Mojtaba Khamenei Ancam AS, Janjikan 'Pelajaran Tak Terlupakan' dari Iran

Pemimpin Tertinggi Iran Ayatollah Sayyed Mojtaba Khamenei. (Press TV)

Mojtaba Khamenei Ancam AS, Janjikan 'Pelajaran Tak Terlupakan' dari Iran

Willy Haryono • 19 July 2026 09:21

Teheran: Pemimpin Tertinggi Iran Mojtaba Khamenei mengancam akan memberikan "pelajaran tak terlupakan" kepada Amerika Serikat yang dituduhnya berulang kali melanggar nota kesepahaman (MoU) yang telah ditandatangani presiden kedua negara.

Menurutnya, dugaan pelanggaran tersebut menunjukkan bahwa tanda tangan Presiden AS Donald Trump saat ini sudah "tidak bernilai dan tak memiliki kredibilitas."

Melalui unggahan di platform media sosial X yang dikutip Anadolu Agency, Minggu, 19 Juli 2026, Khamenei menyatakan pelanggaran yang disebut dilakukan Amerika Serikat kembali memperlihatkan bahwa komitmen Washington terhadap kesepakatan tersebut tidak dapat dipercaya.

Ia juga menuduh pemaksaan, totalitarianisme, dan kekerasan sebagai bagian yang tidak terpisahkan dari doktrin Amerika Serikat.

Khamenei memperingatkan bahwa apabila Washington terus meningkatkan konflik, Amerika Serikat akan menghadapi "pelajaran yang tak terlupakan" dari rakyat Iran dan kelompok yang ia sebut sebagai "Front Perlawanan."

Menurutnya, persatuan seluruh masyarakat dan pejabat Iran menjadi hal yang penting untuk menjaga martabat serta kemerdekaan negara di tengah konfrontasi dengan Amerika Serikat.

Khamenei juga memuji para pejuang Iran dan warga di wilayah selatan negara itu yang disebutnya telah menunjukkan keberanian dalam beberapa hari terakhir.

Sementara itu, Presiden Iran Masoud Pezeshkian turut menyerukan persatuan nasional. Melalui akun X, ia mengatakan persatuan serta menghindari perpecahan menjadi kunci meraih kemenangan pada situasi yang disebutnya sebagai momen bersejarah.

Sebelumnya, Wakil Menteri Luar Negeri Iran Kazem Gharibabadi menyatakan Teheran telah menghentikan pelaksanaan komitmennya dalam nota kesepahaman tersebut setelah menilai Amerika Serikat melanggar kewajibannya.

Ketegangan di Timur Tengah terus meningkat seiring berlanjutnya aksi saling serang antara Amerika Serikat dan Iran.

Eskalasi militer itu terjadi meski kedua negara sebelumnya menandatangani nota kesepahaman yang dimediasi Pakistan pada Juni lalu. Kesepakatan tersebut bertujuan mengakhiri perang dan membuka jalan menuju perjanjian damai yang bersifat jangka panjang.

Baca juga:  AS Lancarkan Serangan Baru ke Iran usai Dua Tentaranya Tewas di Yordania

(Willy Haryono)