Ilustrasi KBBI. Foto: MI.
Ini Sejarah Pembentukan KBBI
Despian Nurhidayat • 23 January 2026 22:59
Jakarta: Kepala Pusat Pengembangan dan Pelindungan Bahasa dan Sastra, Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa (Badan Bahasa) Dora Amalia, menceritakan mengenai sejarah Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI). KBBI mulai disusun pada 1974-1983.
“KBBI dulu namanya kamus bahasa Indonesia disusun dari 1974-1983. Kemudian dilanjutkan dengan penambahan kata besar menjadi KBBI. Awalnya jumlah entri baru 62 ribu. 1991 bertambah 10 ribu entri menjadi 72 ribu. Pada 2008 menjadi 90 ribu. Sampai saat ini atau per 5 Januari 2026 menjadi 210.595 entri,” kata Dora dalam Taklimat Media di Kantor Badan Bahasa, Sentul, Jawa Barat, Jumat, 23 Januari 2026.
Menurut dia, KBBI hadir dan disusun tidak dari nol. Tapi kompilasi dari tiga kamus yaitu Kamus Indonesia oleh Sutan Harahap, Kamus Umum Bahasa Indonesia karya W.J.S. Poerwadarminta, dan Kamus Modern Bahasa Indonesia oleh Sutan Mohammad Zain.
“Sejak 2016 KBBI sudah melakukan penyuntingan tidak menggunakan kertas. Ini dipenuhi dengan berbagai macam fitur. Kami juga punya KBBI braile pada 2018. Kami juga sempat meluncurkan KBBI berbasis audio yaitu KBBI Disnetra. Kemudian KBBI juga hadir dalam bentuk luring dan dimutakhirkan pada Januari 2026 ini,” tutur Dora.
“Dari pemutakhiran Oktober 2025 ada penambahan entri baru 3.259, penambahan makna baru 136, contoh baru 1, ubah entri 2.550, ubah makna 1.987, ubah contoh nama 107, entri nonaktif 363, makna nonaktif 9, dan contoh nonaktif 1,” kata Dora
Sementara itu, Kepala Badan Bahasa, Hafidz Muksin, mengatakan bahwa penyusunan dan pembahasan KBBI dilakukan di kantor Badan Bahasa yang terletak di Sentul, Bogor, Jawa Barat.

Ilustrasi KBBI. Foto: MI.
“KBBI disusun dan dibahas di wilayah kantor ini. Kerja kreatif dilakukan di tempat sunyi ini.
Kami ingin menyampaikan juga bahwa di sini lah tempat untuk membahas upaya pemartabatan bahasa Indonesia termasuk penginternasionalan bahasa Indonesia,” ujar Hafidz.
Hafidz menyampaikan, Pusat Pemberdayaan Bahasa dan Sastra juga terus melakukan upaya langkah strategis untuk menjadikan bahasa Indonesia sebagai bahasa internasional.
"Semoga bahasa Indonesia sudah menjadi bahasa internasional sejak menjadi bahasa yang digunakan dalam sidang umum UNESCO,” ujar Hafidz.