BTNGM Catat Puluhan Pendaki Ilegal Nekat Terobos Merapi

Warga menyaksikan aktivitas guguran awan panas kecil Gunung Merapi di Balerante, Kemalang, Klaten, Jawa Tengah, Selasa (26/2/2019). ANTARA FOTO/Aloysius Jarot Nugroho/hp

BTNGM Catat Puluhan Pendaki Ilegal Nekat Terobos Merapi

Triawati Prihatsari • 16 July 2026 16:54

Boyolali: Balai Taman Nasional Gunung Merapi (BTNGM) menegaskan kawasan Gunung Merapi di Jawa Tengah dan Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) masih belum dibuka untuk pendakian. Masyarakat diharapkan tidak gegabah dengan tetap nekat melakukan pendakian.

Diketahui, sekelompok warga di kawasan Selo mengajukan permintaan untuk dibuka pendakian Gunung Merapi via Selo. Hal itu memantik reaksi pro dan kontra baik di masyarakat dan dunia maya.

"Kami itu bertindak sesuai dengan ketentuan BPPTKG. Kami sebenarnya juga ingin membuka jalur pendakian Merapi, tapi statusnya sampai saat ini masih berstatus siaga. Dan yang kami utamakan adalah keselamatan bersama," ungkap Kepala BTNGM, T. Heru Wibowo, usai Rakor Penanganan Pendakian di Kawasan TNGM, di Boyolali, Kamis, 16 Juli 2026.


Rakor Penanganan Pendakian di Kawasan Taman Nasional Gunung Merapi. Metrotvnews.com/ Triawati

Kendati ditutup sejak Mei 2018, ia mengakui masih banyak pelaku pendakian ilegal di Gunung Merapi. Ia mencatat, sejak akhir 2025 hingga Juni 2026 sebanyak 67 pendaki ilegal tercatat melakukan pendakian ke Gunung Merapi. 

"Kami bersama stakeholder terkait dan Pemda mencoba untuk mengimbau untuk tidak (mendaki), jangan dulu lah. Tapi memang masih banyak pendaki dari luar. Akan kita coba intensifkan di pos-pos penjagaan ke depan," ungkap Heru. 

Sementara itu, Kepala Balai Penyelidikan dan Pengembangan Teknologi Geologi (BPPTKG) Agus  Budi Santoso menegaskan rekomendasi penutupan jalur pendakian ke Gunung Merapi dilakukan berdasarkan kondisi gunung tersebut. Pasalnya, erupsi di Gunung Merapi masih terus terjadi sampai saat ini. 

Berdasarkan laporan harian pengamatan, aktivitas Merapi masih tergolong tinggi berupa erupsi efusif dengan status tetap Level III (Siaga). Potensi bahaya dalam level tersebut berupa guguran lava dan awan panas di sektor selatan-barat daya yang mengarah ke Sungai Boyong sejauh 7 kilometer serta Sungai Bedog, Krasak, dan Bebeng sejauh 3 kilometer. Serta di sektor tenggara potensi bahaya mengarah ke Sungai Woro sejauh 3 kilometer dan Sungai Gendol sejauh 5 kilometer.

"Prinsip bahaya di Merapi masih sama yakni dalam radius tiga kilometer untuk tidak diakses. Masih ada potensi erupsi eksplosif dimana bahayanya melingkar ke segala arah. Karena dia eksplosif bisa ke segala arah. Sekali erupsi memang akan ada arah dominan sesuai arah angin. Tapi pada prinsipnya ancaman bahaya ke segala arah, makanya sifatnya radius," tegas Agus. 

Di sisi lain, Asisten I Setda Kabupaten Boyolali Muhammad Arief Wardianta mengungkapkan, meski berharap pendakian Merapi dibuka kembali, Pemda menghormati lembaga berwenang dalam pengelolaan Gunung Merapi BTNGM dan BPPTKG. Terkait alasan ekonomi yang menjadi salah satu pertimbangan sekelompok warga Selo untuk pembukaan kembali jalur pendakian Merapi, Arief mengungkapkan bakal melakukan kajian terkait itu.

"Pemda menghormati Lembaga berwenang, enggak mungkin kita memaksakan. Kita ikut saja, harapannya memang dibuka, otomatis kan PAD akan ada, minimal parkir dan rumah makan. Tapi dengan kondisi yang sekarang masih belum memungkinkan. Kaitannya dengan ekonomi dan sebagainya, ya kita nanti coba kaji bersama bagaimana solusi untuk itu. Apakah ada program pemberdayaan, atau difasilitasi KUR. Bisa saja kan," ungkap Arief. 

(Lukman Diah Sari)