Polisi mendatangi lokasi penembakan massal di area Pantai Bondi, Sydney, Australia, 14 Desember 2025. (Anadolu Agency)
Mengapa Filipina Jadi Sorotan dalam Kasus Penembakan Pantai Bondi?
Muhammad Reyhansyah • 17 December 2025 22:03
Manila: Di tengah upaya otoritas Australia menelusuri motif dan jejaring dua pelaku penembakan Pantai Bondi yang menewaskan 15 orang, terungkap bahwa keduanya sempat melakukan perjalanan ke Filipina sekitar satu bulan sebelum serangan. Fakta tersebut kini menjadi fokus penting dalam penyelidikan kontra-terorisme.
Pejabat menyebut kedua pelaku, ayah dan anak bernama Sajid dan Naveed Akram, mengunjungi Filipina selatan, kawasan yang memiliki sejarah panjang terkait aktivitas kelompok militan Islam. Mereka berada di negara tersebut hampir selama sebulan dan kembali ke Australia sekitar dua pekan sebelum melakukan serangan di pantai ikonik Sydney yang menyasar perayaan komunitas Yahudi. Setelah insiden, aparat menemukan bendera Islamic State (ISIS) buatan sendiri di dalam kendaraan para pelaku.
Hingga kini, otoritas belum mengungkap secara rinci tujuan perjalanan tersebut, lokasi yang dikunjungi, maupun aktivitas yang dilakukan selama berada di Filipina. Polisi menegaskan penyelidikan masih berlangsung dan belum ada kesimpulan resmi mengenai keterkaitan langsung perjalanan itu dengan serangan.
Mengutip CNN, Rabu, 17 Desember 2025, Kepolisian New South Wales menyatakan bahwa perjalanan ke Filipina tidak memicu peringatan keamanan pada saat itu. “Alasan mereka pergi ke Filipina, tujuan perjalanan tersebut, dan ke mana mereka pergi selama berada di sana masih dalam tahap penyelidikan,” kata kepolisian pada Selasa.
Salah satu pelaku, Naveed Akram, diketahui pernah diperiksa badan keamanan dalam negeri Australia enam tahun lalu terkait kedekatannya dengan sel ISIS berbasis di Sydney. Namun, saat itu ia tidak dinilai sebagai ancaman. Kini, otoritas kontra-terorisme Australia meyakini keduanya kemungkinan menjalani pelatihan bergaya militer selama berada di Filipina, sebagaimana dilaporkan penyiar publik ABC.
Para pakar menilai Filipina, meski tingkat terorismenya menurun, masih memiliki kelompok militan aktif, terutama di wilayah selatan seperti Mindanao. “Sejak era Al Qaeda, Filipina kerap dipandang sebagai ‘akademi terorisme’ di Asia karena faktor geografis dan keberadaan kelompok militan yang memungkinkan pelatihan,” ujar Rommel Banlaoi, Ketua Philippine Institute for Peace, Violence and Terrorism Research.
Pemerintah Filipina menyatakan telah berkoordinasi dengan aparat Australia. Menteri Luar Negeri Filipina Theresa P. Lazaro menulis di platform X bahwa negaranya mendukung upaya melindungi masyarakat dari intoleransi, kebencian, dan kekerasan.
Wilayah Mindanao sendiri telah lama dilanda konflik, bahkan sebelum serangan 11 September 2001. Kawasan dengan mayoritas penduduk Muslim itu kerap menjadi lokasi bentrokan antara aparat keamanan dan kelompok separatis bersenjata. Menurut akademisi Deakin University, Greg Barton, faktor sejarah marginalisasi, ketimpangan ekonomi, serta kondisi geografis yang sulit dijangkau turut menciptakan lingkungan subur bagi ekstremisme.
Aktivitas militan di Filipina tidak hanya terjadi di wilayah hutan, tetapi juga di kawasan perkotaan. Kota pesisir Davao, yang disebut sebagai salah satu tujuan perjalanan para pelaku, dikenal sebagai titik pertemuan, perencanaan, pendanaan, dan pengaturan logistik bagi jaringan ekstremis, menurut Banlaoi.
Meskipun demikian, tingkat terorisme di Filipina tercatat menurun sejak diberlakukannya undang-undang antiterorisme pada 2020. Dalam Global Terrorism Index 2025, Filipina berada di peringkat ke-20 dari 79 negara, membaik signifikan dibanding posisi ke-9 pada 2019. Namun para pakar menegaskan ancaman belum sepenuhnya hilang karena sejumlah kelompok bersenjata masih aktif dan bersedia melakukan kekerasan.
Baca juga: Pelaku Penembakan Pantai Bondi Sempat Tinggal di Filipina sebagai Warga India