Inovasi Hilirisasi dan Riset BRIN Dorong Kemandirian Produk Desa

Ilustrasi kemandirian desa. Foto: Dok. Istimewa.

Inovasi Hilirisasi dan Riset BRIN Dorong Kemandirian Produk Desa

Fachri Audhia Hafiez • 16 September 2026 21:22

Jakarta: Pendampingan riset dalam penerapan pada teknologi hilirisasi dinilai penting. Sehingga, inovasi yang dihasilkan dapat langsung diterapkan secara praktis dan terintegrasi oleh kelompok usaha masyarakat.

"Teknologi hilirisasi yang didampingi riset harus memberikan solusi praktis dan terintegrasi sehingga hasil riset dapat diimplementasikan langsung oleh kelompok usaha," ujar pendiri Yayasan Indonesia Setara (YIS) Sandiaga Salahuddin Uno dalam siaran tertulis, Rabu, 16 September 2026.
 


Sandiaga menilai, penguatan teknologi dan inovasi berbasis penelitian sangat krusial untuk mendorong kemandirian serta daya saing para pelaku usaha daerah. Langkah ini sekaligus menjadi stimulus dalam membuka lapangan kerja baru berbasis potensi lokal.

Dorongan tersebut diwujudkan melalui Program Desa Emas (Desa Ekonomi Maju dan Sejahtera) di Kabupaten Kuningan, Jawa Barat, yang digagas YIS bersama Yayasan Inovasi Teknologi Indonesia (Inotek) dan pemerintah daerah setempat. Program ini berfokus memperkuat konsep One Village One Product (OVOP) melalui pelatihan hilirisasi bekerja sama dengan Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN).

General Manager Yayasan Inotek Dewi Suryani menyampaikan, sebanyak 52 peserta dari delapan kelompok usaha dibekali ragam teknik pengolahan bahan pangan lokal, seperti pemanfaatan limbah biji durian menjadi tepung, pembuatan mi dari tepung singkong, hingga pengemasan tutut menggunakan teknologi retort demi memperpanjang masa simpan.

"Kami berharap setelah kegiatan ini berakhir akan ada produk yang kemudian diuji, diperbaiki, dihitung kelayakan bisnisnya, dikembangkan kemasannya, diuji pasarnya dan kemudian benar-benar diproduksi serta dipasarkan," tutur Dewi.


Ilustrasi kemandirian desa. Foto: Dok. Istimewa.

Di sisi lain, Kasubid Sosial Budaya dan Pemerintahan Bappeda Kabupaten Kuningan Jajang Setiadi menilai pendekatan OVOP menuntut pengembangan kapasitas sumber daya manusia secara berkesinambungan agar produk lokal mampu bersaing di pasar global.

"Setidaknya OVOP memiliki tiga karakteristik, yaitu adanya produk lokal yang berpotensi bisa go global, adanya kreativitas masyarakat dalam pengolahan produk secara mandiri, dan terjadinya peningkatan kapasitas sumber daya manusia," jelas Jajang.

Senada, periset BRIN Dr. Hari Hariadi mengimbau para pelaku usaha untuk mengadopsi teknologi pengawetan agar tidak terus-menerus bergantung pada penjualan bahan baku segar yang rentan fluktuasi harga.

"Kami sangat senang melakukan riset dari bahan-bahan lokal yang ada di Indonesia. Jadi, kita tidak perlu bersaing dengan negara luar dalam hal peralatan, tetapi kita punya novelty dari bahan baku lokal yang belum tentu mereka miliki namun dapat kita jual," kata Hari.

(Fachri Audhia Hafiez)