Nenek Kasidah, penjual tempe tradisional menjadi salah satu calon jemaah haji 2026
Menabung 14 Tahun, Nenek Kasidah Penjual Tempe Wujudkan Mimpi Berhaji Tahun Ini
Ahmad Mustaqim • 18 April 2026 21:57
Kulon Progo: Seorang perempuan bernama Kasidah, warga Desa Panjatan, Kecamatan Panjatan, Kabupaten Kulon Progo, Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY), menjadi salah satu calon jemaah haji yang dijadwalkan melaksanakan ibadah pada tahun 2026. Lansia berusia 75 tahun itu bisa berhaji setelah melalui proses panjang menabung dari usahanya berjualan tempe.
Nenek Kasidah, begitu ia disapa, merupakan penjual tempe yang dibungkus daun pisang. Usaha berjualan tempe yang ia jalankan ini tergolong skala kecil.
"Alhamdulillah, tahun ini bisa ke tanah suci," ujar Nenek Kasidah baru-baru ini.
Ia berjualan di sebuah pasar tradisional di Desa Panjatan. Setiap hari ke pasar, Nenek Kasidah mengayuh sepeda tuanya dengan membawa sebuah keranjang. Keranjang itulah yang berisi barang dagangan berupa tempe.
Saat pasar sudah mulai sepi, ia akan pulang. Menjelang sore harinya, Nenek Kasidah mencari daun pisang untuk membalut tempe-tempe yang akan dijual keesokan harinya. Nenek Kasidah menceritakan niatan untuk berhaji terpacu dari hatinya ketika ia berusia 35 tahun. Ia kemudian berpikir bagaimana membiayainya sambil tetap menafkahi tiga anaknya.
Saat masih muda, kedelai sebagai bahan baku tempe yang ia olah sekitar 10 kilogram. Jumlah itu berangsur menyusut hingga hanya mampu 5 kilogram kedelai saat ini. Dalam benaknya, Nenek Kasidah masih ingat awal mula menabung untuk haji dimulai dari Rp100. Tabungan itu ia simpan sendiri di rumah. Setelah berjalan bertahun-tahun, Nenek Kasidah membuka tabungan khusus untuk haji pada pertengahan tahun 2012.
"Nabung (di perbankan) mulai 2012. Nabungnya setiap 10 hari sekalinya," katanya.
Tahun berganti tahun, usia Kasidah bertambah hingga dipanggil Nenek. Meski begitu, Nenek Kasidah tidak patah semangat kendati usianya terus menua. Ia menceritakan bisa menyisihkan hasil keringatnya sekitar Rp100 ribu hingga Rp300 ribu untuk ditabung.
Selain berjualan tempe, Nenek Kasidah juga menjual sapu lidi sebagai tambahan. Ia mengatakan hasil berjualan sapu lidi tidak seberapa, tetapi bisa untuk tambahan rezeki. "Saya tidak gunakan tabungan (untuk berhaji) kalau ada keperluan mendesak," kata dia.
.jpg)
Niat besar disertai kegigihan usaha itu perlahan menemui hasil. Nenek Kasidah mengingat mendapatkan informasi bahwa dirinya akan masuk dalam daftar untuk berhaji pada periode 2024. Jadwal itu tertunda karena imbas pandemi covid-19 sehingga diundur menjadi 2026.
Nenek Kasidah semringah dengan kepastian itu. Persiapan dilakukan, baik dari penyelenggara haji (pemerintah) maupun secara pribadi. Secara pribadi, ia melatih fisik dengan berjalan kaki secara berkala.
Nenek Kasidah merupakan satu di antara ribuan calon jemaah haji yang akan diberangkatkan melalui embarkasi berbasis hotel Yogyakarta International Airport (YIA). Plt. Kepala Kanwil Kementerian Haji dan Umrah DIY, Jauhar Mustofa, menjelaskan tahun ini DIY memperoleh tambahan kuota sebanyak 601 jemaah. Dengan demikian, total kuota yang semula 3.147 meningkat menjadi 3.748 jemaah.
Secara keseluruhan, jumlah jemaah yang akan diberangkatkan dari DIY mencapai 3.830 orang, termasuk dukungan 62 petugas kloter yang terdiri dari PPIH dan Petugas Haji Daerah.
"Jemaah haji DIY tahun ini terbagi dalam 11 kelompok terbang (kloter). Dengan fasilitas embarkasi berbasis hotel, jemaah dapat beristirahat dengan lebih baik sebelum terbang ke Arab Saudi. Ini diharapkan mampu meningkatkan kualitas layanan haji secara keseluruhan," ujar Jauhar.
Embarkasi YIA tidak hanya menjadi titik keberangkatan calon jemaah haji asal DIY. Sebagian calon jemaah haji Jawa Tengah, khususnya dari Karesidenan Kedu, juga masuk dalam embarkasi tersebut.