Dubes Iran Klaim Stabilitas Ekonomi, Sebut Protes Diprovokasi Pihak Luar

Duta Besar Iran untuk Indonesia, Mohammad Boroujerdi. Foto: Metrotvnews.com

Dubes Iran Klaim Stabilitas Ekonomi, Sebut Protes Diprovokasi Pihak Luar

Muhammad Reyhansyah • 19 January 2026 23:06

Jakarta: Pemerintah Iran menyebut sanksi internasional sebagai faktor utama di balik memburuknya kondisi ekonomi yang memicu gelombang demonstrasi nasional sejak Desember lalu. Teheran mengklaim situasi kini berangsur terkendali seiring dengan langkah-langkah pemerintah dalam mengelola krisis ekonomi.

Duta Besar Iran untuk Indonesia, Mohammad Boroujerdi mengatakan, anjloknya nilai tukar rial menjadi pemicu awal kekhawatiran masyarakat, khususnya pelaku usaha, yang kemudian berujung pada aksi unjuk rasa.

“Penyebab utama dari masalah ekonomi dan situasi ekonomi Iran adalah sanksi,” kata Boroujerdi saat ditemui awak media di Jakarta, Senin, 19 Januari 2026.

Menurut Boroujerdi, demonstrasi pada awalnya berlangsung secara damai sebagai bentuk protes terhadap kondisi ekonomi. Ia menyebut pemerintah tidak mempermasalahkan aksi damai tersebut.

“Setelah depresiasi besar nilai mata uang, sejumlah pelaku usaha merasa khawatir dan ingin menyampaikan protes secara damai kepada pemerintah. Itu tidak menjadi masalah,” ujar Dubes Boroujerdi.
 


Namun, Boroujerdi menuding adanya pihak-pihak dari luar negeri yang memprovokasi situasi sehingga aksi protes berubah menjadi kekerasan. Ia menilai provokasi tersebut bertujuan memperburuk stabilitas domestik Iran.

“Kami mengetahui bahwa ada pihak-pihak yang diprovokasi dari luar untuk memperkeruh situasi,” jelasnya.


Protes warga Iran menuntut perbaikan ekonomi. Foto: Press TV

Boroujerdi menyatakan pemerintah Iran saat ini telah menyiapkan sejumlah rencana untuk mengelola kondisi ekonomi dan meredam ketegangan di dalam negeri. Meski tidak merinci langkah-langkah tersebut, ia mengeklaim situasi keamanan telah membaik.

“Saat ini, situasi sudah sangat tenang dan perdamaian telah kembali ke jalanan dan ke seluruh negeri,” tegas Boroujerdi.

Ia menambahkan bahwa intensitas protes domestik kini menurun signifikan. Meski demikian, Iran masih menghadapi tekanan eksternal, terutama dari Amerika Serikat (AS) dan Israel.

Sebelumnya, demonstrasi di Iran pecah sejak Desember 2025 setelah nilai tukar rial anjlok ke titik terendah sepanjang sejarah. Aksi yang bermula dari tuntutan ekonomi itu kemudian meluas menjadi seruan kebebasan politik, dengan unjuk rasa terjadi di berbagai kota.

Lembaga pemantau hak asasi manusia berbasis di Amerika Serikat, Human Rights Activists News Agency (HRANA), Sabtu lalu melaporkan jumlah korban tewas akibat gelombang demonstrasi tersebut telah mencapai 3.308 orang, dengan 4.382 kasus kematian lainnya masih dalam proses peninjauan. 

HRANA juga mencatat lebih dari 24.000 orang telah ditangkap oleh aparat keamanan Iran sejak protes berlangsung.

Jangan lupa ikuti update berita lainnya dan follow  akun
Google News Metrotvnews.com
(Fajar Nugraha)