Pertumbuhan Global Melambat, Ekonomi Indonesia Diprediksi Tetap Tumbuh

Lead Economist PT Bank Danamon Indonesia Tbk Irman Faiz. Foto: dok Bank Danamon.

Pertumbuhan Global Melambat, Ekonomi Indonesia Diprediksi Tetap Tumbuh

Ade Hapsari Lestarini • 10 September 2026 07:19

Jakarta: Perekonomian Indonesia diproyeksikan tumbuh sekitar 5,2 persen pada 2026 di tengah perlambatan ekonomi global, tingginya harga energi, dan suku bunga global yang masih tinggi.

Lead Economist PT Bank Danamon Indonesia Tbk Irman Faiz mengatakan, pertumbuhan ekonomi Indonesia masih ditopang investasi, belanja pemerintah, aktivitas ekonomi domestik, serta kebijakan pemerintah yang mendorong aktivitas ekonomi nasional.

Investasi asing langsung (FDI) juga dinilai masih menunjukkan tren positif, terutama pada sektor hilirisasi, industri logam dasar, dan pengembangan pusat data yang mulai menjadi salah satu sumber pertumbuhan ekonomi baru.

"Perekonomian Indonesia masih memiliki fondasi yang cukup kuat untuk mempertahankan pertumbuhan di tengah berbagai tantangan global. Aktivitas investasi tetap menjadi penopang utama pertumbuhan, sementara peluang dari hilirisasi industri, ekonomi digital, dan pengembangan data center berpotensi menciptakan sumber pertumbuhan baru dalam jangka menengah hingga panjang," ujar Irman dalam Indonesia’s Economic Outlook 2026, dikutip dalam keterangan tertulis, Kamis, 10 September 2026.

Di tingkat global, pertumbuhan ekonomi diperkirakan melambat dari 3,5 persen pada 2025 menjadi tiga persen pada akhir 2026 sebelum kembali membaik pada 2027. Sementara itu, harga minyak yang sempat meningkat signifikan diperkirakan berangsur turun seiring penyesuaian pasokan global.

Meski demikian, Indonesia masih menghadapi sejumlah risiko eksternal. Defisit transaksi berjalan diperkirakan meningkat dibandingkan tahun sebelumnya akibat tingginya impor energi dan perlambatan ekonomi sejumlah mitra dagang utama.

Volatilitas pasar keuangan global serta perubahan arah kebijakan moneter negara maju juga berpotensi memengaruhi arus modal dan nilai tukar rupiah.


Asisten Direktur Departemen Pengembangan Pasar Keuangan Bank Indonesia Yansen Lokanata. Foto: dok Bank Danamon.
 

 

BI perkuat pasar valuta asing


Di tengah ketidakpastian global, Bank Indonesia terus memperkuat instrumen kebijakan untuk memperdalam pasar keuangan, khususnya pasar valuta asing domestik.

Asisten Direktur Departemen Pengembangan Pasar Keuangan Bank Indonesia Yansen Lokanata mengatakan sejumlah kebijakan telah diterapkan, antara lain pengembangan transaksi mata uang lokal (Local Currency Transaction), penyempurnaan ketentuan transaksi pasar valuta asing, serta implementasi Ketentuan Transaksi Pasar Valas Transaksi Lindung Nilai melalui Bank Mitra (VASTRA).

Kebijakan VASTRA dirancang untuk memperluas akses investor global terhadap instrumen lindung nilai rupiah di pasar domestik. Kebijakan tersebut juga ditujukan untuk meningkatkan likuiditas dan transparansi transaksi di pasar valuta asing.

"Pendalaman pasar valuta asing merupakan bagian penting dalam memperkuat ketahanan ekonomi nasional. Berbagai kebijakan yang terus disempurnakan Bank Indonesia bertujuan untuk meningkatkan efisiensi pasar, memperluas akses investor, serta mendorong terciptanya pasar keuangan yang lebih inklusif dan berdaya tahan dalam menghadapi dinamika global," ujar Yansen.

Dengan proyeksi pertumbuhan 5,2 persen pada 2026, investasi dan aktivitas ekonomi domestik masih menjadi penopang utama ekonomi Indonesia. Namun, perkembangan harga energi, arus modal, kondisi ekonomi global, dan arah kebijakan moneter negara maju tetap menjadi faktor yang perlu diperhatikan.

(Ade Hapsari Lestarini)