Banjir bandang yang melanda Nepal diduga dipicu es yang mencair. Foto: ABC Australia
Ilmuwan Sebut Banjir Bandang di Nepal Diduga Dipicu Bongkahan Es yang Cair
Fajar Nugraha • 27 August 2026 08:53
Calgary: Penilaian awal terhadap citra satelit mengindikasikan adanya longsoran es dari gletser di ketinggian yang memicu aliran deras raksasa menuju lembah di bawahnya.
Banjir mematikan yang melanda Nepal pada Rabu 26 Agustus 2026 kemungkinan dipicu sebagian oleh bongkahan es raksasa yang lepas dari gletser dan meluncur turun ribuan kaki ke lembah di bawahnya, menurut penilaian awal sekelompok ahli geologi dan glasiologi.
"Tampaknya sebuah gletser di wilayah tersebut patah secara bersih, sehingga jatuh sejauh lebih dari satu kilometer secara vertikal hingga ke dasar lembah," ujar Daniel Shugar, seorang ahli geologi dari University of Calgary di Kanada yang menganalisis citra satelit untuk memahami peristiwa tersebut.
"Bagian bawahnya tampak seperti bekas ledakan bom, itu hanyalah tumpukan material dari gletser yang hancur," kata Shugar, seperti dikutip dari The New York Times, Kamis 27 Agustus 2026.
Namun, ia menyatakan bahwa masih terlalu dini untuk mengesampingkan faktor-faktor lain di balik banjir bandang tersebut.
Setidaknya 157 orang dilaporkan tewas dan ratusan lainnya hilang di Nepal dan wilayah Tibet (Tiongkok) setelah air bah menerjang lembah sungai pada Rabu pagi waktu setempat. Para ilmuwan mengatakan bahwa kenaikan suhu akibat perubahan iklim mungkin telah mempercepat keruntuhan gletser tersebut, namun mereka menambahkan bahwa masih terlalu dini untuk menentukan penyebab pastinya.

Hantaman banjir bandang di Nepal. Foto: ABC Australia
Di seluruh wilayah Himalaya yang suhunya meningkat pesat, mencairnya gletser menciptakan risiko baru yang berbahaya; longsoran es dan gempa bumi dapat memicu kehancuran dengan melepaskan aliran air yang sangat deras.
“Pada Rabu, bongkahan es selebar sekitar 600 meter lepas secara bersih dari gletser,” kata Dr. Shugar, mengirimkan campuran es dan air ke dasar lembah.
Berdasarkan penilaiannya, bongkahan es tersebut jatuh dari ketinggian sekitar sekitar 5.180 meter dan turun sejauh hampir sekitar 1.220 meter.
"Ini adalah bongkahan es besar yang tersimpan di ketinggian pegunungan, yang memiliki energi potensial sangat besar," kata Simon Cook, seorang ahli glasiologi dari University of Dundee di Skotlandia yang juga terlibat dalam analisis satelit tersebut.
Saat bongkahan itu lepas, tambahnya, kekuatan dahsyat dari jatuhan tersebut menghancurkan es menjadi campuran berbahaya yang bergerak cepat.
"Es itu hancur lebur menjadi air," ujarnya.
Berdasarkan analisis kelompok tersebut, peristiwa runtuhnya gletser terjadi sekitar 40 mil di utara Kathmandu, dan aliran es bergerak ke arah barat laut menyusuri lembah menuju Sungai Bhote Koshi, di perbatasan antara Nepal dan wilayah Tibet, Tiongkok.
Dr. Cook mengatakan bahwa peristiwa longsoran es ini mengingatkan pada kejadian serupa di India pada 2021, ketika sebuah gletser di Himalaya runtuh dan menyebabkan banjir besar di negara bagian Uttarakhand, India utara, yang menewaskan lebih dari 100 orang.
Kristen Cook, seorang ahli geomorfologi di Université Grenoble Alpes di Prancis, mengatakan bahwa alat pendeteksi seismik setempat menunjukkan adanya massa besar yang tiba-tiba bergerak menuruni lereng di wilayah tersebut sekitar pukul 08.40 pagi waktu setempat. Pergerakan itu segera diikuti oleh sinyal aliran yang mengindikasikan terjadinya banjir.
"Saya melihat sinyal yang cukup besar pada awal peristiwa, namun bentuknya tidak menyerupai gempa bumi," ujar Cook.
"Ketika kami menggabungkan data ini dengan pengetahuan kami mengenai wilayah tersebut serta citra satelit, kami sampai pada kesimpulan awal bahwa peristiwa ini kemungkinan besar merupakan longsoran batuan dan es yang berubah menjadi aliran saat bergerak ke hilir,” imbuh Cook.

Kehancuran akibar terjangan banjir bandang di Nepal. Foto: TRT World
United States Geological Survey (USGS) awalnya mencatat adanya gempa bumi berkekuatan magnitudo 4,4 di wilayah tersebut pada waktu yang berdekatan. Namun, lembaga tersebut kemudian menyimpulkan bahwa peristiwa longsor itu sendirilah yang memicu sinyal seismik yang sebelumnya dilaporkan sebagai gempa bumi. Di situs webnya, USGS menyatakan bahwa kekuatan longsor tersebut tercatat memiliki magnitudo 5,2.
Meskipun data cuaca lengkap belum tersedia, Dr. Shugar mengatakan bahwa citra satelit menunjukkan hilangnya lapisan salju pada hari sebelumnya; hal ini mengindikasikan suhu yang lebih hangat yang mungkin telah mencairkan gletser dan berkontribusi pada terjadinya longsoran es tersebut.
Dr. Shugar menambahkan bahwa kondisi langit yang mendung menyebabkan citra satelit terkini belum lengkap, dan pemahaman para ilmuwan mengenai penyebab banjir tersebut akan menjadi lebih jelas dalam beberapa hari mendatang.
Ia juga mengatakan bahwa masih terlalu dini untuk mengesampingkan faktor-faktor penyebab lainnya.
"Volume air yang terlihat dalam video sangat mencengangkan, jumlahnya jauh lebih besar bahkan berkali-kali lipat dibandingkan bencana gletser serupa yang terjadi baru-baru ini. Sangat mungkin ada faktor penyebab lain dalam peristiwa ini,” pungkas Dr. Shugar.