Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi. (Anadolu Agency)
Abaikan Ancaman AS, Iran Tegaskan Tak Akan Hentikan Pengayaan Uranium
Willy Haryono • 9 February 2026 12:59
Teheran: Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi menegaskan bahwa Teheran tidak akan pernah menghentikan program pengayaan uranium dalam negosiasi dengan Amerika Serikat (AS).
Araghchi mengatakan bahwa Iran tidak akan terintimidasi oleh ancaman perang maupun pengerahan kekuatan militer AS di kawasan tersebut.
"Mengapa kami sangat bersikeras pada pengayaan dan menolak untuk menghentikannya, bahkan jika perang dipaksakan kepada kami? Karena tidak ada yang berhak mendikte perilaku kami," ujar Araghchi dalam sebuah forum di Teheran, seperti dikutip Channel News Asia, Senin, 9 Februari 2026.
Ia juga menambahkan bahwa kehadiran kapal induk USS Abraham Lincoln di Laut Arab tidak menyurutkan posisi tawar negaranya.
Amerika Serikat dan Iran telah membuka kembali jalur negosiasi di Oman sejak Jumat lalu. Ini merupakan pertemuan perdana pasca-konflik bersenjata antara Israel dan Iran pada Juni tahun lalu. Iran menuntut pencabutan sanksi ekonomi AS sebagai imbalan atas langkah-langkah pembangunan kepercayaan terkait program nuklirnya.
AS dan Israel mendesak agar perundingan mencakup pembatasan rudal balistik dan dukungan Iran terhadap kelompok bersenjata regional. Iran secara tegas menolak poin-poin tersebut masuk dalam agenda.
Presiden Donald Trump baru saja menandatangani perintah eksekutif mengenai pengenaan tarif bagi negara yang tetap berbisnis dengan Iran, serta sanksi baru terhadap entitas perkapalan yang membantu ekspor minyak Teheran.
Araghchi meragukan keseriusan AS dalam berdiplomasi mengingat sanksi dan tindakan militer terus ditingkatkan selama proses negosiasi berlangsung.
Tim negosiator AS, Steve Witkoff dan Jared Kushner, dilaporkan mengunjungi kapal induk USS Abraham Lincoln untuk menekankan pesan perdamaian melalui kekuatan. Di sisi lain, Israel melalui Menteri Luar Negeri Gideon Saar memperingatkan bahaya rezim ekstrem yang berusaha memperoleh senjata paling berbahaya di dunia.
Perundingan ini juga berlangsung di tengah gejolak domestik Iran. Otoritas Teheran baru saja merilis data korban jiwa akibat kerusuhan antipemerintah yang pecah akhir Desember lalu.
Pemerintah Iran mengklaim 3.117 orang tewas, namun organisasi kemanusiaan internasional seperti HRANA melaporkan angka yang jauh lebih tinggi, yakni mencapai 6.961 jiwa dengan lebih dari 51.000 orang ditangkap.
Pemerintah Iran saat ini terus melakukan konsultasi intensif dengan mitra strategisnya, China dan Rusia, guna menentukan kelanjutan langkah diplomasi di tengah tekanan ekonomi dan militer yang kian meningkat dari pihak Barat. (Kelvin Yurcel)
Baca juga: Iran Ancam Serang Pangkalan Militer AS di Teluk Persia Jika Diserang