69 Bulan Beruntun, Neraca Dagang RI Surplus USD0,95 Miliar

Ilustrasi. Foto: Dok Metrotvnews.com

69 Bulan Beruntun, Neraca Dagang RI Surplus USD0,95 Miliar

Eko Nordiansyah • 2 March 2026 13:23

Jakarta: Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat neraca perdagangan barang Indonesia kembali mencetak surplus pada Januari 2026 sebesar USD0,95 miliar, yang memperpanjang tren surplus 69 bulan beruntun sejak Mei 2020.

Deputi Bidang Statistik Distribusi dan Jasa BPS Ateng Hartono menyampaikan surplus tersebut terutama ditopang oleh kinerja perdagangan nonmigas yang masih kuat, meski impor mengalami peningkatan cukup tinggi secara tahunan.

"Pada Januari 2026 neraca perdagangan barang Indonesia mengalami surplus sebesar USD0,95 miliar. Dengan capaian ini maka neraca perdagangan barang Indonesia mengalami surplus selama 69 bulan berturut-turut,” ujar Ateng dalam konferensi pers di Jakarta, dikutip dari Antara, Senin, 2 Maret 2026.


Menurut BPS, surplus tersebut berasal dari neraca perdagangan nonmigas yang mencatat surplus USD3,22 miliar, sementara neraca migas masih mengalami defisit sebesar USD2,27 miliar.

Ateng menyebut, komoditas utama penyumbang surplus nonmigas antara lain lemak dan minyak hewan nabati (HS15) dengan surplus USD3,10 miliar, bahan bakar mineral (HS27) sebesar USD2,16 miliar, serta besi dan baja (HS72) sebesar USD1,51 miliar.

Dari sisi kinerja perdagangan, BPS mencatat nilai ekspor Indonesia pada Januari 2026 mencapai USD22,16 miliar, meningkat 3,39 persen secara tahunan (year on year). Kenaikan tersebut terutama didorong oleh ekspor nonmigas yang tumbuh 4,38 persen menjadi USD21,26.

Ia menyampaikan pula, peningkatan ekspor nonmigas terutama berasal dari komoditas lemak dan minyak hewan nabati yang melonjak 46,05 persen, diikuti nikel dan barang daripadanya yang naik 42,04 persen, serta mesin dan perlengkapan elektronik yang meningkat 16,27 persen.

Impor naik cukup tinggi

Sementara itu, nilai impor Indonesia pada Januari 2026 mencapai USD21,20 miliar, naik cukup tinggi yakni 18,21 persen dibandingkan Januari 2025. Kenaikan impor itu terutama didorong oleh impor nonmigas.

"Nilai impor migas ini sebesar USD3,17 miliar atau meningkat 27,52 persen secara tahunannya. Selain itu impor nonmigas senilai USD18,04 miliar juga mengalami peningkatan secara tahunannya sebesar 16,71 persen," katanya.

BPS mencatat peningkatan impor terjadi pada seluruh kelompok penggunaan, terutama bahan baku atau penolong yang naik 14,67 persen, serta barang modal yang meningkat 35,32 persen.

Secara negara mitra dagang, Amerika Serikat menjadi penyumbang surplus terbesar bagi Indonesia sebesar USD1,55 miliar, diikuti India 1,07 miliar dolar AS, dan Filipina USD0,69 miliar.

Adapun defisit terdalam tercatat dengan Tiongkok sebesar USD2,47 miliar, kemudian Australia 0,96 miliar dolar AS, dan Prancis USD0,47 miliar.

Jangan lupa ikuti update berita lainnya dan follow  akun
Google News Metrotvnews.com
(Eko Nordiansyah)