Keselamatan Lalu Lintas Ditekankan dalam Pengukuhan Guru Besar UI

Prof. Martha Leni Siregar saat pidato pengukuhan guru besar di Balai Sidang Universitas Indonesia, Rabu, 11 Februari 2026. Dokumentasi/ istimewa

Keselamatan Lalu Lintas Ditekankan dalam Pengukuhan Guru Besar UI

Deny Irwanto • 14 February 2026 07:18

Depok: Keselamatan transportasi dinilai hanya dapat terwujud melalui kerja sama seluruh pihak dengan tujuan yang sama, yakni menghadirkan jalan yang aman bagi semua pengguna. Pesan tersebut disampaikan Martha Leni Siregar dalam pidato pengukuhan guru besar di Balai Sidang Universitas Indonesia, Rabu, 11 Februari 2026.

“Di Indonesia, tantangan besar datang dari banyaknya jenis kendaraan dan perbedaan kecepatan antar kendaraan. Kondisi lalu lintas yang beragam ini membuat risiko kecelakaan semakin tinggi. Karena itu, dibutuhkan sistem yang menyeluruh untuk mengatur perbedaan kecepatan," kata Martha saat pengukuhan dikutip, Jumat, 13 Februari 2026.

Dalam paparannya, Martha mengungkapkan data Integrated Road Safety Management System (IRSMS) menunjukkan angka kecelakaan lalu lintas di Indonesia masih tinggi, dengan lebih dari 150 ribu kejadian per tahun dan 27.364 korban meninggal pada 2024. Meski tren menurun sejak program Dekade Aksi Keselamatan Jalan 2011–2020, kondisi tersebut tetap memerlukan perhatian berkelanjutan.

Martha memperkenalkan konsep Visi Nol Fatalitas sebagai pendekatan untuk menekan korban jiwa di jalan raya. Konsep ini menegaskan bahwa tidak boleh ada kematian akibat kecelakaan lalu lintas, dengan fokus pada perancangan sistem transportasi yang mempertimbangkan batas toleransi fisik manusia saat terjadi benturan.


Prof. Martha Leni Siregar saat pengukuhan guru besar di Balai Sidang Universitas Indonesia, Rabu, 11 Februari 2026. Dokumentasi/ istimewa

Menurutnya semakin tinggi kecepatan kendaraan, semakin besar risiko fatalitas. Karena itu, pengaturan dan pengendalian kecepatan menjadi komponen inti dalam sistem transportasi berkeselamatan. Desain jalan dan rekayasa lalu lintas perlu memastikan kendaraan bergerak dalam batas yang masih dapat ditoleransi tubuh manusia.

Pendekatan yang didorong adalah langkah proaktif berbasis pencegahan, bukan hanya penanganan setelah kecelakaan terjadi. Sistem harus dirancang untuk mengantisipasi kesalahan manusia, bukan semata menyalahkan pengguna jalan.

"Kita harus menggeser paradigma keselamatan secara fundamental menuju pendekatan yang berorientasi pada pencegahan cedera fatal. Kecepatan yang berkeselamatan harus ditempatkan sebagai prinsip inti dalam perencanaan, desain, dan pengelolaan sistem transportasi. Keselamatan transportasi harus dilihat sebagai produk sistem transportasi, sehingga segala usaha menekan kecelakaan dilakukan dalam kerangka Sistem Berkeselamatan secara proaktif untuk mengarah ke nol fatalitas," jelas Martha.

Gelar Guru Besar Tetap Bidang Ilmu Keselamatan Transportasi diberikan sebagai pengakuan atas kontribusi akademik dan risetnya di bidang keselamatan berkendara. Sejumlah penelitian yang telah dihasilkannya antara lain kajian efektivitas pesan keselamatan sabuk pengaman, penggunaan Variable Message Signs (VMS), serta penanda tambahan di persimpangan untuk meningkatkan keselamatan.

Jangan lupa ikuti update berita lainnya dan follow  akun
Google News Metrotvnews.com
(Deny Irwanto)