Apa yang Harus Dilakukan saat Gempa? Simak Panduan Teknik Evakuasinya

Gempa bumi ilustrasi. Dok Medcom.id

Apa yang Harus Dilakukan saat Gempa? Simak Panduan Teknik Evakuasinya

Arga Sumantri • 16 September 2026 14:37

Jakarta: Gempa bumi dapat terjadi di berbagai wilayah Indonesia tanpa bisa diketahui secara pasti kapan guncangan terjadi. Kondisi tersebut membuat masyarakat perlu mengetahui langkah keselamatan dan teknik evakuasi yang tepat untuk mengurangi risiko saat gempa berlangsung.

Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) menjelaskan memang terjadinya gempa bumi tidak dapat diprediksi, tetapi masyarakat dapat mengurangi risikonya dengan memahami langkah keselamatan. Salah satu panduan BMKG saat berada di dalam bangunan yakni menerapkan Drop, Cover, Hold On, yaitu merunduk, berlindung di bawah benda yang kuat, lalu bertahan sambil berpegangan hingga guncangan berhenti.

Mengutip laman resmi Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Bogor, masyarakat juga dikenalkan dengan teknik yang disebut 'Segitiga Kehidupan' atau Triangle of Life untuk melindungi diri saat gempa. Teknik tersebut dikaitkan dengan Doug Copp, Kepala Penyelamat dan Manajer Bencana dari American Rescue Team International (ARTI).

BPBD Bogor menjelaskan beberapa langkah yang dapat dilakukan untuk mengurangi risiko saat gempa, termasuk menyesuaikan posisi tubuh dengan kondisi bangunan dan lokasi seseorang berada. 

Lantas, seperti apa teknik evakuasi yang dapat dilakukan saat gempa dan bagaimana cara melindungi diri? Simak selengkapnya berikut ini.

Teknik Evakuasi Saat Gempa

Teknik Triangle of Life menjelaskan posisi berlindung di samping benda besar yang dapat menciptakan ruang kosong ketika bangunan mengalami keruntuhan. Namun, dalam panduan keselamatan gempa, BMKG menganjurkan masyarakat menerapkan Drop, Cover, Hold On serta menjauhi benda yang berpotensi jatuh.

Dalam panduan BPBD Bogor, terdapat beberapa teknik yang dapat dilakukan untuk melindungi diri saat gempa. Berikut sejumlah teknik yang tercantum dalam panduan tersebut:

Posisi Meringkuk

Saat gempa terjadi, ambil posisi meringkuk di samping benda besar seperti sofa atau benda lain yang dapat remuk sebagian. Posisi tersebut disebut dapat menyisakan ruang kosong yang bisa digunakan untuk melindungi diri ketika bangunan mengalami keruntuhan.

Bangunan dari Kayu

Bangunan berbahan kayu disebut memiliki tingkat keamanan lebih baik karena materialnya bersifat lentur dan dapat bergerak mengikuti guncangan. Jika bangunan runtuh, material kayu dinilai dapat membentuk lebih banyak ruang kosong karena memiliki lebih sedikit bagian berat.

Berguling dari Tempat Tidur

Jika sedang berada di tempat tidur ketika gempa terjadi, bergulinglah ke sisi tempat tidur. Panduan tersebut menyebut bagian samping tempat tidur dapat menjadi ruang kosong yang lebih aman ketika material bangunan berjatuhan.

Meringkuk di Sebelah Sofa

Jika tidak dapat keluar melalui jendela atau pintu, berbaringlah dalam posisi meringkuk di samping sofa atau kursi besar. Posisi ini disebut dapat memanfaatkan ruang kosong yang terbentuk di sekitar benda besar.

Gempa ilustrasi. Foto: Dok Metrotvnews.com

Jangan Berlindung di Belakang Pintu

Masyarakat disarankan tidak berdiri atau berlindung di belakang pintu saat gempa terjadi. Jika pintu dan bagian bangunan di sekitarnya runtuh, orang yang berada di belakangnya dapat tertimpa material bangunan.

Jangan Berlari Melalui Tangga

Hindari berlari menggunakan tangga ketika guncangan masih berlangsung. Tangga dapat bergerak berbeda dari struktur utama bangunan sehingga berisiko mengalami kerusakan atau runtuh ketika terjadi guncangan.

Berdiri di Dekat Dinding Paling Luar

Jika kondisi memungkinkan, berada di dekat dinding paling luar bangunan atau di bagian luar bangunan. Panduan tersebut menyebut area di luar bangunan dapat lebih aman dibandingkan berada di dalam bangunan yang berpotensi runtuh.

Jangan Berlindung di Dalam Kendaraan

Masyarakat juga disarankan tidak berlindung di dalam kendaraan ketika gempa terjadi. Kendaraan dapat tertimpa apabila jalan atau bangunan di atasnya runtuh dan menimpa kendaraan.

Meski demikian, teknik evakuasi perlu disesuaikan dengan situasi dan kondisi di lokasi kejadian. BMKG mengarahkan masyarakat yang berada di dalam bangunan untuk melindungi kepala dan badan, mencari tempat yang aman dari reruntuhan, serta keluar apabila kondisi masih memungkinkan.

Langkah Setelah Gempa Bumi Berhenti

Setelah gempa bumi berhenti, masyarakat yang berada di dalam bangunan perlu keluar dengan tertib dan menggunakan tangga biasa, bukan lift. Masyarakat juga perlu memeriksa apakah ada orang yang terluka dan memberikan pertolongan pertama jika diperlukan.

BMKG mengingatkan masyarakat untuk memeriksa kondisi lingkungan setelah gempa, termasuk kemungkinan kebakaran, kebocoran gas, arus pendek, serta kerusakan pada aliran dan pipa air. Jika terdapat kondisi yang membahayakan, masyarakat diminta mengambil langkah pengamanan seperti mematikan listrik dan tidak menyalakan api.

Masyarakat juga diminta tidak memasuki bangunan yang sudah terdampak gempa karena masih terdapat kemungkinan reruntuhan. Selain itu, hindari berjalan di sekitar daerah gempa karena gempa susulan masih mungkin terjadi.

Untuk mendapatkan informasi yang benar, masyarakat diminta mendengarkan informasi mengenai gempa dan kemungkinan gempa susulan melalui sumber resmi. BMKG juga mengingatkan masyarakat agar tidak mudah terpancing isu atau berita yang tidak jelas sumbernya.

BMKG dalam panduan keselamatannya menekankan pentingnya tetap tenang saat gempa dan melakukan perlindungan diri dengan tepat. “Jangan panik” serta lakukan Drop, Cover, Hold On menjadi bagian dari langkah keselamatan yang dianjurkan saat guncangan berlangsung.

Masyarakat juga dapat mengisi angket yang diberikan instansi terkait untuk membantu mengetahui tingkat kerusakan akibat gempa. Panduan BMKG turut mengingatkan masyarakat untuk tidak panik dan tetap berdoa demi keamanan serta keselamatan bersama.

(Angel Rinella)

(Arga Sumantri)