Bantu Iran, Yaman Berpotensi Tutup Selat Bab el-Mandeb Buntut Ancaman Blokade AS

Ilustrasi Selat Bab el-Mandeb. (Press TV)

Bantu Iran, Yaman Berpotensi Tutup Selat Bab el-Mandeb Buntut Ancaman Blokade AS

Dimas Chairullah • 14 April 2026 15:53

Jakarta: Yaman berpotensi mengambil langkah drastis dengan menutup Selat Bab el-Mandeb, jalur laut strategis yang menghubungkan Laut Merah dan Teluk Aden, di tengah meningkatnya ketegangan antara Amerika Serikat (AS) dan Iran.

Mengutip laporan Press TV, Selasa, 14 April 2026, analis senior International Crisis Group, Ahmed Nagi, menyatakan kelompok Houthi Ansarullah memiliki kapasitas untuk meningkatkan eskalasi di kawasan maritim tersebut.

Menurut Nagi, langkah ini dapat diambil sebagai respons terhadap rencana blokade AS terhadap pelabuhan Iran, sekaligus untuk meningkatkan tekanan terhadap pasar energi global.

“Jika AS memblokade pelabuhan Iran dan dampaknya mulai terasa, Houthi kemungkinan akan meningkatkan eskalasi di Bab el-Mandeb,” ujarnya.

Ia memperingatkan bahwa pembatasan jalur pelayaran di kawasan tersebut akan menambah tekanan besar terhadap industri pelayaran global.

Potensi eskalasi ini muncul hanya beberapa hari setelah diberlakukannya gencatan senjata sementara antara Iran dan pihak lawan, yang hingga kini masih dalam kondisi rapuh.

Keterlibatan Yaman

Sejauh ini, Yaman belum terlibat secara penuh dalam konflik. Namun, kelompok Houthi telah melancarkan sejumlah serangan ke Israel dan sebelumnya menerapkan blokade selektif terhadap kapal yang dianggap berafiliasi dengan AS dan sekutunya sejak konflik Gaza 2023.

Ketegangan meningkat setelah Presiden AS Donald Trump mengumumkan rencana pembatasan terhadap kapal yang keluar-masuk pelabuhan Iran. Teheran menolak langkah tersebut dan memperingatkan akan merespons jika wilayah perairannya dilanggar.

Para analis menilai, jika Bab el-Mandeb ikut ditutup sementara Iran memperketat kontrol di Selat Hormuz, maka dua jalur utama distribusi energi global akan terganggu secara bersamaan.

Kondisi ini berpotensi memicu lonjakan signifikan harga minyak dunia, yang sebelumnya sudah meningkat tajam sejak eskalasi konflik pada akhir Februari.

Selain itu, jalur Laut Merah yang selama ini menjadi rute alternatif ekspor minyak Arab Saudi juga dapat terdampak, memperbesar risiko gangguan pasokan energi global.

Perkembangan ini memperkuat kekhawatiran bahwa konflik di Timur Tengah tidak hanya berdampak regional, tetapi juga dapat memicu krisis ekonomi global jika jalur-jalur strategis tersebut terganggu.

Baca juga:  Yaman Ancam Eskalasi Militer Jika AS dan Israel Lanjutkan Perang terhadap Iran

Jangan lupa ikuti update berita lainnya dan follow  akun
Google News Metrotvnews.com
(Willy Haryono)