Fenomena kemunculan api di salah satu rumah di Kabupaten Sleman. Dokumentasi UGM
Tim UGM Selidiki Fenomena Kemunculan Api di Rumah Warga Sleman
Media Indonesia • 2 June 2026 15:41
Sleman: Peristiwa kemunculan api secara misterius terjadi di sebuah rumah warga yang beralamat di Dusun Kasuran, Kalurahan Margomulyo, Kecamatan Seyegan, Kabupaten Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta. Fenomena ini mulai berlangsung sejak 23 Mei 2026.
Tim Pusat Kajian Pelambatan Entropi (PKPE), Fakultas Teknik, Universitas Gadjah Mada (UGM), telah mendatangi lokasi untuk melakukan pemantauan langsung guna meneliti faktor pemicu. Investigasi juga melibatkan sejumlah pakar dari Universitas Pembangunan Nasional Veteran, serta Balai Penyelidikan dan Pengembangan Teknologi Kebencanaan Geologi (BPPTKG) Daerah Istimewa Yogyakarta.
Pemilik rumah, Mutfiana, menceritakan kemunculan api terus bertambah dan telah mencapai 65 titik sejak hari pertama kejadian. Hingga Senin, 1 Juni 2026, api tercatat telah muncul sebanyak 73 kali.
"Dalam kurun waktu satu hari, api diperkirakan bisa muncul antara 7 hingga 9 kali di dalam rumah tersebut," ungkap Mutfiana di Sleman, dikutip Media Indonesia Selasa, 2 Juni 2026.
Tim dari UGM yang dipimpin oleh Prof Alva Edy Tontowi telah melakukan observasi perdana pada Sabtu, 30 Mei 2026, untuk memeriksa beberapa area yang pernah mengalami kebakaran, seperti jaringan pipa air, usia bangunan, saluran pembuangan limbah, serta lokasi-lokasi kemunculan api.
Alva menerangkan kemunculan api erat kaitannya dengan unsur-unsur dalam segitiga api yang saling berinteraksi. Unsur-unsur tersebut meliputi panas, oksigen, serta bahan bakar atau media yang mudah terbakar.
"Segitiga api itu posisinya masing-masing dalam kondisi optimum, dan di situlah api akan menyala," terang Alva.
Api menyala pada media-media yang mudah terbakar, seperti baju kaos, plastik, dan benda-benda lainnya. Tim pakar juga mendapatkan informasi bahwa lokasi pemukiman tersebut merupakan bekas rawa yang lembap dan kaya akan material organik, yang berpotensi menghasilkan gas metana dalam jumlah besar. Untuk itu, pengukuran lapangan menggunakan alat thermal gun dilakukan.
Dosen Departemen Teknik Geologi, Dr Sardju Winardi, menerangkan bahwa secara teori, air yang terkontaminasi metana tidak serta-merta terbakar saat masih berada di bawah permukaan tanah karena memerlukan kadar konsentrasi tertentu.
"Api akan muncul ketika air keluar ke permukaan dan berinteraksi dengan oksigen, kemudian metananya terlepas. Lepasnya metana dari air itulah yang menyebabkan terjadinya kebakaran," papar Sardju.

Ilustrasi kebakaran. Foto: Medcom.id
Selain air limbah dan gas metana, medan elektromagnetik di sekitar area rumah juga turut diteliti. Hasilnya, penyebab kemunculan titik api tersebut dipastikan bukan berasal dari unsur kelistrikan, karena dalam kondisi tertentu api memang dapat muncul secara spontan tanpa adanya aliran listrik sebagai pemicu.
Dalam kasus ini, lanjut Alva, air limbah diduga sebagai pemicu utama. Oleh karena itu, sampel air limbah, air dari pipa, serta air sumur warga dibawa untuk diidentifikasi lebih lanjut.
Ke depannya, sampel-sampel tersebut akan diidentifikasi untuk mengetahui dan mengenali sumber serta mekanisme terbentuknya api secara komprehensif dan objektif, berdasarkan hasil uji laboratorium, guna menentukan langkah mitigasi yang tepat.
Alva mengatakan pihaknya saat ini tengah melakukan uji laboratorium terhadap data observasi yang telah dikumpulkan oleh tim. Dalam waktu dekat, tim akan menyampaikan hasil uji ilmiah untuk mengetahui penyebab pasti kemunculan titik api di rumah warga tersebut.