Ballikpapan Dihuyur Hujan, BMKG: Alami, Tanpa Modifikasi Cuaca

Hujan yang dirindukan kembali hadir di Kota Balikpapan, setelah Jumat 4/9, hujan kembali turun di pagi Senin 7/9. ANTARA/novi abdi

Ballikpapan Dihuyur Hujan, BMKG: Alami, Tanpa Modifikasi Cuaca

Lukman Diah Sari • 7 September 2026 21:57

Balikpapan: Seluruh wilayah Kota Balikpapan, Kalimantan Timur, akhirnya diguyur hujan dengan intensitas ringan hingga sedang pada Senin, 7 September 2026. Turunnya air hujan ini sekaligus memecah cuaca panas dan kering yang melanda kota minyak tersebut sejak Juli lalu.

Prakirawan Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Balikpapan, Diyan Novriza, memastikan bahwa guyuran hujan yang berlangsung sejak pagi hingga menjelang siang tersebut murni merupakan fenomena alam tanpa intervensi teknologi.

“Hujan yang turun hari ini merupakan hujan alami. Tidak ada kegiatan modifikasi cuaca,” tegas Diyan di Balikpapan, Senin, 7 September 2026, melansir Antara.


Hujan yang dirindukan kembali hadir di Kota Balikpapan, setelah Jumat 4/9, hujan kembali turun di pagi Senin 7/9. ANTARA/novi abdi

Diyan menjelaskan, hujan merata ini dipicu oleh aktivitas gelombang tropis di sekitar atmosfer wilayah Kalimantan Timur. Dinamika tersebut sangat dipengaruhi oleh pergerakan Gelombang Kelvin yang secara signifikan meningkatkan potensi pembentukan awan hujan.

Menurut analisis BMKG, kondisi atmosfer pada pagi hari sangat mendukung pertumbuhan awan akibat akumulasi pemanasan sejak waktu subuh disertai suplai kelembapan udara yang cukup kuat, sehingga awan hujan berkembang dengan sangat cepat.

Berdasarkan pemantauan, hujan merata ini melintasi hampir seluruh kawasan kota, meliputi Balikpapan Utara, Balikpapan Tengah, Balikpapan Selatan, Balikpapan Barat, dan Balikpapan Timur. Intensitas hujan juga sempat membasahi kawasan pesisir seperti Sepinggan, Gunung Bahagia, Manggar, hingga Lamaru, sebelum akhirnya mereda menjelang waktu zuhur.

Sebagai catatan, Gelombang Kelvin merupakan gelombang energi yang terbentuk ketika wilayah tropis mengalami pemanasan dan konveksi besar, atau pergerakan udara hangat yang naik ke atmosfer atas.

Gangguan pemanasan tersebut menciptakan ketidakseimbangan tekanan udara yang memicu gelombang bergerak dari barat ke timur di sepanjang garis ekuator. Fenomena ini bersifat episodik dan umumnya aktif selama dua hingga tujuh hari sebelum melemah secara alami.

(Lukman Diah Sari)