Menag: Tahun Baru Hijriah Momentum Transformasi Diri dan Sosial

Menteri Agama (Menag) Nasaruddin Umar. Dok. Kemenag

Menag: Tahun Baru Hijriah Momentum Transformasi Diri dan Sosial

Achmad Zulfikar Fazli • 16 June 2026 15:40

Jakarta: Menteri Agama (Menag) Nasaruddin Umar meminta umat Islam tidak sekadar memaknai Tahun Baru Islam 1 Muharram 1448 Hijriah sebagai peringatan peristiwa hijrahnya Rasulullah SAW dari Makkah ke Madinah, Arab Saudi. Dia mengajak umat Islam menjadikan Tahun Baru Islam 1 Muharram sebagai momentum bertransformasi diri dan sosial.

"Hijrah adalah transformasi sistem kemasyarakatan, dari masyarakat kabilah yang sempit dan primordial menuju masyarakat umat yang global, kosmopolitan, serta diikat oleh kasih sayang dan visi bersama," ujar Menag dalam keterangan tertulis, Selasa, 16 Juni 2026.

Hal itu disampaikan Menag saat memberi sambutan pada peringatan Malam Tahun Baru Islam 1 Muharam 1448 Hijriah di Masjid Istiqlal Jakarta. Kegiatan ini digelar Direktorat Jenderal Bimbingan Masyarakat Islam dalam rangkaian Peaceful Muharam.

Menag menjelaskan sebelum Islam hadir, masyarakat Arab didominasi sistem kabilah yang bertumpu pada hubungan darah dan kesukuan. Kehadiran Rasulullah SAW memperkenalkan konsep umat, yaitu komunitas yang melampaui batas-batas suku, ras, dan golongan.

Menurut dia, terdapat perbedaan mendasar antara berbagai bentuk komunitas sosial. Kabilah dibangun atas dasar hubungan darah, sya'abun berlandaskan ikatan keluarga besar, qawmun terbentuk melalui kesepakatan sosial dan organisasi, serta hizbun merujuk pada kelompok atau partai politik.

Menag mengatakan umat merupakan komunitas yang dipersatukan empat unsur sekaligus, yaitu kasih sayang, visi ke depan, kepemimpinan yang berwibawa, serta masyarakat yang santun dan taat dalam satu sistem kepemimpinan yang disebut imamah.

"Kalau keempat unsur itu ada dalam satu komunitas, barulah layak disebut umat," tegas Menag.

Baca Juga: 

Sambut 1 Muharam, Menag Ajak Masyarakat Jaga Persatuan


Suasana peringatan Malam Tahun Baru Islam 1 Muharam 1448 Hijriah di Masjid Istiqlal Jakarta. Dok. Kemenag

Di hadapan para jemaah, Menag mengajak umat Islam merefleksikan terhadap kondisi kehidupan sosial saat ini.

"Pertanyaannya sekarang, apakah masyarakat Islam Indonesia sudah bisa disebut umat? Atau kita masih terjebak dalam mentalitas kabilah, hizbun, kedaerahan, dan kelompok sendiri-sendiri?" kata Menag.

Menag menilai salah satu ciri masyarakat yang bermentalitas kabilah adalah tertutupnya akses kepemimpinan bagi pihak di luar kelompok tertentu. Sebaliknya, dalam masyarakat umat, kesempatan memimpin terbuka bagi siapa saja yang berkapasitas dan mendapat kepercayaan masyarakat, tanpa memandang latar belakang suku maupun jenis kelamin.

Menag mengingatkan keterbukaan saja tidak cukup. Persatuan, solidaritas sosial, dan kepedulian terhadap sesama harus terus diperkuat agar masyarakat benar-benar tumbuh sebagai umat yang kokoh.

Oleh karena itu, dia mengajak umat Islam menjadikan Tahun Baru Islam sebagai momentum meninggalkan sikap eksklusif yang hanya mementingkan kelompok sendiri, serta memperkuat semangat persaudaraan dan kebersamaan.

"Semoga komunitas Islam Indonesia sudah layak untuk kita sebut sebagai umat, komunitas sejati. Inilah hakikat hijrah yang sesungguhnya," ujar Menag.

(Achmad Zulfikar Fazli)