Harga Minyak Dunia Turun Lagi

Ilustrasi. Foto: Freepik.

Harga Minyak Dunia Turun Lagi

Husen Miftahudin • 28 January 2026 09:15

Houston: Harga minyak dunia turun pada perdagangan Selasa waktu setempat (Rabu WIB), karena investor menantikan pemulihan produksi yang diharapkan dari Kazakhstan, yang akan menghasilkan peningkatan pasokan kembali ke pasar.

Mengutip Yahoo Finance, Rabu, 28 Januari 2026, harga minyak mentah Brent berjangka turun hampir 0,7 persen menjadi USD64,35 per barel. Sementara harga minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) berjangka turun 0,6 persen menjadi USD60,29 per barel.

Kepala strategi komoditas ING Warren Patterson dan ahli strategi komoditas Ewa Manthey mengatakan kondisi cuaca beku di AS akibat badai musim dingin akan mengganggu produksi minyak negara tersebut.

"Ada juga tanda-tanda fase 'bulan madu' antara AS dan pemimpin baru Venezuela mungkin akan segera berakhir, dengan Presiden Delcy Rodriguez mengatakan Venezuela sudah muak dengan campur tangan AS," jelas mereka.

"Meskipun komentar-komentar ini mungkin lebih untuk konsumsi internal, namun tentu saja perlu diperhatikan, karena dapat mengubah prospek pasokan minyak Venezuela," sambung mereka.
 

Baca juga: Harga Minyak Mentah Global Tergelincir, Brent Kini Dijual USD65/Barel


(Ilustrasi pergerakan harga minyak. Foto: dok ICDX)
 

Produksi minyak Kazakhstan bakal pulih


Pada saat yang sama, Patterson dan Manthey menyoroti produksi minyak Kazakhstan akan pulih, dengan produsen Tengizchevroil memulihkan pasokan listrik ke ladang Tengiz.

Mereka menjelaskan operasi di ladang Tengiz dan Korolev Kazakhstan, yang menghasilkan sekitar 890 ribu barel per hari selama tiga kuartal pertama 2025, dihentikan minggu lalu karena masalah listrik.

Selain itu, Patterson dan Manthey mengatakan penyelesaian pekerjaan perbaikan di terminal Caspian Pipeline Consortium (CPC) juga akan mendukung pemulihan arus ekspor.

"Pemulihan arus pasokan ini seharusnya meningkatkan ketersediaan di pasar jangka pendek, sehingga memberi tekanan pada selisih harga Brent jangka pendek, yang telah menguat secara signifikan sepanjang Januari. Penguatan selisih harga ini bertentangan dengan perkiraan surplus minyak yang besar," papar mereka.

Jangan lupa ikuti update berita lainnya dan follow  akun
Google News Metrotvnews.com
(Husen Miftahudin)