febiari)