BKSDA Kalsel Ungkap 12 Bekantan Mati Akibat Kebakaran Habitat

Sebanyak 12 bekantan mati terdampak karhutla. ANTARA-HO/MC-Diskominfokalsel

BKSDA Kalsel Ungkap 12 Bekantan Mati Akibat Kebakaran Habitat

Whisnu Mardiansyah • 18 September 2026 19:00

Banjarbaru: Sebanyak 12 bekantan (Nasalis larvatus) ditemukan mati setelah terdampak kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Desa Balimau, Kecamatan Kalumpang, Kabupaten Hulu Sungai Selatan, Kalimantan Selatan.

Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Kalimantan Selatan langsung mengerahkan tim penyelamat satwa atau wildlife rescue setelah menerima laporan kematian bekantan di kawasan tersebut.

Kepala BKSDA Kalsel Agus Ngurah Krisna Kepakisan mengatakan, tim diterjunkan untuk memastikan kondisi di lokasi sekaligus menindaklanjuti laporan kematian satwa dilindungi tersebut.

"Kami langsung memerintahkan tim penyelamat satwa untuk turun ke lokasi kejadian di Desa Balimau, Kecamatan Kalumpang, Kabupaten Hulu Sungai Selatan, guna melakukan pengecekan lapangan,” katanya di Banjarbaru, seperti dilansir Antara, Jumat, 18 September 2026.

Tim kemudian berkoordinasi dengan pemerintah desa dan masyarakat setempat sebelum melakukan penyisiran di sepanjang aliran sungai. Dari kegiatan tersebut, petugas menemukan 12 bekantan yang terdampak kebakaran.

Agus mengatakan hasil pemeriksaan di lapangan menunjukkan seluruh bekantan tersebut telah mati akibat terbakar. Bangkai satwa kemudian dikuburkan dengan disaksikan kepala desa dan masyarakat setempat.

“Dari informasi awal, bekantan yang menjadi korban ada 10 ekor. Namun setelah dilakukan pengecekan lapangan ternyata ada 12 ekor yang terdampak. Tim pun melakukan pemeriksaan dan memastikan bahwa satwa tersebut benar-benar mati terbakar, kemudian dikuburkan bersama dengan disaksikan oleh kepala desa beserta masyarakat,” jelasnya.
 


32 Bekantan Lain Ditemukan Masih Hidup

Karhutla di kawasan tersebut membakar lahan dengan luas kurang lebih sembilan hektare. Dalam penelusuran di sekitar lokasi, tim BKSDA juga menemukan kelompok bekantan lain yang masih bertahan hidup.

“Dijumpai ada 32 bekantan dari kelompok yang sama yang masih hidup. Mereka berada di tempat lain, di sisi berbeda dari lokasi kebakaran,” tutur Agus.

Berdasarkan keterangan kepala desa serta hasil peninjauan petugas, sumber api diduga berasal dari luar kawasan habitat bekantan. Api kemudian terbawa angin kencang dan merambat hingga mencapai habitat satwa tersebut pada sore menjelang malam.

“Dari keterangan kepala desa, api itu memang bukan berasal dari desa setempat. Api diduga berasal dari tempat lain yang terbawa angin hingga merembet masuk ke area habitat bekantan ini,” ucap Agus.

Masyarakat bersama pemerintah desa selama ini melakukan sejumlah upaya untuk menjaga kawasan habitat bekantan. Salah satunya dengan memasang papan peringatan sejak 2016.

Kegiatan pelestarian lingkungan di kawasan tersebut juga didokumentasikan dan disebarluaskan melalui media sosial oleh masyarakat setempat.


Tim BKSDA Kalsel menunjukkan seekor bekantan yang tewas dari total 12 ekor yang terbakar akibat kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Desa Balimau, Kabupaten Hulu Sungai Selatan, Kalimantan Selatan. ANTARA/HO-BKSDA Kalsel


BKSDA Kalimantan Selatan menyatakan keprihatinan atas kematian 12 bekantan akibat karhutla. Bekantan merupakan satwa yang dilindungi sekaligus salah satu ikon Kalimantan Selatan.

Agus mengajak berbagai pihak, termasuk pemerhati lingkungan, untuk terlibat dalam menjaga keberadaan satwa dan habitatnya di Kalimantan Selatan.

“Kami juga prihatin dan sangat terpukul, apalagi bekantan ini merupakan satwa yang dilindungi dan menjadi ikon Kalimantan Selatan. Kami mengharapkan para pemerhati lingkungan dapat bekerja sama menjaga satwa-satwa yang ada di Kalsel,” kata Agus.

Berdasarkan catatan BKSDA Kalsel, jumlah populasi bekantan di Kalimantan Selatan pada 2025 diperkirakan mencapai sekitar 3.700 individu.

Sekitar sepertiga populasi berada di kawasan konservasi. Sementara sekitar dua pertiga lainnya hidup di luar kawasan konservasi, termasuk hutan produksi, hutan lindung, dan Areal Penggunaan Lain (APL).

Sebanyak 12 bekantan yang mati akibat karhutla di Balimau berada di kawasan APL yang merupakan tanah milik desa setempat.

BKSDA Kalsel berkomitmen melanjutkan pendataan terhadap kawasan APL yang menjadi habitat satwa liar. Langkah tersebut ditujukan untuk memperkuat pemantauan terhadap habitat bekantan yang berada di luar kawasan konservasi.

Pendataan akan dilakukan bersamaan dengan sosialisasi kepada pemerintah desa. BKSDA juga akan mengoptimalkan peran pusat penyelamatan satwa melalui layanan call center.

Selain itu, BKSDA mendorong penetapan area preservasi baru berbasis resor sebagai bagian dari upaya memperkuat perlindungan habitat satwa liar.

Langkah tersebut diarahkan untuk menjaga habitat satwa liar yang berada di luar kawasan konservasi dengan tetap mempertahankan status kepemilikan tanah masyarakat.

(Whisnu M)