Editorial MI: Cegah Panik Amankan Mudik

Ilustrasi bahan bakar minyak (BBM). Foto: MI.

Editorial MI: Cegah Panik Amankan Mudik

Media Indonesia • 7 March 2026 05:38

TEPAT sepekan lalu, negara superpower Amerika Serikat (AS) bersama sekondannya, Israel, membombardir Iran. Serbuan itu menewaskan tidak hanya Pemimpin Tertinggi Iran, Ayatullah Ali Khamenei, tetapi juga ratusan masyarakat sipil dan anak-anak.

Serbuan yang berlangsung di hari kabisat tahun ini tersebut akhirnya berbuah pada serangan balik dari Iran. Pembalasan yang mungkin disayangkan, tetapi juga dapat dipahami.

Perang dikhawatirkan juga berlangsung berlarut-larut. Pasalnya, Iran juga menyerbu beberapa negara tetangganya untuk menyasar sejumlah pangkalan militer AS yang berada di kawasan Timur Tengah.

Selain itu, Iran mengerahkan Garda Republik Iran untuk menjaga Selat Hormuz. Padahal, sekitar 20% konsumsi harian minyak global, atau sekitar 20 juta barel, melintasi koridor tersebut. Termasuk Indonesia yang memenuhi 25% kebutuhan minyak mentah dari kawasan Timur Tengah, yang otomatis harus melewati Selat Hormuz. Akibatnya, meski Jakarta-Teheran berjarak lebih dari 7.000 kilometer, Indonesia pasti akan terdampak.

Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia memastikan stok BBM masih aman untuk 25 hari. Di samping itu, Indonesia sudah mengalihkan sebagian suplai minyak ke negara lain, termasuk AS.

Hanya, pemerintah tidak bisa menstok BBM terlalu banyak karena keterbatasan tempat penyimpanan atau storeage. Lazimnya, negara-negara di dunia memiliki stok BBM hingga 90 hari. Makanya, pemerintah pun segera mempersiapkan pembangunan storage agar bisa menampung suplai BBM untuk 3 bulan.

Di sisi lain, persoalan kebutuhan BBM juga menimbulkan kekhawatiran di masyarakat. Informasi mengenai keterbatasan stok BBM justru dimaknai sebagai aba-aba bagi publik untuk menimbun.

Ilustrasi bahan bakar minyak (BBM). Foto: Istimewa.

Kecenderungan panic buying merupakan sinyal peringatan dini bahwa masyarakat tidak hanya membutuhkan kalimat stok aman tanpa didukung oleh transparansi data dan pengawasan ketat di lapangan.

Ketidakpastian informasi adalah bahan bakar utama bagi kepanikan. Di sinilah letak urgensi kehadiran negara untuk memberikan rasa tenang melalui narasi yang solid dan sinkron antarlembaga.

Ketahanan energi bukan semata persoalan stok di tangki penyimpanan, melainkan juga menyangkut kemampuan pemerintah menjaga kepercayaan publik melalui kepastian informasi dan kesiapan kebijakan. Dalam situasi global yang dinamis, kejelasan sikap dan komunikasi pemerintah menjadi kunci untuk mencegah kepanikan. Hal yang paling krusial di depan mata ialah tradisi mudik Lebaran. Pada masa itu, mobilitas jutaan orang dalam waktu bersamaan terjadi dan membutuhkan kepastian pasokan energi yang luar biasa. Periode mudik selalu menjadi momentum dengan mobilitas masyarakat yang sangat tinggi.

Jutaan orang melakukan perjalanan dari kota-kota besar menuju daerah asal, sebagian besar menggunakan kendaraan pribadi maupun transportasi darat. Jangan sampai kegembiraan merayakan hari kemenangan dihantui rasa waswas akibat stok BBM yang mulai terbatas.

Kemelut Timur Tengah memberikan tekanan hebat pada rantai pasok energi global. Sebagai negara net importir minyak, Indonesia tentu terdampak. Namun, dampak tersebut seharusnya bisa dimitigasi jika strategi ketahanan energi berjalan di rel yang benar.

Jangan lupa ikuti update berita lainnya dan follow  akun
Google News Metrotvnews.com
(Anggi Tondi)