Agen ICE yang Tembak Warga AS Diberhentikan Sementara

Agen ICE yang melakukan kekerasan terhadap Alex Pretti. Foto: France 24

Agen ICE yang Tembak Warga AS Diberhentikan Sementara

Muhammad Reyhansyah • 29 January 2026 12:16

Minneapolis: Badan Bea Cukai dan Perlindungan Perbatasan Amerika Serikat (ICE) menyatakan dua agen yang terlibat dalam penembakan fatal terhadap seorang warga negara Amerika Serikat (AS) di Minneapolis telah ditempatkan dalam cuti administratif.

Korban, Alex Pretti, perawat unit perawatan intensif berusia 37 tahun, tewas ditembak pada Sabtu lalu. Insiden tersebut memicu gelombang protes baru di negara bagian Minnesota, kecaman luas di seluruh Amerika Serikat, serta seruan dari anggota parlemen lintas partai agar Menteri Keamanan Dalam Negeri (DHS) dicopot dari jabatannya.

Berdasarkan laporan awal DHS yang dikirim ke Kongres, dua petugas melepaskan tembakan ke arah Pretti saat terjadi pergumulan. Laporan itu berbeda dengan keterangan resmi awal yang menyebut Pretti diduga mengacungkan senjata api.

Baca Juga :

Konflik Agen Imigrasi AS dengan Aktivis Kembali Memanas di Minneapolis

Mengutip laporan BBC, Kamis, 29 Januari 2026, CBP mengatakan bahwa para agen telah dinonaktifkan dari tugas operasional sesuai dengan prosedur standar.

Umumnya, aparat penegak hukum federal yang terlibat dalam insiden penembakan akan tetap berada dalam status cuti hingga penyelidikan rampung. Namun, belum diketahui kapan cuti tersebut mulai diberlakukan dan berapa lama akan berlangsung.

Sebelumnya, pada Minggu, Komandan CBP Gregory Bovino sempat mengatakan kepada wartawan bahwa para agen masih bertugas, meski ditempatkan di kota lain.


Ketegangan Politik Minneapolis Memuncak

Dalam kasus terpisah, seorang agen Imigrasi dan Bea Cukai AS (ICE) yang menembak warga negara AS lainnya, Renee Good, juga berusia 37 tahun, pada 7 Januari di Minneapolis, turut ditempatkan dalam cuti administratif sambil menunggu hasil penyelidikan.

Presiden Donald Trump dalam beberapa hari terakhir menyatakan ingin melakukan “de-eskalasi” di Minneapolis, tempat DHS menjalankan Operasi Metro Surge sejak 1 Desember. Namun, pada Rabu, ia justru meningkatkan ketegangan verbal dengan Wali Kota Minneapolis, Jacob Frey.

Pada Selasa, Frey menulis di platform X bahwa kotanya tidak akan mengubah kebijakan sanctuary city yang membatasi kerja sama dengan penegakan imigrasi federal. Ia juga menyatakan telah menyampaikan kepada penasihat utama Trump bidang perbatasan, Tom Homan, bahwa “Minneapolis tidak dan tidak akan menegakkan hukum imigrasi federal.”

Trump merespons melalui Truth Social dengan menulis, “Bisakah seseorang di lingkaran dalamnya menjelaskan bahwa pernyataan ini merupakan pelanggaran hukum yang sangat serius, dan bahwa dia SEDANG BERMAIN API!”

Pada hari yang sama, Jaksa Agung Pam Bondi mengumumkan dirinya berada “di Minneapolis” dan menyatakan Departemen Kehakiman telah “menangkap 16 perusuh di Minnesota yang diduga menyerang aparat penegak hukum federal.” Ia menambahkan bahwa lebih banyak penangkapan diperkirakan akan menyusul.

Ancaman terhadap Pejabat

Anggota Kongres dari Minnesota, Ilhan Omar, yang juga mendesak agar petugas imigrasi meninggalkan kota, pada Rabu menyalahkan Trump atas meningkatnya ancaman terhadap dirinya. Pernyataan itu disampaikan setelah ia diserang dalam sebuah acara publik pada Selasa malam.

Pria yang dituduh mendekatinya dan menyemprotkan cairan tak dikenal telah didakwa atas tuduhan penyerangan tingkat tiga, menurut keterangan polisi. Media Alpha News melaporkan bahwa alat suntik yang diduga digunakan pelaku, Anthony Kazmierczak, berisi cuka sari apel. BBC menyatakan masih berupaya mengonfirmasi laporan tersebut.

Dalam konferensi pers, Omar, anggota DPR pertama keturunan Somalia-Amerika mengatakan, “Setiap kali presiden Amerika Serikat memilih menggunakan retorika penuh kebencian untuk membicarakan saya dan komunitas yang saya wakili, ancaman pembunuhan terhadap saya melonjak.”


Operasi Imigrasi Picu Polemik

DHS menyebut telah menangkap lebih dari 3.000 imigran ilegal di Minnesota dalam Operasi Metro Surge, termasuk pelaku kejahatan kekerasan, predator seksual, dan anggota geng. Operasi tersebut diklaim sebagai yang terbesar hingga saat ini, seiring upaya Trump memenuhi janji kampanyenya untuk memperketat penegakan imigrasi dengan mengerahkan agen DHS dan Garda Nasional ke berbagai kota di AS.

Langkah tersebut memicu protes dan tantangan hukum di sejumlah wilayah yang dipimpin Partai Demokrat, termasuk Chicago, Los Angeles, dan Portland, Oregon.

Di Minneapolis, seorang hakim federal pada Rabu memerintahkan pemerintah untuk membebaskan seluruh pengungsi yang ditangkap agen imigrasi saat masih menunggu dokumen izin tinggal permanen, serta memulangkan pengungsi yang telah dipindahkan keluar Minnesota.

Dalam putusan bernada keras, Hakim John Tunheim menyatakan para pengungsi tersebut “tidak melakukan kejahatan di jalan-jalan kami, dan juga tidak menyeberangi perbatasan secara ilegal,” seraya menegaskan bahwa Amerika Serikat selama ini dikenal sebagai “tempat perlindungan kebebasan individu.”


Versi Resmi Dipertanyakan

Tak lama setelah Pretti tewas, Menteri Keamanan Dalam Negeri Kristi Noem menuduhnya sebagai pelaku “terorisme domestik” dan menyebut ia “mengacungkan” senjata api. Namun, berdasarkan analisis video yang tersedia oleh BBC Verify, tidak terlihat adanya senjata di tangan Pretti.

Laporan awal DHS kepada Kongres menyebutkan bahwa Pretti dan para agen ICE terlibat pergumulan ketika seorang petugas berteriak bahwa Pretti memiliki senjata, sebelum dua agen kemudian menembaknya. Versi ini berbeda dengan pernyataan awal pemerintahan Trump yang menyebut tembakan dilepaskan sebagai tindakan defensif.

Situasi ini memicu desakan dari anggota parlemen Partai Republik dan Demokrat agar Noem serta penasihat utama Gedung Putih urusan imigrasi, Stephen Miller, dicopot dari jabatan. Pada Rabu, sejumlah anggota senior Partai Demokrat di DPR mengancam akan memulai proses pemakzulan terhadap Noem jika ia tidak mengundurkan diri atau diberhentikan.

Sementara itu, legislator dari kedua partai juga mulai membahas kemungkinan pemotongan anggaran DHS dalam rancangan belanja negara yang harus disahkan Kongres untuk mencegah penutupan pemerintahan pada 1 Februari.

Jangan lupa ikuti update berita lainnya dan follow  akun
Google News Metrotvnews.com
(Fajar Nugraha)