Profil Saif al-Islam Gaddafi, Putra Eks Pemimpin Libya yang Tewas Ditembak

Saif al-Islam Gaddafi. (Anadolu Agency)

Profil Saif al-Islam Gaddafi, Putra Eks Pemimpin Libya yang Tewas Ditembak

Willy Haryono • 4 February 2026 08:37

Tripoli: Saif al-Islam Gaddafi, putra dari eks pemimpin Libya Muammar Gaddafi, dilaporkan tewas ditembak mati di kota Zintan, menurut keterangan koresponden kantor berita Al Jazeera, Rabu, 4 Februari 2026.

Sebelumnya, sumber yang dekat dengan keluarga dan pengacara Khaled el-Zaydi juga telah mengonfirmasi kematian Saif al-Islam.

Sebelum pemberontakan Libya pada 2011, Saif al-Islam dipandang oleh banyak pihak sebagai pewaris kekuasaan ayahnya sekaligus orang terkuat kedua di Libya.

Ia tetap menjadi figur menonjol sepanjang kekerasan yang melanda Libya setelah gelombang protes Arab Spring yang berujung pada perang saudara. Berbagai tuduhan diarahkan kepadanya, termasuk penyiksaan dan kekerasan ekstrem terhadap para penentang rezim ayahnya.

Pada Februari 2011, namanya masuk dalam daftar sanksi Perserikatan Bangsa-Bangsa dan ia dilarang bepergian ke luar negeri.

Satu bulan setelahnya, NATO mulai membombardir Libya setelah PBB mengesahkan penggunaan “semua langkah yang diperlukan” untuk melindungi warga sipil dari pasukan Gaddafi dalam perang saudara.

Pada Juni 2011, Saif al-Islam mengumumkan bahwa ayahnya bersedia menggelar pemilu dan mundur jika tidak memenangkannya. Namun, NATO menolak tawaran tersebut dan serangan udara terhadap Libya terus berlanjut.

Pada akhir Juni 2011, Mahkamah Pidana Internasional (ICC) mengeluarkan surat perintah penangkapan terhadap Saif al-Islam. Meski demikian, ia tetap buron hingga setelah kematian ayahnya dan saudaranya, Mutassim, di Sirte pada 20 Oktober 2011.

Masa Hukuman Penjara

Setelah negosiasi panjang dengan ICC yang menuntut ekstradisinya, otoritas Libya diberi kewenangan untuk mengadili Saif al-Islam di dalam negeri atas dugaan kejahatan perang yang dilakukan selama pemberontakan 2011.

Pada saat itu, tim pengacaranya khawatir persidangan di Libya tidak didorong oleh keadilan, melainkan oleh keinginan balas dendam. PBB memperkirakan hingga 15.000 orang tewas dalam konflik tersebut, sementara Dewan Transisi Nasional Libya menyebut jumlah korban bisa mencapai 30.000 orang.

Pada 2014, Saif al-Islam menghadiri persidangan di pengadilan Tripoli melalui sambungan video karena saat itu ia dipenjara di Zintan. Pada Juli 2015, pengadilan Tripoli menjatuhkan hukuman mati secara in absentia terhadapnya.

Namun, pada 2017, ia dibebaskan oleh Brigade Abu Bakr as-Siddiq, sebuah milisi yang menguasai Zintan, sebagai bagian dari amnesti yang dikeluarkan oleh otoritas Libya di wilayah timur yang tidak diakui secara internasional.

Meski demikian, ia tidak muncul ke publik selama bertahun-tahun dan tetap menjadi buronan ICC. Pada Juli 2021, Saif al-Islam memberikan wawancara langka kepada The New York Times, di mana ia menuduh otoritas Libya “takut terhadap pemilu”.

Menjelaskan keberadaannya yang tersembunyi, ia mengatakan telah “menjauh dari rakyat Libya selama 10 tahun”.
“Anda harus kembali secara perlahan, perlahan. Seperti striptease,” ujarnya.

Pada November 2021, ia akhirnya tampil di depan publik untuk pertama kalinya dalam beberapa tahun di kota Sebha, tempat ia mendaftarkan diri sebagai calon presiden Libya, dalam upaya menghidupkan kembali ambisi para pendukung lama ayahnya.

Awalnya, ia dilarang mengikuti pemilu, namun kemudian diizinkan kembali. Namun, pemilu tersebut tidak pernah terlaksana akibat situasi politik Libya yang bergejolak, dengan dua pemerintahan rival saling berebut kekuasaan.

Wajah 'Progresif'

Saif al-Islam, yang menempuh pendidikan di Barat dan dikenal fasih berbicara, selama bertahun-tahun menampilkan wajah progresif dari pemerintahan Libya yang represif. Ia meraih gelar doktor dari London School of Economics pada 2008. Disertasinya membahas peran masyarakat sipil dalam mereformasi tata kelola global.

Ia dikenal luas karena seruannya untuk reformasi politik dan perannya yang sangat menonjol dalam upaya memperbaiki hubungan Libya dengan Barat sejak tahun 2000 hingga pecahnya pemberontakan 2011.

Namun, London School of Economics kemudian menuai kecaman karena menjalin hubungan dengan rezim Libya, termasuk menerima Saif al-Islam sebagai mahasiswa, yang menandatangani kesepakatan sumbangan sebesar 2,4 juta dolar AS dari Gaddafi International Charity and Development Foundation pada hari wisuda doktornya.

Sebagai negosiator dan figur berpengaruh di tingkat internasional, Saif al-Islam terlibat dalam sejumlah peran penting. Ia memainkan peran krusial dalam negosiasi nuklir Libya dengan negara-negara Barat, termasuk Amerika Serikat dan Inggris.

Ia juga terlibat dalam perundingan kompensasi bagi keluarga korban pemboman Lockerbie, serangan klub malam di Berlin, serta pengeboman pesawat UTA Flight 772 yang meledak di atas Gurun Sahara.

Selain itu, ia memediasi pembebasan enam tenaga medis, lima di antaranya warga Bulgaria, yang dituduh menularkan HIV kepada anak-anak di Libya pada akhir 1990-an. Para tenaga medis tersebut dipenjara selama delapan tahun sejak 1999 dan, setelah dibebaskan, menyatakan bahwa mereka mengalami penyiksaan selama penahanan.

Saif al-Islam juga mengajukan sejumlah gagasan lain, termasuk proposal “Isratine," sebuah solusi satu negara sekuler untuk menyelesaikan konflik Israel–Palestina secara permanen. Ia juga pernah menjadi tuan rumah perundingan damai antara pemerintah Filipina dan pimpinan Moro Islamic Liberation Front, yang menghasilkan perjanjian damai pada 2001. (Kelvin Yurcel)

Baca juga:  Putra Mendiang Pemimpin Libya Muammar Gaddafi Tewas Ditembak

Jangan lupa ikuti update berita lainnya dan follow  akun
Google News Metrotvnews.com
(Willy Haryono)