Uskup Agung Merauke, Mgr. Petrus Canisius Mandagi, MSC. Dok. Istimewa
Uskup Agung Merauke Bantah Narasi Negatif soal PSN Papua Selatan
Achmad Zulfikar Fazli • 25 May 2026 15:51
Jakarta: Uskup Agung Merauke, Mgr. Petrus Canisius Mandagi, MSC, membantah narasi negatif yang menyinggung sikap Keuskupan Agung Merauke terhadap Proyek Strategis Nasional (PSN) di Papua Selatan. Dalam sebuah video, Uskup Mandagi mengatakan isi narasi yang viral dalam sebuah film dokumenter tersebut bukan bentuk pandangan yang berimbang.
“Bagi saya film itu memang bersifat betul-betul provokatif. Tetapi dalam menonton jangan hilang otak kita, daya kritis kita. Apa tujuan dari film itu? Orang yang membuat film ini tidak tinggal di Papua,” kata Uskup Mandagi dalam keterangan video, dikutip pada Senin, 25 Mei 2026.
Dia menegaskan sejumlah narasi yang beredar terkait Keuskupan Agung Merauke tidak sesuai fakta. Menurut dia, narasi yang dikembangkan seolah-olah pihak keuskupan mendukung penuh PSN dan bekerja sama dengan perusahaan yang diduga merusak lingkungan di Papua Selatan.
“Dikatakan bahwa Keuskupan Agung Merauke menyetujui, menerima PSN. Keuskupan Agung Merauke, khususnya uskup menjual tanah. Keuskupan Agung Merauke, khususnya uskup bekerja sama dengan perusahaan-perusahaan yang menghancurkan katakanlah hutan Papua Selatan terlebih kelapa sawit, hutan sawit. Ini dan dikatakan juga bukan hanya kerja sama, tapi mendapat dana lagi. Jadi seolah-olah Keuskupan Agung Merauke sudah disuap,” ujar Uskup Mandagi.
Baca Juga:
Strategis, Food Estate Merauke Perkuat Ketahanan Pangan dan Infrastruktur |

Ilustrasi. Dok. Istimewa
Uskup Mandagi mempertanyakan alasan pihak pembuat dokumenter tidak meminta klarifikasi langsung kepada dirinya maupun para pastor di wilayah Merauke sebelum menampilkan narasi tersebut.
Dia mengaku sedih dengan isi pemberitaan mengenai Keuskupan Agung Merauke. Menurut dia, pihak-pihak yang ditampilkan dalam tayangan itu tidak memahami perjalanan dan peran gereja dalam mendampingi masyarakat di Papua Selatan.
Uskup Mandagi menilai narasumber yang ditampilkan juga dipilih berdasarkan kesamaan pandangan dengan pembuat tayangan dan pihak pendukungnya.
"Jadi ada apa-apa, cuma diminta ke orang-orang yang setuju, sealiran dengan sutradara, dan juga sealiran dengan pemberi dana. Barangkali itu cuma isu, pemberi dana," kata dia.