Wakil Presiden ke-6 Try Sutrisno. Dok Metro TV.
Mengenang Kisah Perjuangan Try Sutrisno Kecil: Jual Air, Koran, Hingga Rokok
Arga Sumantri • 2 March 2026 12:52
Jakarta: Try Sutrisno masih ingat betul kesulitan hidup yang dia alami di masa kecil. Mengalami masa penjajahan Belanda, Try Sutrisno menjadi tulang punggung keluarga menggantikan ayahnya yang berjuang membela NKRI.
Kisah ini dibagikan Try Sutrisno dalam program The Legend yang tayang di Metro TV pada September 2025. Ketika berusia 10 tahun pada sekitar tahun 1945, ayah Try Sutrisno harus ikut bergabung dengan para pejuang.
"Saya hidup hanya dengan ibu dan dua adik saya. Perempuan dan laki-laki. Ibu saya tidak punya modal," cerita Try Sutrisno.
Perhiasan sang ibu juga sudah habis dijual untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari. Sebagai anak tertua, Try Sutrisno tebersit ingin membantu orang tua. Sadar tak ada modal banyak, Try Sutrisno memutar otak agar bisa menghasilkan uang.
"Karena tidak punya modal. Saya hanya beli kendi, tau kendi Pak. Anak itu. Itu yang saya beli. Saya berikan air. Saya jual di stasiun," ungkap Try Sutrisno.
"Bagus juga. Ada untung juga. Nah itulah untuk hidup sehari-hari," ujar Try Sutrisno.
Pendek cerita, Try Sutrisno dan keluarga harus mengungsi ke Kediri. Ia kemudian menjadi 'tobang' (pelayan) bagi para pejuang. Try Sutrisno bertugas membersihkan senjata dan melayani kebutuhan para tentara, yang membentuk karakternya melalui perjuangan dan disiplin sejak usia muda.
Try Sutrisno pun akhirnya bisa bertemu sang ayah yang ternyata juga bertugas di Kediri. Berbekal informasi dari para tentara, ia menyambangi sebuah pabrik gula dengan berjalan kaki.
"Saya ke sana. Jalan kaki Pak. Akhirnya ketemulah ayah saya di sana. Karena saya umur 11 tahun. Saya sudah mulai berpartisipasi lah," beber Try Sutrisno.

Dok Metro TV
Titik balik usai berkarier di Angkatan Darat
Setelah melalui masa perjuangan, Try Sutrisno memutuskan berkarier di Angkatan Darat. Ia sangat termotivasi dengan semangat juang tentara yang serba kekurangan dan keterbatasan biaya untuk melanjutkan pendidikan ke fakultas.Titik balik penting dalam kariernya ialah ketika ditunjuk menjadi ajudan Presien Soeharto. Sempat merasa aneh karena berasal dari jalur pasukan, ia mendapat nasihat penting dari mantan atasannya itu: "Be yourself" (jadi dirimu sendiri).
Try Sutrisno memanfaatkan posisinya sebagai tempat menempa sifat kepemimpinan. Ia selalu berdiskusi dan mengajukan pertanyaan kepada Presiden Soeharto, dari isu kabinet hingga tamu negara.
Ia mengakui lima tahun sebagai ajudan memberinya pengetahuan mendalam tentang lingkup kepemimpinan dan tugas-tugas pembangunan yang dilaksanakan Pak Harto.
Capaian karier tertinggi Try Sutrisno ketika Wakil Presiden (Wapres) ke-6 Republik Indonesia pada 1993 - sebuah jabatan yang tidak pernah ia cita-citakan setelah pensiun sebagai Panglima ABRI.
Sistem pemilihan Wapres saat itu berbeda dengan era modern; Try Sutrisno dipilih oleh fraksi-fraksi MPR dan kemudian disetujui Presiden terpilih, tanpa kampanye atau biaya. Sebagai Wapres, ia ditugaskan Presiden Soeharto di bidang Wasrik Pembangunan (Pengawasan dan Pemeriksaan Pembangunan).
Tugas ini ia jalankan secara terstruktur selama lima tahun. Selama 2,5 tahun pertama digunakan meninjau langsung pembangunan di seluruh provinsi, dan 2,5 tahun berikutnya digunakan melakukan pemeriksaan di tingkat pusat (kementerian), sebelum menyerahkan laporan kepada presiden