BI Ogah Ubah Proyeksi, Pertumbuhan Ekonomi Global Tahun Ini Masih 3,0%

Ilustrasi. Foto: dok Metrotvnews.com

BI Ogah Ubah Proyeksi, Pertumbuhan Ekonomi Global Tahun Ini Masih 3,0%

Husen Miftahudin • 18 June 2026 15:37

Jakarta: Bank Indonesia (BI) masih enggan mengubah proyeksi pertumbuhan ekonomi global pada 2026 di level 3,0 persen, seiring naiknya tekanan inflasi menjadi 4,4 persen di sepanjang tahun ini.

"Pertumbuhan ekonomi dunia tahun 2026 diprakirakan tetap rendah sebesar 3,0 pesen dan diikuti naiknya tekanan inflasi menjadi sekitar 4,4 persen," ungkap Gubernur BI Perry Warjiyo dalam Pengumuman Hasil RDG Bulanan Periode Juni 2026, Rabu, 18 Juni 2026.

Dijelaskan lebih lanjut, proyeksi bank sentral ini ditetapkan di tengah ketidakpastian global akibat perang di Timur Tengah yang tetap tinggi, meskipun sedikit mereda setelah dilakukannya interim deal antara Amerika Serikat (AS)-Iran pada 14 Juni 2026.

Perang yang telah berlangsung sejak akhir Februari 2026 telah menimbulkan gangguan produksi, distribusi, dan rantai pasok perdagangan antarnegara serta menurunkan prospek perekonomian global.

Di sisi lain, sejumlah bank sentral mulai menaikkan suku bunga kebijakannya untuk merespons kenaikan inflasi tersebut. Suku bunga kebijakan moneter AS, Fed Funds Rate, saat ini dipertahankan pada level 3,75 persen dan ke depan terdapat kemungkinan akan naik seiring dengan prospek inflasi AS yang lebih tinggi.
 

Baca juga: Perkuat Stabilitas Rupiah, BI Rate Naik Lagi 25 Bps Jadi 5,75%


(Gubernur BI Perry Warjiyo dalam Rapat Dewan Gubernur Bulanan. Foto: Tangkapan layar YouTube BI)
 

Investor global masih pilih aset aman


Sementara itu, imbal hasil (yield) US Treasury tetap tinggi mencapai 4,49 persen (tenor 10 tahun) dan 4,18 persen (tenor dua tahun) pada 17 Juni 2026 didorong oleh defisit fiskal yang membesar. Indeks dolar AS terhadap negara maju (DXY) dan negara berkembang (ADXY) tetap kuat. 

"Akibatnya, preferensi penempatan investor global ke negara Emerging Markets (EMs) belum kuat dan beralih ke aset aman (safe-haven assets) di negara maju," papar Perry.

Ke depan, lanjut Perry, perkembangan negosiasi antara AS dan Iran terkait kesepakatan penyelesaian konflik di Timur Tengah diperkirakan masih dinamis.

"Sehingga memerlukan kewaspadaan serta penguatan respons dan sinergi kebijakan fiskal dan moneter guna memperkuat ketahanan eksternal, menjaga stabilitas, dan mendorong pertumbuhan ekonomi domestik," papar Perry.

(Husen Miftahudin)